Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Jangan Ambil Anakku!


__ADS_3

WRNING...!!!


Harap dibaca setelah berbuka ya, supaya tidak batal karena emosi🤭


🔥🔥🔥


Seseorang membuka pintu kamar Kavita, wanita yang baru saja terjaga dari tidurnya itu menoleh, lalu mendapati seseorang yang sangat dibencinya muncul di hadapannya.


"Pergi kamu! Ngapain kamu kesini?! Pergi...!! Pergi...!! " teriak Kavita reflek mengusir orang itu.


"Kamu nggak bisa seenaknya ngusir aku dari sini. Karena... aku mau menjemput putra kesayanganku. Dan kamu, nggak berhak atas dia," ucap sosok itu dengan santainya meski melihat raut wajahnya Kavita yang panik dan ketakutan.


"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh anakku! Atau kamu akan tau akibatnya! " teriak Kavita mengancam.


Sesosok lelaki itu mendekati ranjang Kavita, "kamu bisa apa? Kamu nggak akan bisa apa-apa dengan keadaan kamu yang sekarang, jadi menyerah saja! Ngerti?! " tandas


orang tersebut.


"Kamu gila, Adrian! Kamu nggak waras!" Teriak Kavita dengan tangis yang semakin menjadi.


"Ya.. aku memang gila dan aku memang nggak waras. Itu semua karena kamu, Kavita. Karena kamu dengan beraninya pergi meninggalkan aku dan membawa serta anakku, " ucap lelaki yang ternyata adalah Adrian.


"Setelah semua yang udah kamu lakuin ke aku, kamu masih berharap aku akan terus sama kamu? Jangan harap! Dalam mimpi pun aku nggak akan pernah sudi untuk tetap bersama dengan kamu!" jawab Vita dengan tegas.


"Baiklah kalau memang seperti itu maumu, silahkan kamu pergi menjauh dariku, tapi bayi ini tetap bersamaku, " balas Adrian yang sudah menggendong seorang bayi mungil.


"Kamu yang lebih memilih wanita itu daripada kami, kamu sendiri yang dulu dengan angkuhnya pergi meninggalkan kami disaat kami sedang benar-benar membutuhkanmu," tutur Vita dengan tangis meraung.


"Dan sekarang, setelah kami bisa hidup tanpamu, dengan teganya kamu mau misahin aku sama anakku? Aku nggak akan pernah biarin itu terjadi!" teriak Kavita tegas seraya bangkit dari ranjangnya, meski ia masih merasakan nyeri pada perutnya dan merasakan badannya yang lemah, tapi ia memaksakan diri untuk berjalan demi anak yang sangat di kasihinya.


"Jangan kebanyakan omong, Vita! Bayi ini milikku dan aku akan membawanya pergi jauh dari kamu, sampai kamu nggak akan pernah lagi bertemu dengannya, " Adrian mulai berjalan mundur perlahan, sedang Kavita terus tertatih bersaha mengejarnya.


"Jangan, Adrian! Aku mohon ... cuma anak itu satu-satunya penyemangat hidupku di saat dunia udah ninggalin aku dengan semua kejahatan yang udah kamu lakuin ke aku. Cuma bayi itu yang mau bertahan sama aku disaat aku sendiri pun tak sanggup lagi bertahan, " ucap Kavita memohon.


"Aku mohon, Adrian. Aku mohon ..." Kavita bersimpuh dibawah kaki Adrian dengan deraian air mata dan dan wajah memelas.

__ADS_1


"Semuanya udah terlambat, Vita. Aku mau bawa dia menuju keabadian dimana Vara sudah lebih dulu pergi kesana," ucap Adrian yangulai berbalik dan berjalan menjauh dari Kavita.


"Adrian ... lepasin dia, Adrian! Berikan bayi itu padaku! Jangan bawa anakku...!!" teriak Vita sejadi-jadinya.


"Adrian... Adrian... Adrian...!! Jangan bawa anakku...! Jangan bawa anakku ... !"


"Vit... Vita...! Bangun, Vit! Kamu mimpi apa sih sampai ngigo teriak-teriak kayak gitu? " tanya Valdi heran seraya membangunkan Kavita yang masih memejamkan mata. Tubuhnya bergerak tak beraturan dengan kepala menggeleng-geleng kuat, serta tangannya yang seperti sedang menggapai-gapai sesuatu.


Kavita mbuka matanya yang semula terpejam erat. Badannya terasa panas dingin, keringat yang membanjiri tubuhnya. Nafasnya tersengak-sengal seiring kesadaran nya yang mulai kembali.


Valdi memberikan botol minum yang sudah ada sedotan di dalamnya dan menyodorkannya di depan bibir Kavita.


"Nih, minum dulu, " titahnya.


