Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Aku Menikahinya atas Kemauanmu


__ADS_3

"Vita, apa kabar, Beib? " tanya Diva usai melerai pelukannya dengan Kavita.


"Baik dong, Say. Lo sendiri gimana?" balas Kavita.


"Baik donk, seperti yang lo liat, " Nadiva memutar badannya hingga dress yang ia pakai ikut menari.


"Kayaknya ada kajian nih sama si doi, " goda Kavita pada sahabat nya.


"Udah nggak usah bahas doi dulu. Yang mau gue bahas itu, lo, "


Kening Kavita berkerut, "kok gue? "


"Ya lo tiba-tiba nongol di pagi hari, padahal bilangnya kemaren, mana gue udah bikin surprise buat lo, eh malah lo nya nggak dateng, " jelas Nadiva, gadis itu pura-pura cemberut.


Kavita merangkul pundak sahabatnya, "sory bestie.. namanya juga penganten baru, ya kan.. jadi ya, gitu.. " ucap Nadiva menaik turunkan alisnya.


"Woah, lo bener-bener mau bikin gue panas ya, " Seru Nadiva berkacak pinggang.


"Tapi nggak papa sih, gue ikut seneng banget dong. Kan artinya sebentar lagi gue bakal punya ponakan yang gumush, " Nadiva bersorak girang dan kembali memeluk Kavita.


Jleb.


Perkataan Nadiva berhasil membuatnya kembali ingat kepada Adrian, bagaimana jika ia mengandung anak dari lelaki itu, apa yang akan ia lakukan? Apakah Adrian akan mau peduli padany?


"Sekali lagi gue ucapin selamat yang buat lo. Vita sayangku, bestie ku. Akhirnya lo bisa nikah sama cowok idaman lo, superhero lo, "


Diva terus mengoceh sambil memeluk Kavita erat dan menggoyang-goyangkan badan sahabatnya itu. Tanpa tahu jika sang sahabat kini tengah menitikan air mata luka.


Saat Diva melepas pelukannya, Vita langsung menghapus air matanya dengan cepat.


"Se-terharu itu lo sama ucapan gue? sampe nangis gitu, "


"Iya lah. Thanks ya, selama ini lo udah mau bantuin gue buat deketin gue sama dia, bantuin gue buat bisa kerja di perusahaan dia, sampe akhirnya gue berjodoh deh sama dia, " ujar Kavita yang berpura-pura tersenyum bahagia.


Meskipun itu sangat sulit baginya, tapi ia tetap harus berusaha agar tidak ada yang tau masalah di dalam rumah tangganya yang baru seumur laron itu.


"Duduk dulu, yuk! capek berdiri terus, " ajak Diva, Vita mengikutinya.


"Terus rencana lo abis ini gimana,? "


"Rencana apa? "


"Lo masih mau kerja di kantor suami lo itu? "

__ADS_1


"Oh, itu.. gue belum kepikiran sih. Mungkin masih," jawab Kavita ragu.


"Karena gue harus mencari tau, siapa Vara itu sebenernya. Aku tidak mungkin menyerah begitu saja, disaat perasaan cinta ku pada Adrian semakin besar seperti sekarang ini, " Lanjut Kavita dalam hati.


"Dasar lo, Vit. Masih mau cari apalagi coba lo kerja disana? Secara Adrian nya aja udah lo dapetin gitu, " Vita hanya terkekeh.


"Nggak mungkin 'kan orang se-tajir elo dan sekarang ditambah dengan Adrian, bikin lo masih ngarepin gaji sebagai karyawan disana, " seloroh Nadiva.


Vita menepuk Diva, "bisa aja lo, Div. Lumyan'kan kalau gajian buat tambah-tambah uang jajan, " ujarnya menanggapi candaan dari Nadiva.


"Ada sesuatu yang harus gue urus dan pastikan, Div, disana. Sebelum semuanya benar-benar harus hancur, "


"Oke-oke, terserah lo deh, Bu Bos. Sekarang lo mau langsung kerja atau gimana nih? tuh, anak-anak udah pada dateng, " Diva melongok kan kepalanya kearah pintu utama, dimana ia mendengar asal suara para karyawan berdatangan.


