
Aditya menatap langit-langit kamar perawatannya. Ia sudah dipindahkan ke ruangan perawatan biasa setelah tadi dirinya berdrama ketakutan di ruangan UGD bak orang kesetanan.
Ia menghela nafas berulang-ulang, meski harus kembali sendirian, tetapi ruangannya saat ini tak seseram keadaan di dalam ruang UGD tadi, fikirnya.
Tak pernah terfikir kan dalam benaknya sebelumnya kalau ia akan mengalami kecelakaan seperti saat ini, pantas saja sang mami merasa berat untuk melepaskan dirinya tadi pagi, ternyata beliau sudah ber firasat buruk terhadap dirinya.
"Jadi harus ketunda dulu gue nyari Kavita'nya... keadaan gue malah kayak gini, mau sampe kapan nih tidur doang begini, " gumamnya sambil mengamati kaki kanannya yang terbalut perban.
Rasanya masih sangat sakit untuk digerakkan, mungkin membutuhkan waktu beberapa minggu untuk bisa kembali berjalan seperti semula. Tak bisa ia bayangkan betapa stressnya dirinya nanti jika harus sendirian selama itu di rumah sakit tersebut. Tak ada satu orangpun yang ia kenal disana. Satu-satunya orang yang dikenal olehnya adalah Nadiva, meski tak terlalu akrab juga. Tapi kini keberadaan gadis itupun entah dimana, ia juga tak punya nomor ponselnya.
"Tapi menurut feeling gue, kayaknya Si Vita nggak jauh dari sini tempat tinggalnya. Perasaan gue mengatakan kalau dia deket sama keberadaan gue soalnya, " gumamnya.
"Haissh... sok-sok'an ber firasat lo, Dit! Kayak Vita siapa lo aja! " monolognya pada dirinya sendiri pula.
Aditya mendudukkan diri, ia menggapai ponselnya yang sejak tadi ia charger di atas nakas. Lelaki itu mulai menghidupkan dan mengoperasikan benda pipih tersebut.
Keningnya mengerut melihat begitu banyak notifikasi yang masuk, ada ratusan pesan dan puluhan panggilan suara bahkan panggilan video di sana. Nomor mamy Shinta, papy Wijaya, bahkan nomor Adrian juga dan dua nomor yang tak dikenalnya, namun ia dapat menduga jika itu dari dua bodyguard yang mendapat tugas untuk mengawal dirinya.
"Gue harus cepet matiin GPS gue biar mereka nggak tau dimana keberadaan gue, " gumam Aditya seraya jari jempolnya meng'klik tombol bergambar GPS di layar menyala itu.
Tapi kemudian ia kembali berfikir, "lhah... tapi kalo gue matiin GPS nya, gimana gue bisa ngecek keberadaan Si Vita coba?" batinnya menimbang.
"Semua ini gara-gara hape pelacak Vita malah ikut kelempar pas motor gue jatoh tadi, " ucapnya saat ingat ponsel yang ia gunakan khusus untuk melacak keberadaan Kavita terjatuh ke dalam jurnag saat sepeda motornya hampir saja masuk ke dalam jurang juga.
__ADS_1
Aditya menghembuskan nafas kasar, "hah... mana jatohnya ke jurang lag. Hmm, tapi..."
"Nah... gue tau! " ucapnya dengan wajah berbinar.
Lalu dengan cekatan jari jemari tangannya mulai mengutak-atik ponsel lagi, senyum devil pun muncul di bibirnya.
"Hmm... silahkan cari gue di jurang itu, Bang. Dan selama pencarian kalian itu, gue bisa mulihin keadaan gue dan nyari si Vita, " gumamnya setelah berhasil mengubah lokasi dirinya ke ponselnya yang terjatuh ke dalam jurang tadi. Sementara ponsel yang ia bawa saat ini ia alih fungsikan khusus untuk misi pencarian Kavita.
Hahaha... apa seperti itulah cinta?
Ia bisa membuat orang menjadi sedikit gila, bisa-bisanya Aditya berbuat seperti itu terhadap keluarganya sendiri hanya demi mencari Vita.
Ya bagaimana lagi, ia bersikap seperti itu juga karena sudah jengah dengan tingkah polah buruk kakaknya, yang membuat dirinya jadi ikut terkena imbas buruk pula.
Foto yang memperlihatkan Aditya tengah memeluk dan mencium mami Shinta dari belakang, yang mengambil foto itu papi Wijaya saat mereka ada di luar negeri beberapa bulan yang lalu. Tepatnya sebelum kepergian Kavita dari rumah Adrian.
