Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Penyesalan Yang Berkelanjutan


__ADS_3

"Aaarrggh...! "


Teriakan disertai lemparan benda-benda terdengar menggema.


Di sebuah rumah yang megah nan mewah yang beberapa hari ini sunyi, kini kembali terdengar suara teriakan kemarahan dari pemiliknya. Rasa kesal, marah dan kecewa pada diri sendiri membuatnya mengamuk dan merutuki diri.


Siapa lagi kalau bukan Adrian, laki-laki yang sudah menyia-nyiakan seorang wanita yang tulus seperti Kavita demi wanita yang lainnya, setelah sesuatu hal buruk terjadi, kini barulah ia sadar saat Kavita tak ada di sisinya lagi. Penyesalan memang selalu hadir di akhir, makanya menyakitkan, kalau di awal itu peringatan. Dan sekarang, Adrian baru merasakan akibatnya.


Ia merasakan bagaimana rasanya diabaikan,


ia merasakan bagaimana rasanya tak dianggap,


ia juga merasakan bagaimana rasanya di sepelekan.


Hal yang dulu selalu dirinya lakukan terhadap Kavita.


"Kavita...! Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu nggak mau nemuin aku? " teriakan itu kembali menggema memenuhi ruangan bernuansa ceria yang ia tempati saat ini.


"Bayi itu anakku juga! Bukan hanya anakmu saja. Aku ikut andil dalam pembuahannya, dan juga saat di dalam kandungan bukankah aku juga yang siaga merawatmu? Kenapa sekarang kamu seperti ini hanya karena satu waktu kesalahan ku saja, "


Dengan begitu percaya dirinya ungkapan itu keluar dari mulut Adrian.


"Ini, ruangan ini. Bahkan kamar ini kita siapkan bersama untuk menyambut kelahiran buah hati kita kan? Apa kamu lupa, Vita? " gumamnya dengan pandangan memindai seluruh ruangan yang saat ini di tempati olehnya.

__ADS_1


Ruangan bernuansa biru langit itu dihias sebegitu indahnya, pernak-pernik bayi yang berbentuk lucu dan menggemaskan dipasang di segala penjuru kamar.


Mulai dari ranjang bayi berbentuk awan dengan hiasan mainan berwarna-warni di atasnya. Almari pakaian bayi yang di dalamnya juga sudah penuh dengan pakaian bayi berwarna netral, yakni biru muda, hijau, kuning, cream, dan masih banyak lagi yang lainnya, kecuali pink. Hal itu bermaksud untuk menyambut bayi laki-laki ataupun perempuan yang akan dilahirkan nantinya. Sebab mereka memang sengaja tak menanyakan tentang jenis kelaminnya agar menjadi surprise.


Belum lagi mainan-mainan dan juga boneka dengan berbagai macam bentuk dan ukuran pun juga sudah dibeli olehnya. Semua itu karena saking antusiasnya Adrian dalam menyambut kehadiran sang buah hati yang hanya tinggal dua bulan lagi kala itu.


Tapi semuanya tinggal khayalan semata, mimpinya untuk bisa segera menimang bayi musnah begitu saja karena ia malah melakukan kesalahan fatal di titik akhir hingga Kavita memilih untuk pergi darinya.


Entahlah, apa memang dia sengaja melakukannya atau memang karena takdir Tuhan yang tak mengizinkannya untuk menyakiti Kavita lebih lama lagi.


"Kavita ... Pulanglah dan bawa anak kita! Aku tidak sanggup lagi lebih lama seperti ini. Aku bisa gila! " ucapnya menggeram. Diremas nya boneka dolphin berwarna biru muda dan berbulu lembut, boneka yang dulu dipilih oleh Kavita sendiri karena menyukainya.


Lagi dan lagi, air mata penyesalan itu kembali luruh membasahi lantai yang dipijak nya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang ia keluarkan untuk menangisi kepergian sang istri yang baru ia sadari arti kehadirannya setelah ia pergi.


Tapi, apa dia bisa keluar dari rumahnya itu? Belum tentu. Karena saat ini semua anak buahnya yang berjumlah puluhan orang itu sedang berada di pihak papi Wijaya.


