
"Aditya... "
Ya, tamu yang tak diundang di rumah Kavita pagi itu adalah Aditya Saputra Wijaya, adik dari laki-laki yang paling Kavita benci di dunia ini.
"Kalau tidak ada perlu apa-apa, mungkin lebih baik kamu tidak berada disini saat ini. Karena sepertinya keluarga saya agak tidak nyaman dengan keberadaan kamu disini, " ujar mama Indri pelan namun nadanya terdengar begitu menekankan.
"Tap-tapi, Tan... "
"Maaf, ya. Bukannya saya tidak bisa menghargai tamu, ataupun mau semena-mena terhadap tamu. Tapi, kamu lihat sendiri kan, disini tidak ada yang menyambut kedatanganmu, " mama Indri kembali berucap, tatapan matanya berkeliling dimana ada para anggota keluarga Kavita di sekitarnya, namun dari kesemuanya menatap tak suka pada Aditya yang dianggap hanya mengganggu kedamaian pagi mereka saja.
"Alasannya tentu kamu sudah tau kan? Jadi tidak perlu saya jelaskan lagi, " mama Indri bersedekap, ia menoleh ke arah lain, enggan menatap wajah Aditya yang tampak memelas.
Sebenarnya sebagai seorang ibu, ia pun tak tega memperlakukan laki-laki yang umurnya hanya berbeda beberapa tahun dengan kedua anaknya itu seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah sangat sakit hati dengan perlakuan seluruh keluarga Aditya terhadap putrinya, Kavita.
Aditya menunduk, ia berbalik dan menghela nafas berat. Ia jadi merasa membenci Adrian selaku kakaknya yang menyebabkan dirinya tak di terima di rumah Kavita, bahkan ia sudah terusir sebelum masuk ke dalam rumah itu.
"Semuanya gara-gara Bang Adrian, gue jadi ikut kena imbasnya, " batin Aditya jengkel. Ia menggenggam erat kruknya, tak perduli walau sampai buku jarinya tampak memutih.
Lelaki itu menyeret kruk yang masih setia menopang tubuhnya, ia tertatih pelan menuju mobil yang terparkir di halaman. Salah satu bodyguard dengan sigap membukakan pintu untuknya.
"Jalan!" ucapnya pelan.
Supir pun menjalankan mobil perlahan meninggalkan halaman rumah besar keluarga Indrawan.
"Andai aja dulu aku yang di jodohin sama Kavita, pasti sampai saat ini kami masih berada di dalam kebahagiaan rumah tangga. Apalagi di tambah dengan kehadiran putra yang tampan, semakin membuat sempurna keluarga kecil kami, " gumamnya dalam hati.
"Kenapa ... kenapa harus Bang Adrian yang di jodohin sama Kavita sih? Kenapa bukan aku aja? Bukannya aku yang masih single, sementara Bang Adrian bahkan udah punya istri kan saat itu, " Aditya berteriak di dalam hatinya.
__ADS_1
Ia juga sangat ingin berteriak sekencengnya sebenarnya. Dalam hal lain, sang ayah memang tak pernh berlaku tidak adil terhadap dirinya dan juga sangat kakak. Namun ia benar-benar merasa aneh saat tiba-tiba ayahnya menjodohkan Adrian dengan seorang gadis bahkan disaat kakaknya itu sudah punya istri.
Yang membuatnya semakin terluka adalah... wanita itu merupakan wanita yang ia kagumi.
"Aku nggak terima, aku bakalan protes sama papi. Udah cukup selama ini aku diam saja dan malah harus melihat Kavita terluka dan harus menjadi janda muda gara-gara Bang Adrian, " gumam Aditya bertekad.
Giginya bergemerutuk menahan amarah.
Sesampai di rumah, Aditya turun dengan tergesa-gesa. Ia seperti sudah tak perduli lagi dengan keadaan kakinya yang masih dalam tahap pemulihan, seharusnya ia tak boleh memaksakan diri untuk berjalan sembarangan apalagi terlalu cepat seperti saat ini. Karena hal itu bisa kembali membuat otot kakinya menegang, dan bisa menyebabkan pembengkakan pada bekas lukanya yang belum pulih sempurna.
"Mami ... ! Papi ... ! " teriaknya seperti orang kesetanan.
Baru juga kakinya melangkah ke dalam rumah ia sudah berteriak-teriak tak sabaran. Seumur hidupnya baru kali ini Aditya merasa sangat kecewa dan marah, hingga tak bisa menahan emosi yang membara di dalam dada. Biasanya jika ia merasa marah, maka dirinya hanya akan pergi ke tempat yang sunyi dan sejuk untuk menenangkan diri. Tapi kali ini, ia benar-benar tak bisa lagi mengendalikan amarahnya.
"Adrian...! Lo emang laki-laki breng-sek, laki-laki baji-ngan! Gue harus kasih pelajaran sama lo! "
Dok... dok...
Pintu ruangan Adrian di gedor-gedor dari luar, dan berusaha untuk di buka paksa oleh Aditya menggunakan hiasan-hiasan dinding yang terbuat dari kayu jati.
Adrian yang di dalamnya masih dalam keadaan pikiran yang kalut, langsung menatap nyalang pada daun pintu yang menyebabkan suara berisik, hal itu sangat mengganggu dirinya sebenarnya.
"Ap? "
Bugh
Baru saja Adrian hendak membuka mulutnya untuk bertanya pada sangat adik ada apa gerangan, tapi secara tiba-tiba sudah ada sebuah bogem mentah yang bersarang di pelipisnya.
__ADS_1
Pandangannya mengabur seketika, kepalanya terasa pening.
"Apa-apaan sih lo, Di-"
Bugh...
Kembali pukulan mendarat di rahangnya, kini gigi-giginya terasa begitu ngilu.
Adrian pun turut tersulut emosi, ia ingin membalas Aditya. Disaat yang bersamaan muncullah papi dan mami Wijaya yang entah baru dari mana saja mereka.
"Adrian! Apa yang mau kamu lakukan? Dia ini adikmu! " bentak papi Wijaya.
"Adik kurang aja dia, Pih, "
"Tapi tetap tidak seperti ini caranya! "
"Ada apa, Dit? "
"Gara-gara dia, semua orang jadi benci sama Adit, Pi! "
"Apa maksud kamu? "
Adit tertawa miris, "kenapa harus Bang Adrian yang dulu Papi jodohin sama Kavita, Pih? Kenapa? "
Papi Wijaya kaget, ia tak percaya kalau Aditya akan menanyakan hal yang sudah berlalu lumayan lama.
,"It, itu... soalnya kamu kan, "
__ADS_1