Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Terpaksa Menolong Aditya


__ADS_3

"Lo yakin mau balik? Udah mau malem ini.. " tanya Valdi pada Vero seraya melihat jam di pergelangan ta fannya yang sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit.


"Yakin lah, besok gue mau ngampus soalnya. Udah sering absen mulu, " balas Vero dengan yakinnya.


"Gue ikutlah, sekalian besok mau cek butik. Dah lama juga gue gak cek kesana, " sahut Diva pula yang sudah siap menyangklong tas ransel kecil miliknya.


"Yaudah ayok kalo mau bareng lagi, " ajak Vero pada Diva.


"Ya iyalah gue mau bareng lo!" tunjuk Diva pada Vero, "orang kita berangkat nya bareng-bareng, masak pulangnya sendri-sendiri sih, " sewot nya.


"Yaudah kalau kalian emang mau balik sekarang, hati-hati.. lewat jalan utama aja, jangan jalan pintas. Rawan kalo malem, apalagi kayaknya mau ujan gini, " ucap Valdi memperingatkan, pandangannya menyapu sekeliling pada langit yang terlihat mendung.


"Jauh kalo lewat jalan utama, Bang, " jawab Vero seraya merapihkan ranselnya.


"Deketan lewat jalan alternatif, lebih dekat lebih cepet. Gak terlalu banyak makan waktu juga, " lanjutnya kemudian


"Yerserah lo dah, yang penting ati-ati aja, nggak usah ngebut, " pesan Valdi.


"Oke, Bang. Gue titip salam aja sama Kak Vita kalau dia udah bangun entar, "


"Lagian kalian tuh kesini tujuannya apaan coba?Cuma dua menit doang terus udah mau balik lagi. Gue kirain kalian tuh mau nginep gitu, " heran Valdi pada dua orang terdekat Vita yang terkadang bersikap abstrak itu.


"Kan kemarin udah nginep, Bang, lagipula tadi nggak pamit dulu sama mama papa, cuma dari kampus aja terus langsung kesini mau cek keadaan kak Vita sama ponakan unyu gue, eh.. ternyata belum bangun juga," terang Vero dengan nada setengah kecewa.


Valdi manggut-manggut, "hmm, ya gitulah, Ver, keadaan mereka. Butuh waktu dan proses, "


" Iya, Bang. Gue pamit, " ucap Vero seraya menyalami tangan dokter Valdi.


Valdi menerima jabatan tangan itu erat, "oke, hati-jati, "


"Oke, " balas Vero, lelaki itu sudah berjalan menuju tempat parkir.


"Bye, Dok. Jan lupa kabarin kalau ada apa-apa sama mereka berdua ya.. meski itu tengah malem sekalian juga gue bakal usahain langsung dateng kalau darurat, " pamit Diva pula dengan meninggalkan pesan.


"Iya-iya, "


Kedua orang itu nekat untuk kembali ke kota meski cuaca seperti nya sedang tidak bersahabat. Belum ada setengah jam kedua orang itu berkendara, mereka mendengar suara seperti ada yang menabrak sesuatu di depan sana.


Brak... suara itu terdengar nyaring di antara derasnya hujan yang mengguyur.


"Lo denger suara itu nggak, Ver? Itu petir apa bukan sih? " tanya Diva pada Vero yang fokus menyetir.


"Denger. Tapi kayaknya bukan suara petir deh, soalnya nggak keliatan kliatannya. Kalau misalkan petir 'kan ada kiblatnya, " jawab Vero.


"Bener juga ya. Terus itu apaan dong? " tanya Diva lagi.

__ADS_1


"Mana gue tau, orang kita daritadi barengan gini bisa-bisanya lo nanya gue, " sewot Vero.


"Kita cek, yuk! " ajak Diva.


"Ogah. Ntar kalo begal gimana? Udah siap mati lo? " Vero enggan mengecek ada apa di depan sana, karena titik itu memanglah titik rawan.