"Kerja dong, masak iya gue maen doang, "


"Oke, siap. Selamat pagi, Bu Bos, " Diva langsung berdiri menghormat lalu membungkukkan badannya, disaat yang berbarengan dengan sampainya para karyawan di hadapan mereka.


"Selamat pagi, "


"Selamat pagi, Bu Bos, " ucap ketiga karyawannya serempak, mereka melakukan persis seperti yang Nadiva lakukan.


Memang Kavita bersikap santai, namun tetap tegas. Mereka semua profesional saat sudah mulai jam bekerja, saat istirahat mereka akan santai tapi tetap menjaga rasa hormat mereka.


Tak lama kemudian muncul tiga orang lagi karyawan laki-laki, dan melakukan hal yang sama seperti tadi.


Kavita melihat jam dinding di belakang meja kasir, sudah waktunya mulai bekerja dan membuka butik. Ia pun memberi instruksi kepada semua karyawan nya untuk segera bersiap dan membuka butik tersebut. Karena begitu tanda 'open/buka' di pintu terpampang, mereka semua harus sudah siap di posisi mereka Masing-masing.


Kavita belajar kepemimpinan dari sang ayah, yang selalu bersikap ramah kepada para karyawan tapi tetap tegas juga. Jadi para karyawan akan merasa betah dan tidak tertekan. Tapi tetap dengan menjaga batasan mereka juga.


Meskipun Kavita tak melanjutkan perusahaan ayahnya, tapi ia bisa menerapkan hal tersebut di butik nya sendiri.


°°°


Di kediaman Adrian


Lelaki itu baru saja membuka mata dan meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Semalam ia juga tak bisa tidur begitu merasa jika Kavita mengetahui hubungan antara dirinya dan Vara.


Adrian menoleh ke samping, tak mendapati sang istri berada disana.


"Kemana orang itu? " gumamnya yang langsung beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.


"Nggak ada, " Adrian masuk kamar mandi dan membersihkan diri disana.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah, Vara sudah sibuk menata meja makan yang dibantu oleh para asisten rumah tangga.


Dahinya berkerut saat melihat Adrian turun seorang diri.


"Kavita mana? " tanyanya pada Adrian.


"Dia belum disini? aku kira sudah kesini lebih dulu," Vara menggeleng.


"Kamu sudah mencarinya ke sekeliling rumah? "


Lagi-lagi Vara menggeleng.


"Kalian ada yang melihat Nyonya Kavita? " tanya Adrian kepada para asisten rumah tangganya.


"Tidak, Tuan, " jawab salah satu asisten disana mewakili semua temannya.


Asisten rumah tangga yang semuanya berjumlah 8 orang itu memiliki peranannya masing-masing, yakni bagian mencuci atau loundry, bagian memasak atau kitchen, bagian bersih-bersih atau cleaning servis, bagian pembersihan halaman atau tukang kebun, dan juga dua orang security serta dua orang supir.


Juga ada satu orang yang di percaya sebagai kepala asisten rumah tangga disana, yang memastikan pekerjaan semua asisten harus rapi dan beres sesuai peran masing-masing.


"Tolong cari Nyonya Kavita disekitar rumah ini, dan segera laporkan kepada saya dia ada dimana dan sedang apa, "


"Baik, Tuan, " sahut Murti, sang asisten kepala menganggukkan kepalanya dan memohon undur diri.


Murti menghubungi dua satpam dan dua supir yang berada di pos keamanan untuk segera melakukan yang diperintahkan oleh majikan mereka.


"Memangnya sejak kapan dia pergi? Kamu nggak lihat pas dia pergi? " kini Adrian yang menggelengkan kepalanya.


Adrian mengambil secangkir kopi yang terhidang dan menyeruput nya, hal itu dapat sedikit mengurangi rasa pening dikepalanya akibat kurangnya tidur.


"Jangan-jangan yang semalem di depan pintu kamar aku itu beneran Vita, Yan? "


"Emang dia, " jawab Adrian dengan entengnya.


"Kok kamu segampang itu sih ngomongnya? gimana kalau dia tau soal kita? " panik Vara.


Adrian mengangkat kedua bahunya, "justru itu bagus 'kan? lebih cepat dia tau akan lebih baik, "


"Kamu bener-bener nggak berperasaan ya, Yan. Aku nggak ngerti sama kamu, "


"Aku nikah sama dia juga atas kemauanmu," Vara mendelik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2