Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kekecewaan Mendalam Kavita


__ADS_3

Aku termenung di depan cermin, menatap pantulan wajahku yang tampak mengenaskan. Bukan karena jelek, ataupun ada kerutan disana. Tapi karena wajahku yang kata orang-orang cantik ini, tapi tetap tak mampu memikat hati Adrian, suamiku.


Suami? jika teringat orang itu rasanya hatiku sakit seperti ditusuk ribuan duri. Betapa tidak? Usai bercinta denganku, bahkan ia belum turun dari atas tubuhku. Peluh nya juga masih menetes di dadaku. Tapi bisa-bisanya dia menyebut nama wanita lain.


"I love you, Vara... " Satu kalimat mematikan itu kembali terngiang di telingaku.


Kalimat yang mampu membuat hatiku yang semula berbunga-bunga, senyumku yang semula merekah bak bunga bermekaran di pagi hari, mendadak musnah seketika. Berganti dengan perasaan hancur berkeping-keping, air matapun tak mampu lagi ku bendung. Ia luruh begitu saja tanpa aku minta.


Sakit, pedih. Hancurnya hatiku tak dapat lagi ku gambarkan dengan kata-kata. Aku menoleh ke arah lain, dan bertanya padanya dengan kepiluan yang tertahan.


"Siapa, Vara? "


Dia hanya terdiam tak menjawab, malah langsung beranjak, lalu mengenakan celana nya yang semula berserakan dan berlalu ke kamar mandi.


Aku menangis dalam diam sepeninggalnya. Aku tergugu, dan yang menjadi penyesalanku, kenapa aku baru tau setelah penyatuan kami terjadi. Jika saja hal itu belum terjadi, mungkin aku lebih memilih menjadi janda meski kami baru saja mengikrarkan janji suci satu hari lalu.


Setidaknya aku masih suci, dan tak akan sulit mencari pengganti. Tapi kini, aku sudah kehilangan mahkota berhargaku dan aku baru saja tau jika suamiku bukanlah milikku, tapi milik wanita lain. Hanya raganya saja yang bersamaku, tapi hati dan fikirannnya ada pada wanita lain.


Apa aku bisa menyebut wanita itu sebagai pelakor, jika wanita itu memang sudah ada dalam kehidupan Adrian terlebih dulu?


Atau, malah akulah pelakor nya disini?


Huh, Miris!


Wajahku sembab, mataku bulat besar seperti habis di sengat lebah, dan hidungku merah, semerah tomat cherry, semua itu karena aku terlalu lama menangis.


Aku tersenyum getir, senyum yang terlihat sangat memilukan. Senyum dalam deraian air mata.

__ADS_1


Apa yang bisa aku katakan pada orangtuaku nanti? Apa aku bisa terus berpura-pura bahagia di depan mereka?


"Aaaaaaaaarggghhh..." aku berteriak sekuat tenaga dan melempar semua yang ada di meja rias di hadapanku hingga semuanya berserakan.


Aku menutup wajah dan kembali menangis tersedu. Begitu sakit jika ingat bagaimana perlakuannya padaku, begitu lembut hingga membuatku terbuai. Hingga aku tak menyadari jika yang ada dalam bayangannya adalah wanita lain, bukannya aku, padahal dia sedang bercinta denganku.


Tubuhku lunglai dan luruh ke lantai, kutatap nanar pemandangan kamar pengantin kami. Dekorasinya masih utuh, bunga-bunga asli beraneka ragam yang disusun sedemikian rupa, sangat indah.


Foto-foto pernikahan kami yang entah sejak kapan terpasang di dinding, aku baru menyadarinya. Dan itu membuatku semakin merasa pilu.


"Ini bukan mimpi? Pasti ini cuma mimpi 'kan? "


"Ya, ini pasti hanya mimpi buruk, " monolog ku.


"Tolong, Tuhan... aku ingin bangun dari mimpi buruk ini, " lirih ku memohon dengan menutup mata.


Mataku terbuka perlahan, pemandangan yang sama dengan beberapa saat lalu membuatku tersadar jika ini benar adanya, semua ini kenyataan pahit yang harus ku telan. Aku tidak bisa menghancurkan hati kedua orang tuaku.


