
Meskipun merasakan sesuatu yang aneh menjalar dalam hatinya, tapi Adrian dengan sekuat tenaga menyangkalnya. Ia tak ingin mengakui jika ia sudah mulai mengagumi sosok wanita yang semula ia benci saat awal pernikahan mereka tersebut.
"Vara.. Vara.. Vara.. ya, aku harus telfon Vara. Ini semua pasti karena aku merindukannya, " Adrian bergumam seraya mendial nomor yang bertuliskan 'My Lovely Wife'.
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi, " jawaban dari operator panggilan tersebut membuat dahinya mengernyit.
Sudah beberapa hari ini istri tercintanya itu susah sekali untuk dihubungi. Hanya beberapa kali saja Vara menelfon nya dan memberitahukan bahwa wanita itu sedang ada urusan di luar kota, tapi tidak mengatakan ada urusan apa dan berada di kota mana.
"Vara kemana sih? Kok dari semalem nggak bisa di telfon, sesibuk itu emangnya sampe hape aja dimatiin, " gerutunya seorang diri.
Adrian yang semula sudah merasa jengkel karena terbakar cemburu melihat kedekatan antara Kavita dan dokter Valdi, kini ditambah dengan Vara yang tak bisa dihubungi. Rasanya lelaki itu sampai ingin memindahkan gunung dari tempatnya.
"Haash... sial!" dilempar nya ke pasir yang berada di bawahnya si ponsel yang tak menyahut juga nomor istri nya tersebut.
Tawa dan canda yang keluar dari mulut vita dan dokter Valdi membuat hati orang-orang yang melihatnya menghangat karena tertular oleh kebahagiaan yang terpancar dari keduanya.
Tetapi lain dengan Adrian yang mendengus, ingin sekali ia memaki kedua orang itu, tapi tidak mungkin ia lakukan karena ia tak ingin kembali mengacaukan rencana tersembunyi nya, dan hanya akan membuat dirinya berada di dalam godaan kecemburuan.
"Kalian sengaja mau bikin hati gue panas, iya?" ucapnya seorang diri.
"Nggak akan mempan! Karena hatiku sudah penuh oleh Vara yang cantik dan selalu ada untukku, "
"Ya, Vara selalu ada untukku, ia pasti ada disini, hanya lagi ggak sempet aja saat ini. Pasti seperti itu, iya, " Adrian menepuk-nepuk dadanya dan terus meng-afirmasi fikirannya agar selalu positif terhadap Vara.
Tapi sedetik kemudian, ia sudah kembali menatap Kavita yang tengah mengunyah ikan yang disuapkan oleh Valdi.
"Dasar wanita nggak jelas! Gampangan! Suaminya disini, eh malah dia asik-asikan bercanda sambil suap-suapan sama lelaki lain! "
"Udah, Valdi ih... aku udah kenyang! " seru Vara pada Valdi yang masih dapat tertangkap di indera pendengaran Adrian.
"Oke-oke. Syukurlah.. udah abis lumayan juga sih. Se-enggaknya ponakanku dapet nutrisi dan gizi saat ini, " Valdi memasukkan ikan yang sudah siap di sendok itu kedalam mulutnya tanpa mengganti sendok itu terlebih dahulu.
"Loh.. Di? Kok lo makan dari sendok bekas makan gue sih? " Vita hendak meraih sendok yang di genggam Valdi, tapi sia-sia saja karena Valdi selalu menjauhkan sendok itu dari Vita.
"Emang kenapa? Lo nggak punya penyakit menular yang mematikan, 'kan? " tanya Valdi yang sontak membuat Vita mendelik.
"Enggak lah! Enak aja lo mau bilang gue penyakitan, "
__ADS_1
"Nggak-nggak. Sorry.. kalaupun lo sakit gue duluan yang taulah, kan gue dokter lo.. "
"Cuma bukan dokter cinta aja, " lanjut Valdi dalam hati.
Valdi semakin senang menggoda wanita yang tampak cantik di matanya tersebut. Apalagi sejak tadi ia memang sudah menangkap raut ketidaksukaan Adrian terhadap dirinya dan Vita. Hal itu justru semakin membuatnya bersemangat dalam mengobarkan api kecemburuan dalam dada Adrian.
Valdi tersenyum miring dengan lirikan matanya menangkap wajah Adrian yang memerah, "akan aku buat kau menyadari betapa pentingnya dan betapa berharganya Kavita, bukan hanya di kehidupan kami, tapi di kehidupan kamu juga, "
"Jadi mau main airnya? Ayo, aku temenin! " ucap Valdi menawarkan diri pada Kavita, wanita itu mengangguk.
Tampaknya berbincang dan bercanda dengan dokter Valdi membuat aura positif nya terpancar sempurna. Memang Kavita pun mengakui, ia membutuhkan penghiburan semacam itu dari orang-orang di sekitarnya. Bukannya malah penolakan dan larangan yang terus menerus hingga membuatnya stress dan tertekan.
