Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Akhirnya Aku Memilih Pergi


__ADS_3

Flashback pov Kavita


"Jangan... Jangan tinggalin aku, Mas! Kamu jangan pergi ke dia, firasat ku nggak baik kalau sampai kamu benar-benar pergi sekarang buat dia, " gumamku seorang diri.


Bahkan Adrian belum mengatakan apa-apa padaku, tapi aku sudah ketakutan lebih dulu. Bagaimana tidak? Aku sangat mencintainya, sangat ... sangat mencintainya. Bahkan setelah aku tau kalau ternyata dia sudah mmbohongiku, setelah aku tau kalau ternyata Vara bukanlah sepupunya, melainkan istri pertamanya. Aku masih tetap menerima dan memaafkan kebohongan nya saat ia memohon padaku kala itu dengan syarat ia akan lebih bersikap baik terhadapku dan juga berusaha untuk mencintaiku.


Selama beberapa bulan ini sudah membuktikannya, ia menunjukkan seakan akulah prioritas utamanya karena setiap saat ia hanya selalu bersamaku saja. Dan kami juga tak pernah menyinggung dimana, kemana, dan bagaimana keadaan Vara, istri pertamanya itu. Lalu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini, siapa orang yang menelfonnya itu dan memberi kabar soal Vara secara tiba-tiba?


Adrian menyudahi acara telfonnya, ia menggenggam ponselnya itu dengan erat. Kemudian berjalan gontai ke dalam rumah dan mulai mendekat ke arahku, aku pun berpura-pura tak tau apa-apa dan kembali mencoba fokus pada buah mangga di tanganku, meskipun tak dapat aku pungkiri jika hatiku berdebar-debar dengan rasa khawatir jika sampai Adrian benar-benar meminta izin padaku untuk menemui istri pertamanya itu.


"Kavita... " lirih suara Arisan memanggil namaku.


"Ya, kenapa? " aku menoleh ke arahnya sesaat sebelum kembali melihat pada mangga yang akan aku kupas, dapat kulihat matanya memerah menahan tangis, hidungnya pun kembang kempis dengan sisa ingus yang ia usap sembarangan.


"Maaf, aku harus pergi sekarang juga, " lirih Adrian berucap.


Deg!


Yang aku takutkan terucap juga dari bibirnya, bibir yang selalu menjadi favoritku saat ia mulai mencumbuku.


"Kemana? Bukankah semuanya sudah diurus sama yang lainnya, dan kita tinggal nyiapin diri aja kan? " ucapku yang masih pura-pura tenang, dan tak tau apa-apa.


"Aku harus pergi ke suatu tempat, ada yang harus aku urus disana. Ini memang mendadak dan sangat darurat, " ucapnya yang aku tak mengerti. Ia hanya mengatakan kata 'darurat' berulang kali.


"Iya, tapi kemana? Dan apanya yang darurat? " desakku, aku ingin dia jujur padaku apa adanya. Meskipun nantinya hal itu akan menyakitiku juga.


"Aku harus menemui Vara secepatnya, ini sangat darurat, aku nggak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Karena aku harus pergi kesana saat ini juga sebelum semuanya terlambat, " Adrian sudah gelisah tak menentu.


"Va-Vara? Kamu mau menemui Vara? Bagaimana dengan janjimu? " tanyaku dengan suara yang sudah gemetar menahan tangis. Sungguh hatiku tak rela untuk melepasnya menemui Vara.


"Aku tau, Vita. Tapi ini sangat urgent. Dan aku harus secepatnya pergi kesana sekarang juga. Aku harus secepatnya sampai disana sebelum semuanya terlambat, " suaranya mulai meninggi, dan itu membuat air mataku otomatis keluar begitu saja dan mulai menetes di pipiku.


"Lalu kapan kamu akan kembali? " tanyaku dengan memalingkan wajah, enggan menatap wajahnya lagi saat ini.

__ADS_1


"Aku belum tau, yang jelas aku harus kesana dulu dan memastikan semuanya, " jawaban yang jelas bukan seperti yang aku harapkan.


"Bagaimana kalau aku melarangmu untuk pergi? " tanyaku dengan nada datar, bermaksud mengetesnya.


"Itu namanya kamu egois, Vita! " bentaknya.


Aku terkejut, perangai kasarnya yang sudah lama tak aku lihat kini kembali muncul.


"Hari ini hari penting, nanti malam kita akan ada acara. Bahkan undangan sudah kita sebar, jangan sampai semuanya menjadi kacaugara-gara kepergianmu. Kamu bisa pergi setelah acaranya usai, " balasku tetap mencoba tenang, aku pun mulai kembali meraih mangga untuk aku kupas. Mencoba mengabaikan bentakannya tadi.


