Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Malam Pertama Di Pagi Hari


__ADS_3

Pov Autor


Pemandangan ibu kota yang padat dengan segala hiruk pikuknya memenuhi ruang mata gadis yang saat ini tengah berdiri di balkon sebuah hotel berbintang. Berulang kali gadis itu menghela nafas yang seakan terasa berat.


Bagaimana tidak, di hari pertamanya menjadi seorang istri, harusnya ia saat ini sedang merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena baru saja kemarin ia menikah dengan lelaki idamannya.


Tapi bukannya bahagia, justru ia merasa aneh dengan keadaan dirinya dan lelaki yang menyandang status sebagai suaminya itu. Baru di malam pertama saja, lelaki itu sudah menunjukkan gelagat aneh. Tapi di pagi harinya, lelaki itu bersikap manis. Dan sekarang, kembali menjadi asing lagi.


Kavita benar-benar merasa bingung bagaimana harus menghadapi Adrian. Lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya sejak menikahinya kemarin.


"Apa emang gini sih rasanya nikah? Kok aneh ya menurut gue, bukannya harusnya pengantin baru tuh manis-manis, romantis-romantisan, terus mesra-mesraan gitu ya, tapi ini kok-" belum selesai Kavita menggumam dengan dirinya sendiri. Dia merasakan ada yang memeluknya dari belakang.


"Pak Adrian? " panggilnya menerka.


"Ya, Sayang... "


Deg.


"Ini beneran dia... OMG. Deg-degan banget gue dipeluk kayak gini, " Sorak girang Kavita dalam hatinya.


"Pak Adrian-"


"Jangan panggil 'Pak', dong! Ini'kan bukan di kantor, " ucap Adrian yang sudah meletakkan kepalanya di bahu Kavita.


Posisi Adrian yang tetap berada di belakang Kavita dengan menumpukkan kepalanya pada bahu Kavita yang terbuka. Sedangkan tangan yang melingkar di perut gadis itu, ditambah kepala nya diletakkan di bahu Kavita hingga hembusan nafasnya begitu terasadi leher Kavita, membuat gadis itu menahan nafas karena nervous.


"Okey, terus musti panggil apa dong? " balas Kavita mencoba menenangkan hatinya.


"Aku sudah memikirkan nya soal tawaran kamu semalam, "


"Tawaran? " Kavita hendak menoleh, namun segera ditahan Adrian agar tetap menghadap kearah depan.


"Iya, yang semalam kamu mau punya panggilan khusus diantara kita, "

__ADS_1


"Jadi dia mikirin itu? Kirain dia cuma asyik sama hapenya doang. Ternyata... maaf ya, suamiku. Aku udah berburuk sangka sama kamu, "


Kavita merasa tersentuh, seketika perasaan gondok, kecewa, marah, jengkel menguap begitu saja. Berganti dengan rasa senang gembira tak terkira.


"Terus, kamu maunya dipanggil apa?" tanya Kavita lagi.


"Emm, sayang boleh. Hubby lucu juga, terserah kamu deh maunya manggil apa, "


"Oke, Hubby... " tangan kanan Kavita mengelus rahang Adrian, sedang tangan kirinya berada di atas tangan Adrian yang melingkar di perutnya.


Dari arah yang tak diketahui oleh siapapun, bidikan kamera terarah pada pasangan pengantin baru itu yang tampak sangat bahagia itu.


Adrian mengecup pundak Kavita yang terekspos. Memang dress yang dikenakan Kavita saat ini menampakkan kemulusan leher jenjang hingga pundak Kavita. Kesan cantik dan tetap sopan ditonjolkan oleh desain dress yang memiliki panjang sedikit di bawah lutut tersebut.


Kavita memejamkan mata menikmati perlakuan manis Adrian, yang entah itu tulus atau tidak. Adrian turut memejamkan mata, ia mengeratkan pelukannya pada wanita yang sudah dah menyandang status sebagai istrinya.


Maka suka atau tidak suka, terpaksa ataupun sukarela, ia tetap harus bisa menerima hubungan baru yang sudah terjalin itu. Jalinan kasih suci pernikahan yang tak boleh dinodai oleh hal apapun juga.


Adrian kembali mengecup pundak Kavita pelan, lalu merambat ke leher jenjang gadis itu, dan menghirup aroma segar Kavita yang memang suka wewangian yang berbau manis dan segar seperti buah yang baru saja di petik.


