Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Will You Marry Me?


__ADS_3

Bagaikan baru keluar dari kedalaman air keruh dalam jangka waktu yang lama, kini aku bisa bernafas lega. Rasanya sangat ... sangat lega. Akhirnya aku bisa kembali hidup tenang bersama dengan buah hatiku saja. Semoga saja, lelaki itu sadar dan tidak lagi berani mengganggu kami kedepannya. Tak apa kami hidup tanpa dia, dan kami pasti bisa menjalani kehidupan mendatang tanpa orang itu lagi. Semoga suatu saat nanti putraku bisa mengerti kenapa aku memilih jalan seperti ini.


Anakku juga seorang laki-laki, dan aku sangat berharap semoga putraku kelak bisa menjadi laki-laki yang teguh pada pendirian nya. Yang prinsipnya tidak akan pernah goyah, cintanya tidak akan pernah mudah terhapus dan juga ia bisa menghargai wanita. Supaya tidak ada lagi wanita yang akan bernasib sama sepertiku nantinya.


Kutatap wajah teduh putraku yang masih terlelap, ada rasa kesal di dalam hati, mengapa wajahnya harus begitu mirip dengan lelaki menjengkelkan itu. Memang benar dia ayahnya, ayah biologisnya, tapi rasanya aku sangat tak rela. Sebab selama ini hanya akulah yang berjuang, dari mulai awal mengandungnya sampai harus masuk ke rumah sakit, sampai melahirkan pun aku berjuang seorang diri tanpa ada dia. Kenapa harus sama dengannya coba.


"Haissh ... benar-benar menyebalkan! " tanpa sadar aku menggerutu karena sking jengkelnya.


"Apanya yang menyebalkan, Vit? " tanya mama yang tiba-tiba saja muncul di belakangku, entah sejak kapan dia ada disana.


"Itu, Mah, cucu Mamah, " aku menunjuk anakku dengan dagu, tak lupa bibirku yang masih manyun cemberut.


"Cucu Mama kenapa? Orang pintar gitu kok, boboknya pules, jadi kamu juga bisa ikut istirahat, 'kan, " balas mama.


Aku menghela nafas, "Nggak gitu, Mah. Kenapa coba wajahnya harus mirip sama laki-laki itu? Nyebelin banget, 'kan?"


Dahi mama mengernyit mendengar pertanyaanku, "maksud kamu ... Adrian? "


"Ya siapa lagi sih, Mah, yang bikin bete. Malah diperjelas lagi sih Mama. Kenapa coba nggak mirip sama Vita aja, atau papa atau Vero gitu, "

__ADS_1


Mama tertawa pelan sambil menggelengkan kepala, apa ada yang aneh dengan pertanyaan ku.


"Itu biasa sih, Vit. Kalo bayi biasanya masih berubah-rubah kok wajahnya, tenang aja. Nggak akan selamanya dia mirip sama mantan suami kamu itu, " jawab mama menenangkan aku.


"Yang bener, Ma? "


"Iya ... udah situ ikut tidur ah! Udah malem ini," perintah mama sebelum kuar dari kamarku dan juga baby Kava.


Ya, aku tidak mau pisah kamar dari bayiku ini. Meski sudah disediakan juga kamar khusus anakku sebenarnya, tapi aku tidak mau sendirian. Lagipula, jika kami bersama seperti saat ini aku akan lebih mudah untuk memberikannya asi jika baby Kava terbangun dan meminta asi.


Aku merebahkan tubuhku yang terasa ringan, rasanya benar-benar ringan seperti terbebas dari himpitan batu yang amat besar. Mungkin karena masalah yang selama ini mengganjal di dadaku selesai sudah, jadi rasanya pun begitu ringan di dalam hati dan juga otakku.


"Terimakasih, Tuhan... Engkau tunjukkan semuanya sebelum semakin lama dan semakin jauh. Dan Engkau permudah jalanku untuk bisa menyelesaikan semuanya seorang diri,"


Aku jadi teringat pada dua orang laki-laki yang bersikap kekanakan tadi.


"Sebenarnya mereka berdua itu kenapa sih tadi, "


"Ah udahlah! Ngapain sih mikirin cowok-cowok itu. Mending mikirin cowok cakep di depanku ini aja yang udah jelas ketampanan dan statusnya buat aku, "

__ADS_1


Aku memutuskan untuk segera memejamkan mata, karena baby Kava bisa terbangun kapan saja kalau sudah merasa haus, dan aku harus terjaga untuk meng-ASI-hinya jika sudah begitu. Aku memang memberi ASI pada putraku secara langsung. Jika ditanya apa tidak takut payudara ku akan kendur atau berubah bentuk nantinya, jawabannya tidak.


Untuk apa mesti takut, karena dengan memberi bayiku ASI secara langsung itu akan membuat ikatan bathin antara kami semakin kuat. Justru aku malah merasa takut kalau bayiku tidak bergantung padaku, aku tidak rela jika suatu saat nanti ia akan goyah kalau ayahnya merayunya untuk mengambil bayiku ini dariku.


"Meski sudah terbebas darinya, tapi aku tetap harus waspada. Tau sendiri laki-laki itu kalau sudah kumat gila nya, hih! "


Aku bergidik jika teringat video Adrian yang memukuli anak buahnya sendiri, laki-laki itu benar-benar seperti orang kesetanan. Sudahlah wajahnya mirip zombie, kelakuannya pula mirip Alien. Tak adil dan beradab!


Lah, malah kayak bunyi Pancasila pula.


Tak butuh waktu lama mataku terkatup rapat seiring ingatan-ingatan yang berkelebatan di ingatanku memudar.


Saat aku membuka mata, aku merasa berada di sebuah taman yang indah, dengan udara yang sangat sejuk, berumput hijau dan banyak bunga warna-warni bermekaran.


Terdapat pula dekorasi yang dihias sedemikian rupa indahnya, begitu memanjakan mata yang memandang. Perlahan mulai kudengar suara alunan musik yang lirih nan merdu, tak lama setelahnya kudengar pula suara seseorang.


"Will you marry me? "


Deg

__ADS_1


Suara ini ...


__ADS_2