
Ketukan palu yang dilakukan oleh ketua hakim adalah tanda jika sidang sudah resmi di putuskan.
Setelah perdebatan sengit yang terjadi, Kavita memutuskan untuk menghadiri persidangan kali ini. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana wajah kekalahan Adrian.
Pasalnya kemarin Adrian benar-benar datang ke villa milik Valdi yang tengah ditempati oleh Kavita dan putranya untuk sementara waktu. Entah bagaimana caranya ia bisa sampai disana, sepertinya lelaki itu menyewa detektif handal hingga bisa menemukan tempat tinggal Kavita saat ini. Dan sudah dapat ditebak apa yang terjadi jika ada Adrian, pastilah kerusuhan yang terjadi disana.
Maka dari itu, saking jengkelnya terhadap lelaki tempramental itu, membuat Kavita mau menghadiri persidangan tersebut demi bisa melihat kekalahan dan penyesalan dari lelaki yang bernama Adrian, lelaki yang pernah menguasai hati serta pikirannya dahulu.
Adrian mengumpat, memaki, berteriak, bahkan mengamuk kala ketua hakim memutuskan resminya perceraian antara dirinya dengan Kavita. Yang lebih membuatnya kecewa dan marah, hak asuh putranya juga dimenangkan oleh Kavita, bahkan parahnya lagi lelaki itu tak diperbolehkan untuk bertemu dengan sang putra untuk sementara waktu ini. Karena ia terbukti sudah kembali membuat keonaran saat berkunjung ke Villa Valdi.
"Saya tidak terima dengan keputusan ini! Bayi itu anak saya, darah daging saya, buah hati saya, buah cinta anatara saya dengan Kavita! Mana bisa saya tidak diizinkan untuk bertemu dengannya lagi! " teriak Adrian di dalam ruang persidangan yang seharusnya sudah selesai.
Valdi menyunggingkan senyum sinisnya, "masih saja ada yang ingin ia perdebatkan. Setelah semua bukti membuatnya tak berkutik soal Kavita, sekarang dia masih berusaha untuk bertemu dengan baby Kava. Sungguh manusia ..., " kepalanya menggeleng-geleng tak habis fikir.
"Udahlah, Di. Nggak penting banget ngurusin tuh orang, biarin aja dia menggonggong sesukanya, toh keputusan hakim sudah tidak bisa lagi diganggu gugat lagi. Baby Kava mutlak berada di pelukanku. Apa andilnya sampai bisa berucap seperti itu, " timpal Kavita.
Papa Indra menghela nafas, "begitulah kalau orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan hanya apa yang saat itu dia inginkan dan dia suka, tanpa berfikir akan seperti apa kedepannya. Lelaki egois yang hanya mementingkan perasaan serta kesenangannya sendiri, " ucapnya turut berpendapat. Dalam hatinya merasa sangat lega karena telah berhasil memutuskan hubungan putrinya dengan lelaki yang dulu dipililih olehnya sendiri, yang membuat sangat putri tergantikan kebahagiaannya.
Valdi hanya tersenyum mendengar kalimat dari papa Indra, ia tak berani berkomentar, sebab ia merasa jika dirinya sendiri pun belumlah sempurna, belum tentu juga dia bisa menjadi lebih baik dari Adrian nanti jika sudah bersama Kavita. Begitu fikirnya, namun tak berarti juga ia menyerah dengan perasaannya terhadap wanita itu. Wanita yang sudah berhasil menguasai fikirannya dan membuat hari-harinya menjadi lebih banyak kupu-kupu yang beterbangan di pandangannya.
"Yasudah, ayo kita pulang ke rumah! Sudah tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, semuanya sudah selesai," ajak papa Indra pada Kavita, "kalau kamu masih merasa khawatir tentang Adrian yang akan menganggu, kita bisa sewa bodyguard yang lebih banyak lagi. Kalau perlu kita minta perlindungan dari pihak kepolisian jika nanti laki-laki itu masih saja mau nekat," lanjutnya lagi.
"Baik, Pa, Vita nurut aja sama Papa gimana baiknya. Kalau memang menurut Papa kita harus kembali ke rumah Papa, ya Vita sama anak Vita mau aja," jawab Vita.
__ADS_1
"Hey, itu tetap rumah kalian juga sampai kapanpun, Vit! " sahut papa Indra.
"Kamu itu anak yang terlalu penurut, Vit. Bahkan kamu sampai rela mengorbankan kebahagianmu demi Papa, demi menuruti kemauan Papa waktu itu, yang ternyata hanya menjerumuskan kamu ke dalam neraka rumah tangga, " lanjut papa Indra lagi seraya merangkul bahu putrinya.