"Persetan dengan acara nanti malam! Persetan dengan undangan dan juga kekacauan. Aku udah bilang kalau ini darurat tapi kamu nggak mau dengerin. Terserah! Aku akan tetap pergi sekarang juga, " ucapnya berteriak padaku. Suara teriakannya juga lebih kencang dari sebelumnya. Ia pun segera berbalik arah dan berjalan cepat kedepan rumah.


Aku tersentak, hingga tak terasa jika jemariku tergores pisau. Rasa perihnya tak sepadan dengan rasa perih di hatiku mendengar bentakannya saat ini.


"Jadi kamu tetap memilih Vara daripada kami? Aku dan anak kita? " tanyaku berteriak juga karena Adrian mulai menjauh. Dia berhenti, semoga ia luluh dan tak jadi pergi.


Kepalanya menoleh sedikit kearahku, "kamu egois, Vita! " jawabnya berteriak. Lalu kembali berjalan cepat keluar rumah.


"Jangan pergi, Mas Adrian...! " teriakku sambil mengejarnya dengan susah payah.


"Jangan pergi! Nanti apa yang mau aku katakan ke semua orang kalau kamu pergi gitu aja sebelum acara? " teriakku dengan langkah kaki yang berusaha mengejarnya.


"Terserah! " sahutnya tetap sambil berjalan cepat.


"Aku mohon, jangan pergi, Mas...! " teriakku memohon. Aku panik dan bingung, apa yanga akn aku katakan nanti kepada semua orang, jika ayah si jabang bayi yang bersama kami saat prosesi tujuh bulanan.


"Mas Adrian...! " teriakku sekencangnya.


Jarakku dengan Adrian semakin jauh, aku seperti orang kesetanan dan seakan lupa jika tengah hamil besar, yang aku fikirkan saat ini hanyalah ingin mengejar Adrian, suamiku. Aku hanya ingin mempertahankan suamiku, itu saja.


Aku terus berlari sambil berteriak memanggil nama Adrian hingga suara para asisten rumah tanggaku yang meneriakiku seraya mengejarku agar berhenti tak terdengar olehku.


"Jangan pergi...! Kalau kamu pergi, jangan pernah berharap untuk kembali! " teriakan itu keluar begitu saja dari mulutmu, entah apa yang aku fikirkan. Aku tak bisa lagi berfikir dengan jernih. Otakku kacau karena Adrian yang kembali mengabaikanku demi Vara.

__ADS_1


Ya, Vara. Wanita itu entah kenapa dan dimana dia saat ini. Ia tetap saja dapat membuat Adrian yang kukira sudah mencintaiku, ternyata tetap memilih dia daripada aku dan juga bayi yang sedang ku kandung ini.


"Terserah, " Kata-kata itu yang terakhir kudengar dari mulutnya sebelum ia melesat dengan mobil sport nya.


Pandanganku yang hanya terus tertuju pada Adrian tanpa memperhatikan jalan di depanku yang terhalang oleh perut besarku, membuat aku tak sadar saat tiba-tiba saja kakiku tersandung dan aku terjatuh begitu saja tanpa ada yang bisa menangkapku.


Bruk!


Aku terjatuh dengan keras, masih untung bukan perutku yang dibawah tetapi pantatku yang mencium lantai secara langsung. Aku meringis saat kurasakan nyeri yang sangat hebat di perutku, seperti baru tersadar jika sedang hamil, aku pun menyesali perbuatanku yang dengan ceroboh nya berlari mengejar lelaki kejam dan tak berhati itu.


Adrian bahkan tak perduli saat aku berlari untuk mengejarnya, padahal sebelumnya ia melarangku untuk hal-hal kecil saja, aku tidak boleh naik turun tangga, tidak boleh berjalan cepat, tidak boleh kecapekan. Begitu ia sangat memperhatikan serta menjagaku.


Tapi sekarang, apa? Dia mengabaikanku, bahkan setelah aku mengemis padanya dengan air mata berderai dan juga sisa-sisa tenagamu untuk mengejarnya, ia sama sekali tak perduli lagi padaku. Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah ada nama Adrian lagi di dalam hidupku!


Masih dapat kulihat darah mulai mengalir di area bawahku sebelum semuanya menggelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.


"Kavita...!


" Kak Vita...!


"Nona Kavita...! "


Suara teriakan orang-orang itu masih dapat terdengar sayup-sayup di telingaku sebelum kesadaranku benar-benar menghilang.


Flashback Kavita Off


****************


Buat yang nanya alasan Kavita memilih pergi dari Adrian. Diatas itulah jawabannya.


Gimana? Masih kurang kejam kah Adrian?


Ditunggu komennya ya... kalau masih kurang berkenan, nanti bisa ku revisi lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏


__ADS_2