
"Va-Vara...?" gumam Adrian seraya menahan rasa sesak di dada.
Antara rasa tak percaya, kecewa, senang, duka, bercampur menjadi satu, hingga ia hanya mampu terpaku di tempatnya berdiri sampai ada yang menabrak tubuhnya dari belakang.
"Apa-apaan sih lo, sembarangan masuk rumah gue!" teriak Valdo yang pada akhirnya bisa menyusul Adrian, yang merupakan tamu tak diundang di rumahnya.
Adrian terhuyung ke depan, hampir saja ia tersungkur ke lantai kalau saja Beno tak menangkap dan menarik tangannya. Lalu dalam waktu sekejap saja pandangannya teralihkan, sosok wanita yang semula ia lihat sedang berdiri di tepi kolam renang yang ia yakini sebagai Vara, kini sudah tak ada di tempatnya lagi.
"Kemana dia?" Adrian celingukan mencari keberadaan wanita itu tanpa memperdulikan Valdo yang saat ini tengah menatapnya nyalang.
"Hey! Lo budeg ya. Udah dateng ke rumah orang tanpa permisi, sekarang lo main nyelonong dan ngobrak-abrik apartemen gue gitu aja, " Valdo kembali mengejar Adrian yang terus saja melangkah menyusuri seluruh ruangan yang ada disana.
Beno berusaha menghalangi Valdo agar Adrian bisa leluasa mencari apa yang menjadi tujuannya. Valdo merasa marah, tapi ia tak berdaya karena kedua tangannya sudah di tahan oleh Beno dan temannya.
"Lepasin gue! Kalian tuh siapa sih sebenernya? Apa mau kalian di rumah gue, hah! " teriak Valdo seraya berusaha memberontak.
"Lebih baik Anda tenang dan biarkan tuan kami menemukan apa yang ia inginkan, " ucap Beno pelan namun penuh dengan penekanan.
"Dasar kalian manusia-manusia gila! " maki Valdo dengan berteriak.
__ADS_1
Valdo memang belum mengenali jika lelaki yang sembarangan masuk begitu saja ke apartemennya itu adalah Adrian, sebab Adrian masih memakai kaca mata hitam serta masker sejak turun dari mobilnya.
Jelas saja ia merasa marah tapi ada juga rasa takut di dalam benaknya atas kedatangan ketiga orang itu. Apalagi dua orang laki-laki yang berbadan besar seperti preman dan bertampang sangar itu. Padahal ia merasa tak mempunyai tunggakan hutang atau apapun pada rentenir ataupun depcolector, kenapa tiba-tiba ada orang-orang seperti itu masuk ke dalam apartemennya.
"Apa mereka mau ngerampok? Tapi mereka nggak ngambil apapun dari dalam kamar tadi. Lalu apa yang dicari laki-laki itu?" gumam Valdo dalam hatinya.
"Kemana dia? " gumamnya lagi, ia mulai merasa was-was.
Adrian membuka satu persatu ruangan, mulai dari kamar mandi, kamar tidur, bahkan sampai pada lemari juga tak luput dari aksi geledahannya, tapi apa yang ia cari sejak tadi tak kunjung juga diketemukan.
"Vara... dimana kamu? " seru Adrian manggil-manggin nama Vara.
"Aku tau kamu ada disekitar sini, keluarlah! Aku ingin melihatmu, aku rindu sama kamu, Vara.." pancing Adrian. Tetap saja tak ada jawaban, seolah-olah ia hanya bicara pada dirinya sendiri di dalam ruangan yang lengang itu.
Adrian merasa lelah, ia terduduk di salah satu kursi dengan kepala menunduk.
"Apa salah aku, Vara... sampai kamu tega menghukummu seperti ini. Kamu pergi begitu saja dariku tanpa pamit, lalu ada kabar duka yang membuat aku sangat terpukul," lirih Adrian. Lelaki itu menghela nafas dalam berulang.
"Dan sekarang, saat aku mengetahui kamu ternyata masih hidup, kamu masih tetap mau bersembunyi dariku. Apa kamu tak lagi mempunyai rasa terhadap aku, Vara? Atau ... perasaan kamu memang sudah berpaling, dan mencintai lelaki itu? Yang saat ini sudah hidup denganmu?"
__ADS_1
Deg
Disalah satu sudut, seseorang mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Rasanya ia tak kuasa mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Adrian yang terdengar begitu pilu.
Adrian menghembuskan nafas kasar, kepalanya terangkat perlahan dan pandangannya kembali menyapu sekeliling ruangan berdinding kaca tersebut.
"Ruangan ini, desain ini, dekorasi, interior, serta exterior nya. A ku u mengenalinya, aku sangat hafal seleramu, Vara. Jangan kamu angga aku lupa. Semua ini kesukaan mu, impianmu untuk bisa memiliku apartemen pribadi yang seperti ini, " ucap Adrian yang hanya bisa tersenyum miris.
Sosok yang masih diam dalam persembunyiannya menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, tak ingin suara isakannya terdengar keluar.
"Kenapa... kenapa harus bersama dia, Vara? Kenapa harus dia, kenapa bukan aku? " seru Adrian, emosinya kembali naik.
"Semua mimpi yang sudah kita rangkai dan akan kita wujudkan bersama, kenapa malah kamu wujudkan bersama lelaki lain. Dan sialnya laki-laki itu adalah Valdo. Orang yang paling aku benci. Kamu pun tau tentang itu, Vara... "
"Vara...! " teriak Adeian.
Lelaki itu mulai menggila lagi, amarahnya kembali meluap seperti saat di rumahnya tadi pagi.
"Maafin aku, Adrian... maafin aku. Aku pun terpaksa melakukan semua ini. Demi kamu, kebahagiaanmu, "
__ADS_1
Hahaha.. sepertinya belum tau dia, kalau Adrian udah ditinggal pergi.