Waktu itu kedua orang tuanya sedang datang berkunjung ke kantornya yang ada luar negeri, mereka ingin tau bagaimana keadaan Aditya dan perusahaan baru yang anaknya itu rintis disana.
Papi Wijaya dan mami Shinta bangga akan pencapaian putra bungsu mereka, meski terbilang baru dalam dunia bisnis, tapi Aditya mampu bertahan dan bersaing dengan perusahaan lainnya disana. Papi Wijaya jadi menyadari jika jiwa bisnis sang ayah telah menurun pada diri Aditya.
"Kamu benar-benar menuruni kepandaian, kecekatandan, ketelitian serta kelihaian ayahmu, Dit. Daddy mu pasti bangga melihatmu tumbuh menjadi putra yang cerdas dan bisa di andal kan dalam berbagai macam situasi," batin papy Wijaya kala itu dengan perasaan haru yang hanya bisa ia simpan seorang diri.
Tetapi kabar buruk yang mereka dengar mengenai kepergian Kavita membuat ketiga orang itu memutuskan untuk segera terbang kembali ke Indonesia. Mereka tentu saja ingin memastikan tentang berita yang mereka dengar itu, dan ingin tau juga dari versi Adrian sendiri selaku suami Kavita dan anak papi Wijaya serta mami Shinta.
__ADS_1
Betapa kecewanya hati kedua orang tua Adrian kala itu, saat mengetahui berita itu memang benar adanya, apalgi setelah mereka tau jika penyebab kepergian Kavita adalah akibat dari ulah anaknya sendiri. Hal itu membuat mereka jadi tak bisa berkutik karena tak bisa memberikan pembelaan apapun pada diri Adrian.
Hingga keputusan papi Wijaya sudha bulat, jika Adrian harus mempertanggung jawabkan semuanya, ia harus mencari keberadaan Kavita dan membawa pulang menantu serta cucu mereka tersebut.
"Aku akan mencari dan menemukan Kavita, Pi... Mih... tapi aku tidak akan membawanya pulang sebagai menantu kalian dari status istri Adrian, tapi sebagai calon istriku, " gumam Aditya dalam hati seraya jemarinya mengelus foto sang mami.
Tekad Aditya benar-benar sudah bulat sepertinya, ia sampai sudah siap jika semua orang akan menentang keputusannya nanti. Terutama Adrian kakaknya, yang pasti tidak akan terima jika istri nya ia rebut. Bukan merebut harusnya namanya, tapi lebih tepatnya adalah menyelamatkan wanita itu dari belenggu keegoisan yang Adrian ciptakan.
"Kavita itu wanita yang sangat baik, Bang. Jadi dia itu nggak cocok sama lo yang brengsek. Yang nggak pernah menghargai keberadaan nya, dan malah hanya memanfaatkan dia aja, "
"Cukup satu kali gue ngalah sama lo, Bang. Tapi nggak akan pernah ada lagi kedua kalinya setelah gue tau lo cuma bisanya nyia-nyia'in Kavita doang. Nyakitin hatinya dan selalu ngebuat dia kecewa dan hanya sering bertemankan air mata, " gumam Aditya yang dulu sempat berfikir bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan Kavita.
Dan kebahagiaan Kavita adalah Adrian yang merupakan laki-laki yang ia cintai. Tapi ternyata dirinya salah menilai semuanya hingga harus terjadi sebuah peristiwa yang sebenarnya tidak perlu dialami oleh Kavita dan calon anaknya yang dulu masih ada di dalam kandungan.
"Nggak akan pernah lagi gue ngebiarin lo buat nyakitin Vita. Dan kalau sampe lo berani nyentuh dia seujung kuku pun, lo bakal berhadapan sama gue, Bang, " batin Aditya yang fikirannya fokus tertuju pada Adrian dan segala kelakuannya.
"Vita... tunggu gue. Gue bakal selalu ada buat lo, menghapus air mata lo, menyayangi lo dengan segenap jiwa gue, dan gue bakalan berusaha buat ngebahagiain elo. Sama.... anak lo, " lanjut Aditya membatin.
"Anak Kavita? Anaknya Adrian? Keponakan gue dong? Terus jadi anak gue kalau gue pen nikah sama Vita? " pemikiran konyol itu terlintas begitu saja dalam benak Aditya.
🔥🔥🔥
Dasar si Aditya! Namanya juga Si Kavita udha punya anak, masak iya lo mau emaknya doang! Terus emaknya mau lo kemanain? 😂
__ADS_1