Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Curi-curi Kecup


__ADS_3

Kavita memanyunkan bibirnya saat tak mendapatkan izin dari Valdi untuk bisa tidur dengan anaknya. Ia kembali tak mau berbicara dengan dokter muda itu dengan dalih ngambeg.


Valdi pun merasa pening akan hal itu, padahal ia sudah dengan lembutnya memberikan penjelasan kepada mahmud itu agar mengerti tantang kondisi anaknya. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan kavita karena wanita itu memiliki kekhawatiran yang mendalam terhadap putranya tersebut.


Ia juga memiliki ketakutan tentang bayinya yg akan diambil oleh ayahnya, apalagi setelah ia mendapatkan mimpi buruknya tadi, wanita itu jadi semakin over protektif terhadap si bayi.


"Vita... Sa-"


"Sayang-sayang pala lo pe-"


"Peyang? Emangnya siapa juga yang mau bilang sayang? " sahut Valdi yang diteruskan dengan tanya dan senyum jahilnya.


"Auk ah! " balas Vita sewot.


Wanita itu mencoba memutar kursi rodanya dan bermaksud ingin kembali ke ruang perawatan nya sendirian. Tapi ia merasa kesulitan untuk menjalankan kursi roda tersebut. Sendangkan untuk berjalan kaki, ia masih belum terlalu kuat meski hanya untuk sekedar berdiri saja.


Valdi mengehela nafas dan meraih pegangan pada kursi roda tersebut, setelah ia memberikan kode pada temannya sesama dokter dan suster untuk mengurus bayi Kavita yang sudah kembali tertidur di dalam inkubator dengan beberapa selang yang masih terpasang itu.


"Vit... " panggil Valdi seraya mendorong kursi roda Kavita. Tetapi Kavita terdiam tak menyahut sama sekali panggilan dari Valdi.


"Emm... lo ada rencana belum sih, mau kasih nama si little angle itu siapa? "


Kavita tetap terdiam namun ia jadi memikirkan pertanyaan dari Valdi barusan.


"Iya juga ya, anak aku 'kan udh umur dua bulan lebih, tapi aku belum juga kasih dia nama. Kenapa nggak kepikiran sih? Dasar Vita oon! " gumam wanita itu dalam hati seraya tangannya menjitak kepalanya dan menyalahkan dirinya sendiri.


Valdi yang melihat hal itu sedikit terkejut tapi ia diam saja dan hanya mengulum senyum, "kayaknya dia juga lagi kepikiran deh" bisik lelaki itu dalam hatinya.


Ia merasa mendapatkan topik yang tepat untuk dapat mengobrol dengan Kavita seraya mengalihkan perhatian wanita itu dari rasa cemas yang saat ini tengah melanda jiwanya.


Bukanya membawa Kavita kembali ke ruangannya, Valdi malah membelokkan kursi roda itu menuju taman rumah sakit. Kavita mengernyit dan bertanya dalam hati, tapi masih tetap enggan menyuarakan pertanyaannya.

__ADS_1


Sampai pada salah satu kursi, Valdi menghentikan kursi roda Kavita. Ia mengunci rodanya dan membungkuk di depan Kavita, sehingga wanita itu dengan reflek memundurkan badannya ke belakang.


Valdi tersenyum, ia menyusupkan kedua tangannya di belakang punggung Kavita dan di bawah kaki wanita itu. Lalu ia menggendongnya ala bridal dan ia duduk kan di kursi, setelah memastikan wanita itu nyaman dengan posisinya, barulah ia mendudukkan bokongnya sendiri di samping Kavita.


Dokter itu menghirup udara dalam sebelum mebuka kembali percakapan, "udaranya segar ya... cuacanya juga cerah banget malam ini, " ucapnya seraya memandang langit malam yang bertabur bintang-bintang.


"Hemh! " Kavita hanya mendengus.


Valdi terkekeh, " lo masih ngambek aja sama gue. Kan gue udah bilang, kalo gue ngelakuin semua itu buat kebaikan si baby sendiri, buat kebaikan lo nya juga, "


"Udara malam nggak baik buat ibu menyusui, " tukas Vita dengan nada ketus.


"Kata siapa? " tanya Valdi dengan nada geli, entah kenapa melihat Kavita yang ngambeg seperti itu justru membuat nya semakin ingin menggoda wanita tersebut.


"Gue! " Kavita mengelus-elus lengannya yang hanya berbalut kemeja pasien yang tipis.