"Nggak ada begal, Vero. Kalau itu orang kecelakaan gimana? Kan kasihan dia.. emangnya lo mau kalau pas kesusahan gak ada yang nolongin? " pancing Diva.


"Ogah ya! Jangan sembarangan lo kalo ngomong!" tolak Vero langsung.


"Makanya, bantuin..! " seru Nadiva setengah memaksa.


"Iya-iya ah, bawel! Moga aja bukan begal, kalo sampe begal. Kita mati bareng pokoknya, " tandas Vero yang setengahnya masih merasa parno kalau-kalau itu hanyalah modus bari dari begal.


"Lhah.. ngomongnya kagak disaring ni bocah! "


"Biarin! Yok turun! " ucap Vero bergitu mobil yang ia kendarai terhenti tak jauh dari kecelakaan yang menimpa Aditya.


"Payung mana? " tanya Diva seraya menjulurkan tangannya.


Vero mengedikkan kedua bahunya, "auk ah, "


"Ish.. Vero mah ngeselin! " pekik Diva yang kerepotan mencari payung di bagasi mobil Vero.


"Iya-iya, " Diva berteriak, lalu cepat berlari dengan tangannya yang membawa payung menuju Vero dan Aditya berada.


Kedua orang itupun turun dan mendekati Aditya yang masih terkapar di tempatnya semula dengan keadaan yang memprihatinkan. Kaki Aditya tertindih oleh badan motornya sendiri sehingga ia kesulitan untuk beranjak dari sana.


Untung saja helm fullface yang di pakainya masih aman bertengger di kepalanya, jika tidak mungkin kepalanya juga sudah ikut cedera akibat kecelakaan tersebut.


Vero mengangkat motor Aditya, maksudnya mendirikan motor tersebut agar Diva bisa menarik Aditya dari bawah motor besar itu.


"Gue angkat motornya, lo langsung tarik orang itu!" titah Vero pada Diva, yang diacungi jempol oleh gadis itu tanda setuju.


Setelah orang itu berhasil keluar dari kungkungan motor nya sendiri, Vero segera membuka helm yang dikenakan oleh orang tersebut.


"Hah! Aditya?" serunya saat melihat wajah Aditya ada di balik helm fullface itu.


"Aditya? " tanya Diva pula memastikan pendengarannya.


"Kalau tau itu lo, nggak sudi gue nolongin lo! Biar lagi aja sekalian disana tadi, " tandas Vero, ia melemparkan helm Aditya yang masih di tangannya.


"Vero! Lo nggak boleh ngomong kayak gitu! " teriak Diva.


"Apa, Kak? Lo mau belain dia? Lo tau 'kan dia itu siapa? Adik dari lelaki brengsek itu! Dia pasti sama dengan orang itu 'kan! " Vero menunjuk-nunjuk Aditya yang tengah tak berdaya, untuk sekedar mengucapkan sepatah kata saja lelaki itu rasanya tak mampu.

__ADS_1


"Belum tentu mereka itu sama, Vero! Gue nggak bermaksud buat ngebelain siapapun disini. Gue cuma mau nolongin dia yang lagi kayak gini keadaanya sebagai rasa kemanusiaan aja, " jawab Diva tak kalah berteriak. Karena memang keadaan hujan yang deras membuat suara mereka tak begitu terdengar.


"Hah... sial! Kenapa juga gue musti ketemu sama saudara dari laki-laki baj-ngan itu! " rutuk Vero yang marah, ia menyukai rambutnya yang basah dengan kasar.


"Oke, kita tolongin dia. Tapi lo harus inget kata-kata gue, Kak. Kalau sampai ni orang ada sangkut pautnya sama si brengsek itu dan modus melakukan semua ini, lo yang harus tanggung semua akibatnya, " ucap Vero dengan tegas.


Ia sangat tidak ingin jika kakaknya harus kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah menyakitinya, apalagi jika orang itu ingin kembali menorehkan luka pada hati kakak tercintanya itu. Sungguh, ia akan menjadi orang yang pertama membela sang kakak, Kavita.