Aku tidak mungkin menceritakan semua ini pada mama dan papa 'kan? Mereka juga tak akan percaya karena aku tak punya bukti apa-apa, semuanya hanyalah ucapan reflek Adrian yang mungkin dia sendiri tak menduganya akan kelepasan bicara.


Ngomong-ngomong, kemana manusia laknat itu? Tak taukah aku disini sakit?


Sakit karena baru saja ia renggut kesucian ku, ditambah sakit hatiku karena ucapan nya menyebut nama wanita lain di akhir percintaan kami.


"Adrian brengsek! " teriakku lagi.


°°°°

__ADS_1


Suasana yang beberapa waktu lalu panas oleh hawa dua anak manusia yang bercinta, kini berubah hening, suram bak tak berpenghuni. Kedua orang yang baru saja melakukan aktifitas suami istri mereka untuk pertama kalinya, saat ini tengah kalut dengan fikiran masing-masing.


Memang hanya karena sebuah kalimat pendek yang tak sengaja keluar dari bibir Adrian. Namun hal itu sangat berhasil membuat hubungan mereka hancur. Terkecuali, Adrian mampu menjelaskan dan bersandiwara menjadi suami yang sangat mencintai Kavita.


Ya, dia mang harus melakukan hal. tersebut di wanita yang di cintainya. Sangat kejam memang, tapi itulah cinta, yang mampu membuat orang melakukan apapun, termasuk menghancurkan masa depan gadis lain.


Adrian terdiam merenung di depan cermin kamar mandi, dia sama sekali tak menduga jika akan mengucapkan nama itu disaat sedang bersama Vita. Semuanya terjadi diluar kendali logikanya. Sepertinya dia memang sedang dikuasai oleh hawa nafsu tadi, sehingga apa yang diucapkannya semua adalah reflek seperti kebiasaannya, mungkin.


"Adrian bodoh! Tolol lo! Bisa-bisanya lo ngucapin nama Vara di depan Vita. Bukan gue peduli sama cewek itu, tapi ini semua gue lakuin demi Vara. Dan sekarang? gue malah bikin semuanya kacau," ucap Adrian pada pantulan dirinya di cermin.


"Baru sehari aja gue sandiwara, udah bikin kacau. Kalau bukan demi Vara, nggak akan sudi gue nglakuin semua ini, " Adrian mendengus, nafasnya kembang kempis.


Lelaki itu menyugar rambutnya dan mengusap wajah dengan kasar berulang kali. Ia berjalan mondar mandir memikirkan bagaimana ia harus menjelaskan pada Vita. Dia masih harus terus bersandiwara di depan istrinya itu demi kekasih hatinya, Vara.


Pikirannya di penuhi oleh raut wajah Vita yang dipenuhi dengan kekecewaan yang mendalam terhadap dirinya. Ia juga masih sangat yerbayang-bayang hal panas yang baru saja dilakukannya dengan Kavita tadi. Namun dengan sekuat tenaga Adrian mencoba menepis bayangan Kavita dengan sosok gadis yang di cintainya, yaitu Vara.


"Oke, Adrian.. tarik nafas, keluarkan. Lakukan beberapa kali sampai nafas lo normal lagi, dan mulailah sandiwaramu lagi, " ucap Adrian pada dirinya sendiri.


'Lets go! Ini nggak sulit, bahkan acting gue udah melebihi akator-aktor negri ini, " ucapnya bangga.


"Kavita, lo bakal terus bertekuk lutut sama gue. Lihat aja, apa yang bakal gue lakuin sebentar lagi pasti akan ngebuat lo kembali berbunga-bunga dan lupa sama ucapan reflek gue tadi, " Adrian membasuh wajahnya di wastafel dan menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Lo emang tampan, Adrian. Jadi jangan heran kalau cewek itu tergila-gila sama lo, "


Lelaki itu memegang rahangnya, membalikkan ke kanan dan ke kiri sambil memandangi pantulan wajahnya di kaca.


Kemudian ia keluar dari kamar mandi, tapi sebelumnya ia menyomot sekuntum mawar yang tertata di vas bunga sudut wastafel.

__ADS_1


"Vita sayang... "


__ADS_2