Kavita menerima botol itu dan menyedot air mineral di dalamnya hingga tandas. Rasanya ia seperti baru saja berlari maraton, padahal tubuhnya utuh diatas ranjang tempat tidur.


"Anak gue mana? " tanyanya setelah menghabiskan minum dan tenggorokannya sudah terasa segar kembali.


"Masih di dalam inkubator, kenapa? " jawab Valdi lembut dan disertai tanya.


"Gue mau kesana, " Kavita menyingkap selimut yang semula menutupi separuh tubuhnya. Ia menjulurkan kakinya ke bawah dan mencoba untuk turun dari sana.


"Gue mau liat anak gue, Valdi. Jangan sampai anak gue dibawa sama orang jahat, " Rengek wanita itu.


Valdi menghela nafas, "iya-iya.. aku tau, dan aku memang udah berencana buat kamu bisa menggendong anak kamu seperti janjiku tadi siang, "


"Dia sama siapa disana? Kok kamu tinggalin dia? Gimana kalau dia diculik sama orang jahat itu? " tanya Vita berseru marah.


"Dia sama suster, dokter dan pengawal juga. Jadi dia aman, nggak akan ada yang berani buat nyulik dia, " balas Valdi.


"Ayo...! Gue mau gendong, peluk dan ciumin dia, " seru Kavita tak sabaran.


"Oke, tapi kenapa barusan kamu teriak-teriak kayak gitu? Apa kamu mimpi buruk? "


Kavita menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum menjawab pertanyaan Valdi tersebut.

__ADS_1


"Itu lebih dari sekedar mimpi buruk. Itu mimpi yang paling menakutkan di sepanjang hidup gue, dan gue nggak akan pernah membiarkan mimpi itu jadi kenyataan, " ucap Vita dengan pandangan menatap lurus kedepan.


Masih terbayang-bayang dalam ingatannya wajah menjengkelkan Adrian yang dengan santainya membawa sang buah hati pergi darinya. Wajah yang sejak dua bulan lalu sangat ia benci dan ingin ia lupakan di sisa hidupnya.


Entah kenapa tiba-tiba wajah itu kembali hadir dan menjadi mimpi buruk baginya. Sehingga ia merasa takut jika itu akan benar-benar terjadi.


Ingin rasanya ia mendekap sang buah hati dan tak pernah melepaskannya agar tak ada orang yang bisa memisahkan bayi itu darinya.


Valdi manggut-manggut mencoba memahami apa yang wanita di hadapannya itu rasakan. Maka dari itu ia lebih memilih berusaha mengalihkan perhatian Kavita.


"Okey, Mahmud si mamah muda. Karena kamu udah nurutin semua yang dokter katakan dan anjurkan, maka sekarang sebagai hadiahnya kamu bisa bertemu langsung dengan putra tampanmu, " ucap Valdi seraya membopong tubuh Kavita dan meletakkannya di atas kursi roda.


"Terimakasih, Dokter Valdi yang baik hati dan tidak sombong, " senyum cerah Kavita mengiringi perkataannya barusan. Hati Valdi jadi ikut menghangat karena nya.


Benar saja, sesampainya mereka berdua di ruang bayi. Anak dari Kavita itu sudah lepas dari semua selang yang semula menghias tubuhnya. Hanya tersisa selang infus saja untuk menunjang kekuatannya.


"Apa Anda suda mencuci tangan dan payudara Anda, Nyonya? " tanya salah satu suster yang menjaga bayi Kavita.


Kavita mengerutkan kening dan menoleh ke arah Valdi yang masih memegangi kursi rodanya, "harus gitu ya? " Valdi mengangguk lalu mendorong kursi roda Kavita ke kamar mandi.


Perasaan Kavita berdebar-debar saat dokter memberikan bayi mungil itu padanya. Ia kini sudah siap duduk di sofa dengan sandaran yang nyaman untuk ibu menyusui.


Dengan kaku Kavita menyambut bayi itu kedalam pangkuannya, kedua netranya mengembun memandangi wajah tampan bayi yang masih sangat mungil itu secara langsung dan dalam jarak yang sangat dekat.


"Bayiku ... anakku ... " gumamnya menciumi lembut pipi bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Valdi turut menitikan air mata melihat pemandangan penuh haru itu, akhirnya ia bisa melihat senyum di wajah wanita terkasih nya itu lagi setelah beberapa lama hanya ada luka dan air mata yang tampak darinya.


"*Aku akan berusaha semampuku untuk mempertahankan senyuman itu, Vita, "


💕💕💕*


Mana tim Valdi...


And

__ADS_1


Mana tim Aditya, nih...


Tenang aja, lepas dari cowok kek Adrian, ada cogan lain yang siap membahagiakan😅😅


__ADS_2