Setelah kejadian di rumah sakit dimana Adrian mengamuk dan memukuli ketua dari anak buahnya secara brutal dan disiarkan secara oleh akun yak di kenal di media sosial hingga tersebar luas. Saat ini keluarganya, nama besar keluarga Wijaya dan juga perusahaannya menjadi buruk dalam satu waktu.


Ditambah dengan kejadian saat berada di rumah Valdi, ia mengamuk dan hampir saja menembak Valdi dengan senjata yang ia rampas dari salah satu bodyguardnya. Hal itu membuat papi Wijaya tidak bisa lagi menolerir apa yang Adrian lakukan, hingga ia terpaksa menahan Adrian untuk tetap berada di rumahnya tersebut dengan penjagaan ketat. Sampai mungkin nanti keadaan aman terkendali, barulah ia boleh keluar dari rumahnya itu.


"Papi...! Biarin Adrian keluar, Pi! Adrian mau cari Kavita!" teriaknya dari arah dalam kamar, lelaki itu berjalan tergesa menghampiri ayahnya yang sedang bersantai membaca koran. Koran yang tentu saja isi beritanya tentang anak sulungnya yang berbuat seenaknya sendiri.


"Untuk apa? " tanya papi Wijaya tanpa menoleh ke arah Adrian sedikitpun, ia masih fokus pada lembaran dengan tulisan-tulisan itu di tangannya.

__ADS_1


"Apa untuk lebih mempermalukan diri kamu dan keluarga kita lagi? " lanjut papi Wijaya lagi.


"Maksud Papi apa? " tanya Adrian tak mengerti.


Adrian memang belum mengerti apa yang terjadi pada keluarganya setelah insiden kemarin, yang ternyata apa yang dilakukannya menjadi viral hingga seluruh orang di negeri ini tahu bagaimana kelakuan buruk dirinya yang sebenarnya. Adrian hanya sibuk dengan urusannya dan pemikirannya sendiri, hingga tak memperhatikan jika kelakuannya itu menjadikan nama besar keluarganya tercoreng.


Papi Wijaya melemparkan koran yang semula di pegangnya itu ke arah Adrian dan mendarat tepat di dada bidang anaknya tersebut. Adrian menangkapnya, dan terlihatlah foto dirinya yang tengah mengangkat tangannya yang terkepal tinggi-tinggi bersiap untuk dilayangkan kepada Beno yang sudah babak belur.


Kedua matanya membelalak lebar manakala melihat foto dirinya yang sedang memukul itu terpampang jelas di halaman paling depan koran tersebut.


"Apa-apa ini?! " teriaknya marah sambil melempar koran tersebut ke sembarang arah. "Akan aku tuntut dan beri pelajaran si pembuat berita itu, serta perusahaan korannya juga! "


"Huh! Apa kau mau menumpas dan menutup semua perusahaan di negeri ini, dan juga memblokir seluruh media sosial? " tatapan sinis papi Wijaya layangkan pada Adrian saking kesalnya.


"Ap-apa? " Adrian tergagap, pikirannya baru sampai pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi atas kelakuannya.


Papi Wijaya meletakkan dengan kasar koran-koran dengan berbeda nama perusahaan di hadapan Adrian. Beritanya semua sama, nama Adrian Saputra Wijaya lah yang terpampang di halaman depan dengan topik yang sama.


Kemudian papi Wijaya juga menyalakan televisi, di dalam sebuah berita juga sesuai ditayangkan bagaimana Adrian yang sedang membabi buta memukuli Beno dengan mengumpat kasar.


"Lihatlah juga di ponselmu! Ada berita apa disana!" seru papi Wijaya.


Ponsel berlogo apel digigit itu terjatuh begitu saja setelah beberapa saat Adrian berselancar disana. Nampaknya ia sangat syok dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya itu. Namanya sudah hancur saat ini, meskipun ia masih bisa bebas berkeliaran, namun ia tak lagi mmpunyai muka untuk berhadapan dengan semua orang.

__ADS_1


"Sekarang pergilah sana! Jika kau masih memiliki muka untuk melihat dunia luar! " papi Wijaya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Adrian dengan penyesalannya yang berkelanjutan .


__ADS_2