
Dua minggu berlalu, hari ini adalah hari dimana sidang lanjutan kasus perceraian Kavita dan Adrian. Tapi tetap saja, Kavita enggan untuk datang ke persidangan tersebut. Bukan tanpa alasan ia tidak mau datang kesana, hatinya masih belum bisa baik-baik saja jika harus bertemu dengan pria yang ia coba untuk lupakan semua kenangan tentangnya. Karena walau bagaimanapun, Adrian pernah merajai hatinya dalam waktu satu tahun terakhir ini.
"Lo serius-san nggak mau dateng ke persidangan lo lagi, Vit? " tanya Diva hati-hati saat melihat sang sahabat masih saja santai di jam delapan pagi.
Sebab untuk bisa ke Ibukota memerlukan waktu yang lumayan meskipun menaiki pesawat, itupun belum dengan bersiap-siap, juga menunggu jam penerbangan.
Kavita menggeleng dengan mantap, "Enggak! Nggak mood gue buat liat muka tuh orang, bisa-bisa kena serangan jantung ntar, "
"Hush! Jangan sembarangan kalo ngomong, " sembur Diva.
"Palingan lo mah takut kepincut lagi sama tuh orang kalo ketemu," lanjut Diva lagi.
"Heh, jangan sembarangan juga lo ngomong! " gantian Vita yang tak terima, "kalo suka amit-amit ya, nggak akan mau gue jatuh di jurang yang sama lagi. Gue cuma nggak mau hati gue rapuh lagi karena liat dia," Kavita menghela nafasnya perlahan dan menghembuskannya sebelum meneruskan kalimatnya.
"Gue bener-bener udah nutup rapet hati gue buat orang itu, gue juga benci sama dia. Tapi lo tau sendiri 'kan, yang namanya cinta tuh nggak bisa langsung secepat itu bisa berbalik hanya dalam jangka waktu beberapa bulan aja. Tapi hati gue udah terlalu sakit, dan entah kenapa perasaan gue selalu nggak nyaman kalau sampai harus ketemu lagi sama tuh orang," terang Kavita, tatapan nya lurus ke depan dengan semua bayang-bayang berkelebatan di ingatan.
Diva mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba memahami bagaimana perasaan dari sahabatnya itu.
"Ya ... lo bener sih, Vit. Emang lebih baik lo nggak usah ketemu sama dia lagi, kalau bisa malah selamanya aja, oke, " ujar Diva.
Vita tertawa, "tadi lo nanya gimana, sekarang ngomong gimana, dasar labil lo! "
"Ya ... gue 'kan cuman nanya, Vit, "
"Eh, tapi... hasilnya bisa langsung diputusin hari ini juga nggak sih? Udah bener-bener pengen cepet end gue sama dia, " tanya Vita pada Diva.
__ADS_1
Diva yang jelas tak tau apa-apa hanya bisa mengendikkan kedua bahunya.
"Gue boro-boro tau soal perceraian, Vit. Menikah aja belum pernah. Eh, gimana mau nikah, pacar aja kagak punya gue,"
"Ya makanya cari! Yang namanya jodoh meskipun nggak kemana, tapi kalo nggak berusaha juga, gimana bisa ketemu coba?! "
"Ogah ah, "
"Lhah... kenapa? "
"Gue ... gue nggak mau ngejar cowok, gue nggak mau suka duluan, gue nggak mau jadi cewek yang lebih menyukainya dari dia menyukai gue. Ko bisa, biar gue sama orang yang lebih cinta gue daripada gue yang lebih cinta sama dia, takut makan ati, "
Mendengar penuturan Nadiva, membuat Kavita tersadar jika sahabatnya itu ternyata ikut trauma atas apa yang terjadi pada kehidupan pernikahannya. Hatinya jadi merasakan teriris, ia turut merasa bersalah akan hal itu.
"Lo nggak boleh takut sebelum lo menjalaninya, Div. Dan lo nggak bisa ngejudge cowok tuh semuanya jahat kayak mantan suami gue. Karena nggak semua cowok kayak gitu, " nasehat Kavita pada Nadiva.
