Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Pertengkaran Adrian dan Vara


__ADS_3

Satu minggu sudah Kavita dirawat di rumah sakit, dengan berbagai macam drama berdekatan setiap harinya dari orang-orang di sekeliling Kavita.


Kavita merasa stress dengan semua yang ia saksikan dan ia dengar selama itu juga. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi agar tak menjadi penyebab pertikaian antara orang-orang yang disayanginya.


Dan demi menjaga emosi Kavita agar tetap stabil, Adrian dan Vara dilarang oleh Vero untuk tidak mengunjungi Kavita untuk sementara waktu ini.


Sebenarnya Mamy Sinta merasa keberatan oleh keputusan yang diambil sebelah pihak oleh Vero dan Diva, karena walau bagaimanapun keadaannya, Vita tetaplah istri Adrian dan saat ini pun menantunya itu tengah mengandung com menerus keluarganya. Tapi Vero mengancam akan membeberkan tentang perilaku Adrian itu kepada orang tuanya, maka mau tak mau Mamy Sinta harus menyetujuinya juga.


"Bu Kavita masih harus dirawat di rumah sakit jika keadaanya belum juga berangsur membaik, " ucap dokter pagi itu.


"Asupan makanan yang Ibu konsumsi belum bisa memenuhi gizi untuk kebutuhan ibu hamil, janin dalam kandungan Anda bisa saja kekurangan gizi jika terus seperti ini, " jelas dokter tersebut yang di dengarkan oleh semua orang yang ada disana.


"Dengerin tuh! Makan tu nasi, daging, bukannya makan ati aja, bisa busung lapar lo! " kesal Diva pada Kavita.


Karena selama satu minggu pula ia turut menunggui Kavita, tak pernah seharipun ia tak melihat sahabatnya itu menangis.


"Kasian ponakan gue dong kalau lo yerus-terusan kayak gini, ayo dong, Vit. Semangat, jangan terus di fikirin laki-laki brengsek kayak Adrian itu, " omel Diva berbisik.


"Hmm, " Vita merasakan tubuhnya sangat lemah, jadi ia malah untuk berdebat.


"Baiklah, saya akan memberikan vitamin tambahan dan pengurang rasa mual untuk Bu Kavita, tapi tolong dijaga makannya dan satu lagi," dokter itu melihat semua orang secara bergantian.


"Tolong jaga emosi Bu Kavita, dan usahakan jangan sampai ia stress. Karena itu sangat tidak baik untuk perkembangan janin yang di kandungnya, " pesan dokter sebelum pamit dari ruangan tersebut.


"Baik, Dok. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk putri kami dan juga calon cucu kami, " ucap Papa Indrawan mewakili semuanya yang hanya terdiam.


Sepeninggal dokter tadi, Papa Indra mendekati Kavita. Ia mengelus pucuk kepala Kavita dengan penuh kasih. Terbayang di pelupuk matanya saat sang putri masih kecil dan sering merengek meminta ini dan itu.

__ADS_1


Semua keinginannya harus dituruti, jika tidak maka Kavita kecil akan merajuk dan melakukan aksi mogok makan, minum, mandi bahkan mogok tidur.


Memang sifat Kavita yang ambisius sudah terlihat sejak kecil, ia selalu berusaha untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, dan yang ia harapkan. Dan hal tersebut terus berlangsung hingga dewasa. Bahkan saat dirinya menyukai seorang pria dan merasa harus mendapatkan pria tersebut.


Dan terbukti, dia juga berhasil mendapatkannya. Ia bisa menikah dengan lelaki impiannya dengan bantuan perjodohan dari sang ayah. Ia berhasil menjadi seorang istri dari Adrian, ia mendapat kan gelar itu. Tapi Kavita tak bisa memiliki Adrian, yang hati, jiwa serta raganya sudah milik wanita lain.


"Putri kecil Papa sudah dewasa, bahkan sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, tapi bukan berarti kamu harus menanggung semua beban di pundakmu sendiri, Vita, " ucap Papa Indra yang sudah duduk di kursi samping ranjang Kavita.