Tapi Dokter Valdi ini seakan mengerti dirinya dan apa yang dia inginkan, lelaki itu mencoba untuk mengiyakan tapi tetap dengan pengawasan yang hati-hati. Hingga Vita pun tak menyadari jika sedang diawasi oleh dokter tampan tersebut.
Mengenai Adrian yang ada di jarak beberapa meter darinya, sebenarnya ia pun tau jika suaminya itu datang menyusul rombongannya. Tapi karena Adrian sendiri yang masih diam dan belum menyapanya, ia mencoba abai akan keberadaan laki-laki itu. Dengan setengah menguji, akankah Adrian peduli padanya atau tidak.
Ternyata ia harus kembali kecewa karena Adrian tampak tak memperdulikan nya dan malah asyik dengan ponsel di tangannya, seperti kebiasaan laki-laki itu dari sejak awal ia menikah dengannya.
Kavita beranjak dari duduknya dan berjalan pelan kearah pantai yang ombaknya sudah mulai tenang, hanya sesekali datang pelan dan membasahi kakinya yang bertelanjang.
"Kamu menikmati udaranya, atau pemandangannya? " tanya Valdi yang mengekor di belakangnya, kini lelaki itu mengiringi langkah Kavita disamping.
Valdi mengernyit, "ketenangan? Bukannya suara deburan ombaknya berisik? "
Vita menggeleng, "no! itu suara musik alam yang mengalun merdu di telingaku, "
"Oke.. tapi apa kamu tau, kalau pemandangan dan suara deburan ombak akan lebih indah di pagi hari, bahkan sunrise itu tak kalah menawan loh dari sunset, " tanya Valdi memancing, ia bermaksud agar Kavita segera menyudahi acara jalan-jalan sorenya karena hari sudah menjelang malam, dan angin malam tidak baik bagi kesehatan Kavita dan calon anaknya.
"Benarkah? " tanya Vita meladeni Valdi, padahal ia pun sejatinya sudah tau akan hal tersebut.
Vita memang sangat menyukai pantai, terlebih jika suasana hatinya sedang tak baik seperti saat ini. Suara ombak dan hembusan angin seperti suatu obat tersendiri baginya.
"Tungguin, Woy! Jalan-jalan berduaan aja kek orang pacaran, gue ditinggalin, " teriak Vero yang sudah berlari mengejar mereka. Dibelakangnya menyusul Diva yang terengah-engah.
"Lo main ninggalin gue aja, bocil! " Seru Diva seraya menepuk pundak Vero begitu dekat dengan pemuda itu.
"Kalian aja berduaan, nuduh kita ya, Vit? " komentar Valdi yang di iyakan oleh Vita.
__ADS_1
"Gue nggak berduaan sama ni embak-embak ya, dia aja yang ngintilin gue bak anak itik yang tengah tersesat mencari ibunya, " jawab Vero berseloroh.
Nadiva mendelik mendengar perkataan Vero yang mengolok dirinya, "embak-embak lo bilang? terus apalagi tadi? anak itik? "
"Kenapa? nggak Terima, Mbak? "
"Jelas enggak lah! " Diva berkacak pinggang.
"Terus mau lo apa kalau nggak terima? Mau cium? Mau peluk? " tantang Vero.
"Wah.. modus banget ni bocah!" Diva tak habis fikir dengan Vero yang mulai menggoda dirinya lagi seperti biasa.
"Vit, adek lo nih! " adunya pada Vita sang sahabat.
"Kenapa? Adek gue cowok 'kan? " Vita menaik turunkan alisnya.
"Kakak sama adek sama aja kalian, " kesal Diva melipat tangan.
"Tapi lo suka 'kan? " Vero ikut-ikutan menaik turunkan alisnya sambil merangkul bahu kakaknya.
"Kocak ya kalian bertiga, " Valdi hanya mampu tertawa sejak tadi melihat perdebatan lucu antar dua pria wanita berbeda usia itu.
"Eh, tapi kalian berdua cocok loh meskipun usia beda, " goda Valdi sekalian.
"Enggak ya, mana ada gue cocok ma bocil kek dia, " lirik Diva pada Vero.
"Gue juga ogah kali sama embak-embak galak macam dia, " seru Vero tak mau kalah.
"Gue belum kelar ngomong kali. Maksud gue tuh kalian cocok jadi kakak adek kayak Vita sama Vero juga, gitu. Kalian pengennya lebih ya? hayoo.. ngaku... " memerah lah wajah kedua orang tersebut karena salah mengartikan perkataan dokter Valdi.
Ditengah keseruan candaan empat orang itu, tiba-tiba Adrian datang mendekat dan langsung memboyong tubuh Kavita hingga wanita itu memekik karena terkejut.
🔥🔥🔥
Pengen ngerjain Adrian lebih dari ini deh..
Jika berkenan bisa mampir juga ke karya Othor yang berjudul 'Apa Salahku, Ibu Mertua? ' disana ada Anggita yang selalu disiksa oleh ibu mertuanya. Bahkan suaminya juga ikut membencinya karena difitnah oleh sang ibu mertua juga.
__ADS_1
Kalau lagi pengen menguras emosi lagi, bisa mampir ya.. terimakasih 🙏