Valdi membuka jas putihnya, lalu memakaikan jas tersebut ke tubuh Kavita. Wanita itu ingin menolak tapi Valdi bersikeras tetap akan memakaikannya atau bilang akan memeluk wanita itu jika Vita menolak. Jadi mau tak mau Kavita hanya bisa pasrah saja menerima jas dokter milik Valdi yang memang membuat tubuhnya menjadi lebih hangat.


"Gue tau kekhawatiran lo terhadap adik bayi, karena gue juga merasakan nya, Vit. Jadi... jangan anggap lo sendiri aja yang menyayangi anak itu. Gue juga sayang banget sama dia, " ucap Valdi setelah beberapa saat hening.


"Gue akan melakukan apa aja buat bayi itu, gue akan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga gue, " Valdi menoleh pada Vita sehingga wajah mereka berhadapan untuk beberapa saat.


Namun Vita segera mengalihkan pandangannya ke depan karena tak ingin berlama-lama bertatapan dengan Valdi. Tapi belum sampai ia benar-benar menghadap depan, tangan Valdi sudah menangkup wajah wanita itu agar kembali menghadap dirinya.


"Tatap mata gue, Vit! Apa lo liat ada kebohongan dan kepura-puraan disana? " tanya Valdi yang menatap lekat manik mata Vita.


Vita merasa aneh, kenapa tiba-tiba lelaki itu berbicara seserius itu padanya. Dan Vita hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Apa gue pernah sekali aja buat lo kecewa? " tanya Valdi lagi yang membuat Vita kembali menggeleng.


"Gue seneng bisa ngelakuin semua itu buat lo dan little angle. Karena gue sayang sama kalian, Vit, " ucap Valdi degan lembut tapi mampu membuat Kavita membeku seketika.

__ADS_1


"Apa maksudnya? " untuk sesaat fikiran Vita oleng.


Ditatap sedemikian rupa oleh makhluk berlainan jenis membuat bhatinya merasakan sesuatu yang aneh. Padahal selama ini ia sangat menginginkan hal tersebut bterjadi pada dirinya. Tapi karena yang ia harapkan adalah Adrian, seorang lelaki yang tak pernah mencintainya saat mereka masih bersama dulu, jadi harapan itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.


Kini, ia mendapatkan perlakuan lembut itu dari seorang lelaki yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya akan berucap seperti itu terhadapnya. Namun Kavita tak mau buru-buru menyimpulkan perkataan Valdi tersebut dengan suatu ungkapan, karena ia tak ingin kembali terluka.


Melihat Vita yang hanya diam mematung seraya memandangnya, Suatubide jahil kembali muncul dalam otak Valdi. Lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, lalu ia menyambar pipi Kavita untuk ia kecup dengan cepat.


Anggapan Valdi jika Kavita akan berteriak sambil memukuli lengannya salah besar, karena Kavita justru semakin mematung di tempat. Valdi jadi khawatir karena nya.


"Apa gue ngelakuin kesalahan? Gue nggak bermaksud apa-apa kok, cuma mau ungkapin rasa sayang gue aja, nggak lebih. Pliss, Vit. Jangan marah ya... " batin Valdi berharap.


"Vit? Lo nggak kenapa-napa 'kan? " tanyanya hati-hati.


"Eng-gak papa," balas Vita tergagap.


Wanita itu berbalik menatap depan, ia berusaha menenangkan hatinya.


Hmm... apakah posisi Adrian akan segera tergeser?


"Oh ya, mengenai nama baby yang gue tanyain tadi, lo udah nemu belum nama yang tepat dan lo suka? " ucap Valdi yang bisa lebih cepat menguasai keadaan dan segera mengalihkan perhatian.


Padahal, jantungnya pun berdebar tak menentu sebenarnya. Bukan hanya karena ia menahan rasanya terhadap wanita itu, tapi karena ia juga takut kalau Kavita akan marah padanya dan ingin menjauhi dirinya. Selama ini, ia sudah cukup nyaman meski hanya dengan mengurus dan merawat Kavita beserta bayinya.


Yang terpenting untuknya saat ini, wanita itu terus ada dalam pandangan matanya. Ia bisa melihat Kavita setiap waktu, merawatnya, juga saling bercanda dengannya. Setidak itu cukup untuk saat ini. Biarkan ia melakukannya secara bertahap.


🔥🔥🔥


Pelan-pelan tapi jangan kelamaan, Bang Valdi!


Ntar keburu ada saingan, baru repot loh...!

__ADS_1


"*Minal Aidin Wal Faidzin bagi para readers yang merayakannnya🙏 "


Semoga di hari yang fitri ini kita senantiasa berada dalam ampunan-Nya. Amin🤲*


__ADS_2