Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Ada Apa Dengannya?


__ADS_3

Pov Kavita


Aku mulai mencoba membuka lembaran baru dalam hidupku di tempat baru ini. Tempat yang jauh dari orang-orang yang terlihat baik diluar tapi ternyata busuk di dalamnya. Orang-orang yang ternyata hanya memanfaatkanku saja demi kepentingan mereka sendiri.


Di sebuah bangunan rumah yang sangat luas dan mewah, dengan arsitektur modern dan tak lupa tanaman-tanaman yang membuat tempat ini begitu sejuk. Lebih tepatnya disebut vila mungkin ya, yang katanya milik Valdi ini. Ya, lagi-lagi aku harus merepotkan Valdi. Entah mengapa laki-laki itu begitu baik padaku dan juga keluargaku, sampai-sampai ia rela pergi jauh kesini untuk mengantarkan aku mengungsi dari segala kekacauan yang disebabkan oleh suamiku. Ah, malas sekali rasanya menyebut si Adrian itu sebagai suami.


"Aku sangat.. sangat membencinya sekarang! "


Berbeda dengan dahulu, aku yang begitu memujanya hingga mata hatiku seolah buta dan melihatnya sebagai lelaki sempurna. Hingga aku tak sadar jika sudah di perdaya olehnya, ditipu dan di manfaatkan untuk kepentingan keluarganya saja. Untung saja Tuhan masih baik padaku, dan menunjukan semuanya sebelum terlambat. Jadi aku masih bisa menyelamatkan anakku agar tak sampai jatuh ke tangan mereka.


"Sungguh aku nggak rela kalau Kava cuma mau mereka jadikan sebagai aset saja. Dia pikir anakku itu apa! " gerutuku sendirian di dalam kamar.


Aku baru saja selesai mandi dan sedang bercermin di meja rias, hal yang baru saja aku lakukan lagi setelah beberapa bulan lamanya. Hal ini juga membuatku ingat saat dulu pertama kali lelaki br*ngsek itu menyentuhku dan menyebutkan nama wanita lain. Aku pikir saat itu hanyalah ke-khilafannya sesaat saja. Tapi ternyata aku salah besar, duniaku runtuh saat mengetahui siapa si pemilik nama itu.


Namun kini aku berusaha mencoba untuk ikhlas saja, toh rasa cintaku terhadapnya juga sudah menguap entah kemana dan digantikan dengan rasa benci yang sangat besar. Jadi tak masalah dia mau menikah dengan seratus wanita pun aku tak peduli. Bahkan dia mau hidup atau tidak saja aku juga sudah tidak mau tau lagi.

__ADS_1


"Huh...! " Aku menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan untuk meredam amarah.


Di suasana pagi yang cerah dan ceria ini, aku mendapatkan berita baik. Sebuah berita yang seperti angin segar yang menyapu segala gundah dan deritaku selama berbulan-bulan ini, statusku yang tergantung kini akan segera terlihat jelas. Meskipun nantinya aku akan menyandang gelar baru sebagai single mother, tapi menurutku itu lebih baik daripada aku harus berada di dalam cengkeraman manusia licik sepertinya.


Tentu saja kalian sudah tau kan siapa orangnya, jadi aku tidak perlu tau memberitahu kalian lagi. Keluarga itu benar-benar keluarga yang munafik.


Tadi begitu kami semua selesai sarapan bersama, papa dan meminta kami berkumpul di ruang keluarga vila ini. Dan kalian tau apa berita baik itu?


"Mama mau ngomong sama kalian semua, khususnya kamu, Vit, " ucap mama membuka obrolan saat kami semua sudah berkumpul.


"Emm... sebelumnya Mama mau minta maaf dulu kalau Mama terkesan lancang atau berbuat hal yang mungkin kurang berkenan buat kamu. Tapi setelah Mama sampein hal ini dan nantinya kurang berkenan di hati kamu, kamu boleh kok membatalkannya, "


"Apa sih, Mah? Jangan bikin kepo deh. Apalagi pake minta maaf segala kayak gitu, " ucapku yang sudah penasaran.


Mama terlihat menarik nafas panjang dulu sebelum berucap kali ini, aku jadi merasa ada sesuatu yang mencurigakan kalau sampai mama seperti itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, Mama udah daftarin gugatan cerai kamu terhadap Adrian waktu kamu masih koma, " ujar mama yang seperti gumaman tapi masih dapat kudengar karena jarak kami dekat.


Bukan hanya aku saja yang kaget disini, tapi hampir semua orang, terkecuali papa saja. Mungkin karena sebelum ini papa sudah diberi tahu lebih dulu jadi beliau tak terkejut lagi.


Tapi ada yang aneh dari raut semua orang, kenapa wajah Valdi terlihat tegang ya. Harusnya kan aku yang berekspresi kayak gitu.


"Vit? Kok diem, kamu marah ya sama Mama? Kalo nggak berkenan di hati kamu, Mama masih bisa kok buat narik gugatannya mumpung numpung belum keluar putusannya, "


Aku mengerjapkan mata dan beralih pada mama, "Hah? Enggak papa kok, Mah. Vita cuma kaget aja tadi, nggak nyangka kalo Mama sampe segitunya mikirin dan ngertiin Vita. Padahal Mama juga masih sibuk ngurusin Papa waktu itu kan, "


"Oh, Mama kirain kamu marah, " raut wajah Mama terlihat lega. "Jadi kamu setuju sama apa yang Mama lakuin? "


Tuh 'kan, wajah Valdi makin tegang. Ada apa sih sama itu anak sebenarnya? Hmm, aneh.


"Ya enggak lah, Mah. Ngapain juga Vita marah, malahan Vita seneng dan lega banget dengernya. Semoga aja semuanya bisa cepat dan lancar prosesnya, " semua orang tersenyum senang mendengar jawaban dariku.

__ADS_1


Termasuk Valdi, bahkan sepertinya lelaki itu yang paling sumringah. Ada apa dengannya?


__ADS_2