"Lo jangan bikin gue ngerasa bersalah dong, Div. Masak iya gara-gara masalah rumah tangga gue, lo jadi takut buat kenal dan menjalin hubungan sama cowok, " Kavita cemberut, raut wajahnya tampak sedih.
"Hei! Udah gue bilangin ini bukan gara-gara lo. Lagipula, gue 'kan juga masih muda, masih pengen bebas menjalani masa muda gue yang nggak akan terulang lagi. Juga... gue kan masih mau meraih mimpi gue buat jadi kayak lo, Vit, "
"Kayak gue? "
"Iya, desainer ternama di Ibukota, dan juga memiliki butik yang mnjual hasil desainnya sendiri, " Nadiva menatap langit berawan yang cerah di atas sana, "waah, betapa beruntungnya gue kalo bisa kayak lo gitu, "
"Hei, Nona Diva! Mimpi itu buat di wujud'in, bukan cuma buat di khayalan aja. GO, berjuang go! " Kavita turut waras bersemangat melihat binar pengharapan yang muncul di kedua bola mata Nadiva. Kedua tangannya terkepal ke atas menyemangati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomkng soal berjuang, lo masih bakal ngejalanin bisnis butik lo, 'kan? "
Kavita kembalu tertawa, "ya jelaslah, Div! Itu'kan impian gue sejak dulu, bahkan gara-gara pengen butik itu gue sampe di diemin lama sama papa, dan dikasih syarat buat nikah sama si kunyuk itu. Jadi nggak mungkin gue sia-sia'in, "
"Setuju banget gue kalo gitu ... itu baru bestie gue, " Diva merangkul bahu Kavita erat.
"Cuma ... buat saat-saat ini, gue masih mau fokus sama baby Kava dulu, juga biar kasus perceraian gue kelar dulu, baru gue mau wujud'in rencana gue selanjutnya, "
"Yup, bagus tuh. Semangat bestie, "
Kedua sahabat itu berpelukan. Saling menyemangati satu sama lain, saling memberi nasehat, saling berbagi ceria, duka, canda, bahagia, itulah yang namanya sahabat.
Apakah persahabatan tulus seperti itu memang benar-benar ada?
Adrian harus kembali menelan kekecewaan karena harapannya untuk dapat bertemu dengan Kavita kali ini masih harus tertunda karena waita itu tetap tidak menghadiri dan mengikuti jalannya sidang itu.
Jika hal tersebut terus berlangsung, maka dapat dipastikan suatu pertemuan lagi, mereka akan resmi bercerai dan menyandang status baru mereka masing-masing.
"Aku harus bisa bertemu dengan Kavita bagaimana pun caranya. Aku tu dia boleh menyerah disini begitu saja, " batin Adrian menatap lurus ke depan, "ya ... aku harus memperjuangkan pernikahan ini, dan juga anakku walau apapun yang akan terjadi, " tekadnya bulat.
Hmm... benarkah itu, Adrian? Bukankah sudah berulang kali kamu bertekad seperti itu, tapi mana buktinya? Semuanya hanya omdo, alias omong doang!
"Baiklah, kalian lihat saja nanti, aku pasti bisa menemukan dimana keberadaan Kavita dan juga bayi kami. Aku akan membawa mereka kembali kepadaku, dan kami akan hidup berbahagia, seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna, "
"Kebanyakan ngalamun kamu! " tepukan di kepala Adrian menyadarkan laki-laki itu, sampai ia tak tau jika saat ini ketua hakim sedang mengajukan pertanyaan padanya, namun ia malah tak menyahut sama sekali.
__ADS_1
"Ah, iya, maafkan saya ketua hakim, maafkan saya semuanya, " ucap Adrian.
"Baiklah, sidang hari ini selesai. Kita akan melanjutkannya pada sidang berikutnya yang akan dilangsungkan bulan depan," ketuk hakim mengetuk palu sebagai tanda penutup persidangan hari itu.