Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Ke Tempat yang Seharusnya


__ADS_3

Adrian tertegun menyaksikan pemandangan yang ada di depannya. Hatinya serasa tercubit melihat wanita yang merupakan cinta pertamanya, istri pertamanya, dan juga wanita yang ia nilai begitu baik, tulus, serta sempurna di matanya dulu. Kini menangis untuk laki-laki lain, mencoba melawannya demi laki-laki lain.


Sungguh harga dirinya seakan dicabik-cabik oleh wanita yang ia puja-puja dulu. Wanita yang bahkan semua ucapannya ia jadikan sebagai panutan, perintah, bahkan kewajiban yang harus ia laksanakan. Sampai-sampai saat wanita itu menyuruhnya untuk menikahi wanita lain pun ia tetap menurutinya meskipun hatinya menentang habis-habisan.


Namun, sekarang apa yang ia dapatkan dari wanita itu? Sebuah penghianatan. Yang bahkan tetap dirinya yang dipersalahkan karena dianggap sudah mengkhianati cinta suci di dalam pernikahan mereka.


"Sungguh mengesankan, sungguh menyentuh hati, dan merasuk ke dalam kalbu, " ucap Adrian sambil berpura-pura mengusap mata terharu, padahal matanya sama sekali tak berair.


Ia sudah menata hatinya, mencoba mengabaikan semua kenangan indah di masa dulu, dan meracuni pikirannya sendiri dengan kenyataan yang ada kini, bahwa ketulusan cintanya untuk Vara sudah dihianati oleh wanita itu sendiri.


"Benar kan, Ben? " lanjutnya melirik Beni, bibirnya menunjukkan seringai yang meremehkan untuk menutupi rasa kecewanya yang dalam.


Beno turut menyeringai, "Benar, Bos," jawabnya menyahuti pertanyaan Adrian.


"Dasar manusia menjijikkan kalian berdua!" gumam Adrian selanjutnya yang juga di dengar semua orang yang ada disana.

__ADS_1


Ingin rasanya ia membunuh kedua orang itu. Tapi, rasanya tak mungkin. Sebab ia terfikirkan oleh Kavita yang nantinya pasti akan semakin membencinya dan tentunya hal itu akan membuatnya sakin sulit untuk memenangkan hati wanita itu kembali.


Apalagi jika ia teringat sang putra yang bahkan belum pernah ia temui. Apa jadinya jika putranya itu tau nanti kalau dirinya seorang pembunuh. Huh! Membayangkannya saja membuatnya merasa ngeri. Oleh sebab itu, ia hanya akan memberikan pelajaran saja kepada dua orang yang sudah berani-beraninya memantik api terhadap dirinya itu.


"Bawa mereka berdua!" perintahnya pada siang bodyguard.


Adrian kembali memasang kaca mata, dan menegakkan tubuhnya yang semula menunduk memperhatikan Vara yang masih terus tersedu dan Valdo yang meringis menahan sakit secara bergantian.


Kedua orang itu terdiam, enggan menanggapi umpatan Adrian. Lagipula, menurut mereka perasaan mereka saat ini lebih penting ketimbang Adrian yang datang kesana hanya untuk membuat keributan dan menciptakan kekacauan di tempatnya.


"Bukannya lo udah punya istri lain yang lebih lo suka, makanya lo ngebuang Vara.. Dan sekarang, lo nyari dia lagi. Ada apa sama istri muda lo? " meski dengan suara yang lemah, perkataan Valdo tetap saja menjengkelkan.


Hampir saja Beno kembali menendangnya, tetapi Vara dengan cepat memeluk lelaki itu.


"Lo yang salah karena membawa istri gue, dan lo juga mau melemparkan kesalahan lo ke gue. Hebat juga lo memutar balikkan perkataan! "

__ADS_1


Hening.


Baik Vara ataupun Valdo hanya memilih kembali terdiam. Daripada menjawab nantinya malah mereka sendiri yang disakiti oleh anak buah Adrian yang berbadan kekar itu. Meskipun ada sedikit rasa bersalah di hati mereka. Namun tetap saja keduanya merasa kalau kesalahan Adrian yang lebih besar karena sudah mau menikah lagi dengan wanita lain meskipun harus dengan terpaksa dan di pojokkan.


Bagi keduanya tetap saja itu kesalahan Adrian yang mereka anggap tak memiliki prinsip dan ketegasan sebagai seorang laki-laki yang merupakan pemimpin rumah tangga.


Adrian berjalan keluar. Beno menyeret Valdo, dan temannya membawa Vara. Entah apa yang direncanakan oleh Adrian terhadap kedua orang itu. Yang jelas pasti sesuatu hal yang tak pernah terfikirkan oleh Vara ataupun Valdo.


"Mau kalian bawa kemana kami? " meski sudah lemah, Valdo masih mencoba memberontak.


"Ke tempat yang seharusnya bagi para penghianat,"


Deg


"Lo boleh bawa gue, lo boleh apa-apa gue. Asal lepasin Vara! "

__ADS_1


"Cih! Sok mau jadi pahlawan lo. "


__ADS_2