"Adrian, kau gila! " Kemelut pikiran Adrian bertentangan.


"Eungh, " lenguhan samar keluar dari bibir Kavita tanpa gadis itu sadari.


Hal tersebut berhasil membuat jiwa lelaki Adrian bangkit dan merasakan sesuatu di dalam dirinya.


"Oh, ****! Adik gue terpancing, " umpat Adrian dalam hati.


Kepalang tanggung, Adrian semakin tak mampu mengendalikan diri saat tangannya menyentuh sesuatu yang menonjol pada istrinya. Rasa ingin bergerilya lebih jauh membuatnya tak mampu lagi mempertahankan egonya.


Adrian meremas gundukan tersebut, dengan terus mengecupi leher Kavita dan memperdalam hirupannya. Ia semakin merasa ingin yang lebih dari gadis itu.


Merasa tak mampu lagi menahan gejolak hasratnya, Adrian membimbing Kavita ke dalam kamar hotel. Kakinya menggeser pintu begitu mereka berdua masuk ke dalam.

__ADS_1


Adrian membalik Kavita hingga menghadap dirinya, ternyata gadis itu masih setia memejamkan mata, seolah-olah takut semuanya akan berakhir jika ia membuka matanya.


Lelaki itu mendekatkan dirinya pada sang istri, naluri nya mengajak untuk merasakan bagaimana manisnya bibir ranum Kavita. Apalagi dengan mata yang terpejam dan bibir yang sedikit terbuka, membuat wanita di hadapannya itu tampak sangat menggoda.


"Jika memang ini yang kamu mau, baiklah. Aku akan menurutmu dan akan menikmatinya, " batin Adrian yang entah ditujukan pada siapa.


Adrian mendekatkan wajahnya pada Kavita, dengan perlahan namun pasti bibirnya menempel dengan sempurna pada bibir istrinya itu.


"Kenyal dan manis, bahkan melebihi tampilannya, "


"Oh God. Adrian nyium gue.. gue harap ini bukan mimpi... "


Kavita mengalungkan tangannya pada leher Adrian. Adrian pun menekan tengkuk Kavita dan mulai memperdalam ciumannya pada wanitanya itu.


Berbekal usia yang sudah sama-sama dewasa, kedua insan yang memang sudah dah itu melakukan ritual yang lebih intim sesuai dengan naluri mereka masing-masing.


Saling mencumbu dan merayu melalui gerakan-gerakan tangan, dan kode-kode alami. Keduanya telah sampai pada ranjang mereka yang masih berbau wangi khas karena pengantin baru.


Bahkan bunga-bunga baru pun sudah tertata kembali. Sepertinya para petugas hotel sudah mengganti bunga-bunga tersebut beserta dekorasinya saat pengantin baru itu sarapan restoran di lantai bawah tadi.


Suasana romantis di pagi hari, ditambah cuaca yang mendung dan mendadak hujan. Seakan-akan mendukung dia insan manusia yang tengah dimabuk gelora syahwat.


"I miss you, " ucap Adrian di sela-sela aktifitas mereka dengan nafas memburu.


"Miss you too, " balas Kavita dengan nafas memburu pula.


Entah sadar atau tidak, entah dilandasi oleh cinta atau tidak. Kedua insan itu sama-sama menikmati momen surgawi mereka. Saling memeluk, mencium, mencumbu dan merayu.


Suasana syahdu nanti romantis menjadi saksi persatuan dua anak manusia yang memang sudah semestinya, yang menjadikan pahala untuk mereka. Menyatukan ikatan batin keduanya. Dan Kavita resmi menjadi milik Adrian seutuhnya.


Sementara disisi lain hotel itu, tepatnya di balkon lain hotel tersebut, seseorang dengan kamera di tangannya, merasakan dunianya runtuh, pandangannya kabur tertutup genangan air mata. Tangannya gemetar seperti baru saja menyaksikan kejadian pembunuhan tetapi dirinya yang mati.


Apkah memang ini yang dia inginkan? Kenapa hatinya terasa sangat sakit?

__ADS_1


Bahkan rasanya lebih sakit dari penyakit yang selama ini dirasakannya dan menggerogoti raganya secara perlahan.


__ADS_2