"Papa jangan ngomong kayak gitu! Vita nggak suka kalau Papa kembali mau nyalahin diri sendiri, " seru Kavita.
"Lagian kan waktu itu juga Vita memang mau, Vita juga yang udah suka duluan sama orang itu. Mana tau kalau ternyata orangnya kayak gitu, " sanggahnya.
Kavita, Papa Indra, Valdi, Om Dino serta pengacara Dodi keluar dari ruangan sidang, meninggalkan Adrian dan kedua orangtuanya dengan kekalahan plus kekecewaan mereka oleh keputusan hakim.
Mereka semua kini bisa bernafas lega serta tersenyum bahagia. Begitu pula Valdi yang sudah mulai menyusun rencana ini dan itu di dalam angan-angannya. Sampai pada ada seseorang yang berdiri di hadapan mereka dan menyapa Kavita.
"Hai, Vit ... Om, dan semuanya," sapa orang tersebut," selamat ya, kamu udah resmi pisah dari Bang Adrian. Berarti kita udah kakak adek lagi, kan, " lanjutnya seraya menyalami Kavita.
Aditya!
Ya, Aditya tiba-tiba saja muncul di hadapan keimanan orang tersebut begitu mereka keluar dari ruang persidangan. Wajahnya ramah serta terkesan cengengesan seperti biasanya.
Jangan tanya ekspresi papa Indra yang sudah datar begitu laki-laki itu muncul, kedua lelaki yang sudah seperti pengawal pribadinyan pun mengikuti ekspresi wajahnya juga. Senyum Valdi pun juga sudah menguap berganti dengan wajah keki.
Berbeda dengan para lelaki, Kavita justru malah menampakkan wajah yang bersahabat kepada mantan adik iparnya tersebut.
"Hai, Dit. Thanks ucapannya, " balas Kavita tersenyum, dengan tangan yang masih bertaut dengan Aditya.
__ADS_1
Valdi menatapnya tidak suka, ingin rasanya ia menarik tangan Aditya yang masih menggenggam erat tangan Kavita. Apalagi senyum Kavita terlihat begitu manis dimatanya, membuatnya merasakan ada yang terbakar di dada.
"Huh! Belum apa-apa udah cemburuan aja lo, Di! Ingat, jangan sampai nggak bisa kontrol emosi, bisa-bisa Kavita kabur sebelum gue perjuangin, " batin Valdi menenangkan diri. Tak dapat ia pungkiri rasa cemburu yang menggelayut membuat dirinya ingin marah dan berteriak juga.
"Akrab banget sih mereka, " gumamnya melihat Kavita dan Aditya yang tengah mengobrol, meski hanya sekedar berbagi kabar tetapi di mata Valdi hal tersebut tetaplah menyebalkan.
"Gimana nih, ada lowongan dong gue, " ucap Aditya, membuat Kavita mengernyitkan alisnya bingung.
"Lowongan apaan? "
"Lowongan dalam kekosongan hati lo lah, masak lowongan kerjaan sih, "
Jengah juga papa Indra mendengar perkawinan Aditya, hingga memutuskan untuk berjalan lebih dulu.
"Papa tunggu di depan, Vit. Jangan lama-lama!" ucapnya pada Kavita, "Valdi, tolong kamu temenin Vita, dan ajak dia pulang nanti kalau udah selesai ngobrolnya, " titahnya pada Valdi.
"Assiyaap, Om, " Valdi yang mendapat perintah langsung dari papa Indra pun merasa bersemangat kembali, karena ia merasa lebih dipercaya oleh ayah Kavita itu daripada lelaki yang saat ini masih berusaha mengajak Kavita mengobrol.
"Kenapa Om Indra nyuruh dia buat nemenin kita, Vit? Memangnya kita anak kecil yang perlu di awasin, " sewot Aditya, tak suka melihat Valdi yang kini lebih mendekat kepada Kavita.
Vita mengedikkan kedua bahunya, "mungkin dia lebih bisa dipercaya daripada elo kali, " dengan entengnya Kavita menjawab seraya berlalu.
"Kavita ... !!! " terdengar kembali suara bariton berseru memanggil nama Kavita yang baru saja melangkah.
__ADS_1
Aditya dan Valdi kompak berdiri di belakang Kavita, menjaga wanita yang saat ini sama-sama menjadi pusat perjuangan mereka. Maka keduanya akan pasang badan untuk Kavita apapun yang akan terjadi.