Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Soulmate (?)


__ADS_3

Hari berganti, sampai tibalah dimana tanggal yang tertera pada surat gugatan perceraian yang dilayangkan atas nama Kavita kepada Adrian. Lelaki itu saat ini tengah terduduk lemas di sofa empuk di dalam kamarnya. Kamar yang sudah beberapa bulan ini terasa sunyi sepi tanpa kehadiran sang pencuri hati. Apalagi si buah hati yang bahkan belum sempat dirinya temui.


"Apakah ini nyata?" Adrian kembali menatap selembar kertas dengan tulisan menakutkan disana. Bukan karena tertulis oleh darah atau bergambar sesuatu yang menyeramkan, hanya beberapa kata saja sudah sangat membuatnya merasakan takut. Takut untuk yang kedua kalinya, takut akan kehilangan tambatan hati yang kini ia sadari telah bertahta di sanubari.


"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?" gumamnya lesu.


Dulu, hal ini memanglah sangat ia inginkan. Dulu, bahkan ingin sekali mulutnya mengatakan kata keramat itu. Itu dulu, sebelum dirinya merasakan kenyamanan dan kasih sayang tulus yang diberikan oleh wanita yang dulu amat dibencinya.


Kini semuanya terasa menyakitkan baginya, sebab ia terlambat menyadari semuanya. Setelah kepergian Kavita, barulah ia merasakan kehilangan, barulah ia tersadar jika selama ini wanita itu tulus terhadapnya, bukan hanya karena sesuatu hal atau ada maksud terselubung semata.


"Vita ... tolong pikirkan sekali lagi. Mungkin kita masih bisa berdamai, dan rujuk kembali, demi anak kita, Vit," ucapnya lirih, sebuah foto sepasang pengantin yang terlihat begitu berbahagia ia pandangi.


Senyum palsunya kala dulu, kini ia sesali. Senyum tulus Kavita yang dulu ia sangka hanya sandiwara belaka, kini ia rindukan. Ya, semuanya memanglah baru akan terasa jika sudah tiada lagi disisi.

__ADS_1


"Kenapa tidak dari dulu saja kamu tersadar, Dri! Supaya tidak pernah ada kata penyesalan di dalam kamus kehidupanmu, " menyalahkan diri sendiri, hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.


Menyalahkan segala kebodohan dirinya dan kenaif-annya.


Penampilannya sudah rapih sejak tadi, namun sampai saat ini Adrian masih enggan beranjak dari tempatnya semula, yang nantinya hanya akan mendapatkan luka saja, fikirnya.


Namun disisi lain, ia berfikir bisa saja nanti dirinya akan bertemu dengan Kavita dan akan mengajaknya mengobrol dari hati ke hati, lagipula bukannya ada sesi meditasi berdua. Senyumnya terkembang membayangkan akan berjumpa dengan Kavita dan bisa bicara empat mata saja dengan wanita itu. Hal itu akan ia manfaatkan sebaik mungkin untuk bisa membujuk dan merayu guna mendapatkan hati Kavita kembali dan mereka akan bisa bersama lagi.


Lelaki itu menghela nafas dalam sebelum berjalan keluar kamar dan menyapa dunia, dengan harapan besar bisa kembali membangun rumah tangga nya yang sudah berada di ujung tanduk.


"Sudah siap, Adrian? " tanya mamu Shinta saat melihat Adrian turut duduk di meja makan. Wajah putranya tampak datar, namun sudah tak terlalu kusut dan pucat seperti hari terakhir saat lelaki itu pingsan karena terlalu stress memikirkan Kavita.


"Sepet yang Mami lihat, " jawab Adrian datar, sedatar wajahnya. Kemudian ia meraih sepotong roti panggang buatan ibunya dan menyantapnya bersama dengan selai strawberry, melihat hal itu kembung membuatnya teringat kepada Kavita yang sangat menyukai menu sarapan seperti itu. Tak lupa segelas susu strawberry juga menjadi pelengkapnya. Senyum tipis terbit di bibirnya memandangi sepasang menurut itu.

__ADS_1


Mami Shinta mengernyit aneh melihat putranya, ia khawatir jika Adrian sudah menjadi gila karena akan menghadapi persidangan hari ini.


"Dri... kamu baik-baik saja 'kan, Nak? " tanyanya penuh penekanan.


"Baik, bahkan sangat baik. Karena Adrian bakal kembali rujuj sama Kavita," jawab Adrian dengan pedenya.


"Kamu yakin Kavita bakalan mau? " cukup hati-hati mami Shinta mengucapkan kalimat itu, tapi melihat Adrian santai saja mendengarnya, ia jadi lega.


"Pasti! Kita kan udah soulmate, "


"Huweek... "


Adrian menoleh dengan tatapan mata nyalang ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2