
"Apa-apa sih lo! " Valdo menyentak tangan Adrian yang hampir saja menyentuh gagang almari pakaian.
Entah bagaimana ceritanya hingga laki-laki itu bisa tiba-tiba sampai disana. Di belakangnya terlihat Beno dan temannya berlari tergopoh-gopoh dengan nafas memburu, teman Beno juga terlihat sedikit meringis, sepertinya tadi ada sedikit insiden hingga Valdo bisa melarikan diri dari kedua bodyguard Adrian tersebut.
Adrian mendelik, ia kembali murka karena hampir saja ia menemukan keberadaan Vara, namun malah dikacaukan oleh kedatangan Valdo yang tiba-tiba.
"Beno! " serunya geram.
Beno menunduk, tangannya sudah kembali mencekal lengan Valdo lebih erat kali ini.
"Maaf, Bos, " ucapnya pelan.
"Dasar tidak becus! " Adrian membentak kedua anak buahnya itu lagi.
Sementara di dalam persembunyiannya, Vara meraih baju asal dan memakainya dengan cepat. Sebab rasa dingin sudah mulai menderanya saat ini. Lagipula tidak mungkin ia nanti terlihat oleh orang-orang di luar itu dengan hanya memakai pakaian renang saja.
Wanita itu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sejenak tadi ia berfikir, tak akan ada selesainya urusannya dengan Adrian jika dirinya hanya terus bersembunyi seperti selama ini. Kali ini ia harus memberanikan diri menghadapi suaminya, atau mantan suami bagi Vara, karena ia menganggap jika dirinya sudah berpisah dengan lelaki itu. Ia harus menghadapinya meski apapun resikonya yang akan terjadi nanti. Lagipula tidak mungkin jika lelaki itu akan menyakitinya, begitu kira-kira fikirnya.
"Kita bicara di tempat lain, " suara Vara memecah ketegangan yang ada. Ia langsung berbalik berjalan ke luar ke arah balkon yang ada di luar kolam renang.
__ADS_1
Valdo mengernyitkan kening, ia merasa heran dan aneh pada Vara, kenapa berbicara seperti itu pada orang-orang yang menurutnya berandalan. Ingin dirinya mengejar Vara dan bertanya padanya tentang siapa orang-orang itu, namun Beno dan temannya sudhs membandingkan lengannya lebih kencang dari yang tadi. Bahkan sekarang ia sudah di duduk kan agar tak bisa lagi memerontak dan mengejar Adrian sehingga akan menyebabkan kekacauan lagi. Karena jika sampai hal itu terjadi lagi, bisa-bisa mereka akan kena amukan Adrian lagi.
Adrian mengekor di belakang Vara, dan ikut duduk di kursi seberang meja kecil yang menjadi pembatas antara dirinya dan kursi yang Vara duduki. Lelaki itu menatap Vara tajam di sebalik kaca mata hitamnya, ia masih enggan melepas benda itu. Sementara Vara hanya mampu menunduk, entah darimana ia akan memulai menjelaskan semuanya.
"Jelaskan! " titah Adrian dengan nada dingin yang mengintimidasi, hingga Vara merasa sesak bahkan sebelum ia mulai berbicara.
"Apa? " bukannya menjelaskan, Vara justru melontarkan tanya.
Adrian menoleh, mengangkat sebelah alisnya, rasanya ingin ia berteriak membentak wanita di depannya itu. Namun ia masih mencoba untuk bersabar agar mendapatkan semua jawaban tentang semua pertanyaan yang selama ini memenuhi benaknya.
"Semuanya, " jawab Adrian ketus.
"Astaga... jangan menguji kesabaranku, Vara! " geramnya Adrian.
Vara terkekeh kecil, "kamu masih saja sama, pemarah,"
Vara mencoba mencairkan suasana untuk menenangkan diri, tak ingin terlalu tegang, walau bagaimana pun ia sudah mengenal luar dalam Adrian. Jadi ia mencoba untuk tetap rilex agar tak membuat ia kembali drop.
"Huh! Sudah tau masih saja memancing emosiku, "
__ADS_1
"Itulah kenapa aku lama-lama juga tak betah sama kamu, "
"Maksud kamu? "
"Hmmh, ya... sikap kamu yang kayak gini. Pemarah, kolokan, menyebalkan, "
"Aku minta kamu menjelaskan, Vara. Bukannya mengolok-olok ku, " kesal Adrian.
"Aku ingin bahagia, Adrian, "
"Maksudnya? "
"Aku kira kamu tau, "
"Tau apa? Maksud kamu selama ini kamu nggak bahagia hidup sama aku?" nada bicara Adrian kini sudah naik satu oktaf.
"Ya begitulah... "
Plak...
__ADS_1