
Vara dan Adrian terdiam beberapa saat hingga keheningan mendominasi. Suasana siang itu matahari cukup terik, hingga hawa panas terasa menyengat.
"Apa kamu tau, Adrian? Bagaimana perasaanku selama ini menjalani hidup di dalam keluarga kamu?" tanya Vara dengan pandangan menunduk menatap gelas minuman yang berada di tangannya. Ia memainkan gelas tersebut, namun tatapan matanya kosong.
Adrian menoleh, ia memicingkan matanya, "sudah bertahun-tahun kita hidup bersama, Vara. Tak pernah sekalipun kamu membicarakan hal seperti ini. Kalau memang kamu nggak bahagia, kenapa kamu nggak bicara apa adanya sejak dulu? " jawab Adrian balik bertanya, heran juga ia dengan wanita yang sudah lumayan lama hidup berumah tangga dengannya itu.
Vara terkekeh pelan, kekehan yang terdengar miris, "apa aku pernah punya kesempatan, Adrian? Apa kamu pernah bertanya tentang bagaimana perasaanku yang sebenarnya? " Vara menghela nafasnya dalam, rasa sesak di dada mengingat kehidupannya dulu.
"Apalagi setelah aku di vonis punya penyakit mematikan itu, dan kemungkinan besarnya akan sulit untuk mempunyai keturunan. Kamu tau sendiri bagaimana sikap kedua orang tua kamu terhadap aku, " lanjut Vara.
"Aku lihat selama kita bersama kamu selalu baik-baik aja, aku selalu dukung kamu. Aku selalu belain kamu, aku selalu ada buat kamu. Bahkan aku nggak pernah mempermasalahkan tentang itu semua. Aku pun sudah menerima kamu apa adanya, Vara," jawab Adrian membela dirinya.
"Kamu mungkin enggak mempermasalahkan. Mungkin kamu bisa menerima aku apa adanya. Tapi, papi sama mami kamus selalu saja ikut campur urusan kita. Kita itu udah berumah tangga, Dri. Bukan sekedar pacaran aja kayak pas masih ABG dulu. Tapi kenapa kehidupan kita masih harus selalu dibawah bayangan kedua orang tua kamu?" ucap Vara turut menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Dan ... sampai pada akhirnya keputusan itu mereka ambil. Apa kamu tau bagaimana sakitnya hati aku? Saat lelaki yang telah menjadi suamiku, seseorang yang telah berjanji akan selalu mencintaiku, akan selalu setia kepadaku. Bahkan kita juga udah berjanji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka, walau bagaimanapun keadaannya!" seru Vara mulai emosi.
"Kamu justru menikah lagi degan wanita lain, " lanjut Vara lirih sembari terisak. Sejak tadi wanita itu memang sudah menahan tangisnya, namun lama kelamaan ia tak sanggup juga menahannya lagi saking sakitnya luka batinku yang ia rasa.
"Itu semua terjadi juga atas andil kamu, Ra!" sergah Adrian tak mau disalahkan.
"Aku? "
Jika teringat kejadian dulu, dan tau akan berakhir seperti saat ini, mungkin ia lebih baik menghindar dengan pergi jauh dari tempat itu supaya tak merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang dicintaiseperti saat ini.
"Kalau aja dulu, kamu nggak setuju atas ide gila papi sama mami, semua ini nggak bakalan terjadi. Dan pastinya kita masih bisa bersama dalam bahagia. Tapi apa kenyataannya? Kamu malah pergi begitu aja dari aku tanpa pamit, tanpa kabar. Sampai pada akhirnya aku nemuin kamu disini, hidup dengan laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu adalah orang yang aku benci." Nafas lelaki itu memburu. Kalau saja membunuh orang tak mendapatkan hukuman, mungkin ia sudah membunuh istri dan juga selingkuhannya itu.
"Jadi semua itu kesalahanku? "
__ADS_1
"Apa kamu nggak menyadarinya?" ucap Adrian sambil melirik sinis pada Vara.
"Bahkan kamu juga yang mempunyai ide untuk aku segera memanfaatkannya untuk mendapatkan keturunan. Tapi kamu justru pergi sebelum anak itu lahir dengan dalih kesibukan ini dan itu. Sibuk apa? selingkuh? " ucap Adrian.
Plak ...
"Kamu...! " Adrian semakin geram. Kedua tangan nya semakin erat terkepal. Ingin ia membalas tamparan di pipinya itu dari sang istri, tapi rasanya tetaplah tak tega. Walau bagaimana pun perasaannya terhadap Vara masihlah ada. Meski sudah tergeser posisinya oleh Kavita.
Vara menatap Adrian tajam meski dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, lalu kenapa kalau aku berselingkuh? Kamu mau apa? Cerai? Silahkan, itu juga yang aku mau! " teriak Vara seperti orang kesetanan.
Adrian mendelik, amarahnya tak lagi dapat ia bendung. Hingga...
__ADS_1