Nadiva menelan salivanya dengan susah payah, ini kedua kalinya ia melihat kemarahan Vero yang amat nyata. Yakni saat mengetahui Kavita dikhianati Adrian, dan sekarang karena Aditya, adik Adrian , lelaki yang sangat ia benci.


"Iya, Ver. Gue jamin, Aditya nggak ada sangkut pautnya dengan kejahatan Adrian. Bahkan dia sebelum ini tinggal di luar negri, dia pasti nggak tau soal urusan Vita sama Adrian, "


Vero hanya mendengus, lalu menarik tubuh Aditya yang tingginya sama dengan dirinya, bahkan Aditya meiliki tubuh yang lebih besar daripada dirinya. Aditya dimasukkan di bangku penumpang bagian belakang dengan Diva yang menemaninya. Sedangkan Kavero kembali ke belakang kemudi untuk menyetir dan berbalikemuju rumah sakit lagi.


"Jangan sampai orang itu ketemu sama Kak Vita. Kasihan Kak Vita kalau harus kembali mengingat-ingat kejahatan yang sudah dilakukan oleh suaminya dulu, " gumam Vero dalam hatinya. Matanya berulang kali melirik pada Aditya yang duduk di kursi belakang dengan Diva.


Ketiga orang tersebut sampai di rumah sakit kembali, Aditya segera dilarikan ke ruang IGD. Sedangkan Vero menuju ruangan kakaknya untuk mencari dokter Valdi dengan maksud ingin meminjam pakaian dari dokter muda itu.


"Loh, kok lo balik lagi, Ver? Mana basah kuyup kayak gitu lagi, " tanya Valdi yang heran melihat kondisi Vero begitu lelaki itu masuk kedalam ruangannya.


"Hmm.. pinjem Anduk sama pakaian, Bang. Dingin banget nih.. " Vero masih engga membicarakan tentang Aditya, jadi ia hanya bicara seperlunya saja.


"Oke, " balas Valdi, ia menangkap raut yang tak biasa pada pemuda di depannya itu.


"Apa terjadi sesuatu di perjalanan? " gumamnya dalam hati setelah Vero masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Valdi keluar ruangannya untuk mencari keberadaan Diva, ia ingin menanyakan apa yang telah terjadi pada mereka sehingga harus kembali lagi ke rumah sakit dengan keadaan basah kuyup dan mood yang buruk, padahal saat berangkat tadi semuanya masih terlihat baik-baik saja, malahan Vero asyik menatap dirinya dengan tatapan jahil karena dirinya yang terkena jebakan Vero sehingga mengakui perasaannya terhadap Vita.


Sampai di dekat ruang IGD, ia bertemu dengan salah satu dokter yang tengah terburu-buru masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti oleh beberapa orang perawat.


"Apa ada pasien, Sus? " tanyanya pada salah satu suster.


Suster itu menghentikan langkahnya, "iya, Dok. Pasien kecelakaan di titik rawan jalan alternatif yang diselamatkan oleh seorang laki-laki dan wanita, "


Valdi menaikkan kedua alisnya, "apa Vero dan Diva yang menyelamatkan mereka? " gumamnya.


"Saya tidak tahu, Dok. Permisi... " Valdi mengangguk.


Ingin dirinya mengetahui siapa pasien tersebut, tapi itu bukan merupakan wewenangnya karena dia merupakan dokter kandungan, bukannya dokter umum.


Valdi hanya mengedikkan bahunya, dan memilih untuk mengecek keadaan Kavita saja lalu bayinya. Takut-takut kalau nanti wanita tersayangnya itu terbangun dan menagih janjinya untuk mengizinkan Kavita menggendong putranya.


"Valdi...! Mana anak gue? " seru Vita begitu lelaki itu membuka pintu kamarnya. Seakan-akan sudah sangat yakin jika yang membuka pintu adalah Valdi dan bukan orang lain.


"Nah... bener 'kan, "

__ADS_1


__ADS_2