Vita mengerutkan kening, "maksud Papa apa?" tak mengerti dengan maksud perkataan ayahnya.


"Apa yang membuat kamu sampai stress? coba cerita sama Papa, " Papa Indra menggenggam tangan kiri putrinya.


"Apa yang bisa aku katakan sama papa sekarang? tidak mungkin 'kan kalau aku menceritakan tentang Adrian yang sesungguhnya. Aku tidak mau kalau sampai membebani fikiran papa, " batin Vita menggalau.


Vita tersenyum dan membalas genggaman tangan papanya, "nggak ada masalah apa-apa kok, Pa. Everything it's ok, "


"Beneran? kamu nggak lagi bohong'kan sama Papa? " tanya Papa Indra dengan tatapan menyelidik.


Kavero menghela nafas, sebenarnya ia merasa jengkel juga pada sang kakak yang masih saja menutup-nutupi sifat buruk Adrian di hadapan orangtua mereka. Tapi semua ia kembalikan pada kakaknya yang mungkin merasa masih bisa bertahan dengan suaminya.


Sedangkan Diva sudah merasa lelah menasehati sahabatnya tersebut selama seminggu ini, yang ada malah dia jadi darah tinggi sendiri.


Tapi ada satu orang yang tak bisa menahan sesak di dadanya, ia selalu diam-diam menangis sendiri setiap hari setelah mengetahui sesuatu hal mengenai kehidupan Kavita.


"Aku nggak rela jika ternyata Kavita selalu menderita, aku akan berbuat sesuatu demi Kavita dan anaknya. Ya, harus! " orang itu menghapus air mata yang mulai menggenang kembali di pelupuk matanya.


"Sudahlah, Pa. Kavita itu sudah dewasa, dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ya 'kan, Vit? " Mama Kavita merangkul putrinya dan mengelus baju Kavita lembut.

__ADS_1


"Tapi, kamu jangan pernah merasa sungkan, ataupun merasa akan menjadi beban bagi Papa dan Mama. Jika memang kamu punya masalah, kamu bisa membaginya dengan kami semua. Dan kami akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu kamu. Ya, Sayang.. " senyum lembut sang bunda menghangatkan hati Kavita.


Kavita bersandarpada bahu mamanya dengan tangan yang masih di genggam erat oleh sang papa. Semua perlakuan tersebut menjadikan kekuatan tersendiri bagi Kavita untuk bisa bertahan dalam menghadapi segala jenis permasalahan dalam hidupnya.


"Ehm, ehm.. yang anak tiri dicuekin deh, " Kavero melipat dikedua tangannya, matanya melirik-lirik sang kakak yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian orang tuanya.


Diva terbahak, "ahahahahah.. sukurin lo di anak tirikan, Vero, "


Semua orang turut tertawa melihat wajah Vero yang cemberut.


Sementara di tempat lain dimana Adrian berada, lelaki itu tengah kembali berseteru dengan Vara. Wanita itu merasa marah karena kecerobohan yang Adrian lakukan menyebabkan rencananya menjadi terancam gagal.


"Sekarang kamu harus mencari cara agar Kavita mau memaafkan kamu, kalau perlu kamu minta maaf sambil sujud di kakinya biar dia luluh, " marah Vara dengan suara keras.


Adrian menatap marah pada Vara yang dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu padanya yang notabene adalah suaminya.


"Kamu gila, Vara? Kamu nyuruh aku buat sujud-sujud mohon maaf di kaki Kavita gitu?" ucap Adrian tak kalah kencangnya.


"Ya, kalau emang diperlukan, " seru Vara.


Adrian mendengus, "Huh! Nggak sudi! "


"Kamu udah nggak mau menjalankan rencana kita, Dri? "


"Rencana kamu itu menyulitkan aku, Vara, "


"Semua itu demi kebaikan kita juga, Adrian! " perdebatan kedua orang itu entah sampai kapan akan usai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2