Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Draft


__ADS_3

"Saranghae, Vit, " gumaman Valdi lolos begitu saja tanpa disengaja.


"Hah? Apa, Di? "


"Eh, itu... bu-"


Dalam kecanggungan diantara keduanya tiba-tiba ada suara bedebum seperti sesuatu benda padat terjatuh, atau seperti nangka terjatuh mungkin ya, karena suaranya 'gedebug' begitu jelas.


Kedua orang yang tanpa sadar masih dalam posisi mereka sedari tadi menoleh ke arah suara, rupanya si Diva dan Vero saat ini tengah meringis kesakitan berdua. Keduanya kompak nyengir saja saat ketahuan jika sejak tadi mereka ternyata mengintip Kavita dan Valdi yang tengah mengobrol.


"Kalian berdua ngapain guling-gulingan di rumput bgitu, hah? Kalo mau tidur di kamar sana!" Seru Valdi, sontak saja Vero dan Diva saling pandang, kemudian menatap dokter Valdi dan Vita juga yang posisinya saat ini terlihat begitu mesra.

__ADS_1


"Kalian juga ngapain peluk-pelukan kayak gitu? Kalau mau mesra-msraan ke KUA dulu sana!" ucap Vero tak mau kalah.


Mendengar ucapan Vero yang mengatakan mereka berpelukan, sontak saja keduanya melihat pada diri mereka sendiri dan barulah mereka tersadar tentang apa yang baru saja terjadi. Reflek Kavita mendorong dada Valdi untuk melepaskan diri, namun Valdi yang tak juga melepas pegangannya pada Kavita dan yak bisa menjaga keseimbangannya, malah membuat laki-laki itu terjengkang. Secara otomatis Kavita pun ikut terjengkang, dan...


"MGO... " seru Diva dengan mata membulat sempurna. Vero dengan cepat menutup mulut Diva, sedangkan Diva menutup mata Kavero.


Kedua bola mata Kavita melotot begitu juga Valdi yang sama sekali tak menyangka akan mendapatkan suatu keberuntungan seperti saat ini.


(Udah kayak film India deh pokoknya😍)


Mendengar suara gaduh dari arah taman belakang rumah, mama Indri yang baru saja selesai membersihkan diri keluar untuk memeriksa keadaan ada apa gerangan. Jangan tanya bagaimana ekspresinya saat ini melihat anak-anak muda seperti itu. Terkejutnya melebihi Nadiva dan Kavita sendiri yang mengalami hal tersebut. Kedua tangannya menutup erat mulutnya agar tak berteriak, yang nantinya bisa mengejutkan semua orang penghuni rumah.

__ADS_1


"Emmmh... " Vita mengangkat kepala, ia memberontak ingin melepaskan diri. Namun betapa menjengkelkan nya Valdi yang justru semakin erat memeluk pinggangnya, kedua matanya terpejam seolah menikmati kejadian tak sengaja yang baru saja ia alami. Atau Valdi malah menganggap itu adalah mimpi, jadi ia enggan untuk terbangun.


"Valdi, lepas ih! " Vita memukul-mukul dada Valdi hingga laki-laki itu membuka matanya, dan tersadar jika kejadian barusan memanglah nyata adanya.


"Kenapa, Vit? " tanyanya polos seperti orang tak tau apa-apa.


"Lepasin gue! " teriak Vita di depan wajah Valdi, mukanya sudah memerah menahan malu. Apalagi sampai mamanya juga melihat kejadian itu.


"Haduh, mau ditaruh dimana muka gue," gumamnya galau.


Valdi menahan senyum dan menggelengkan kebanyakan pelan, "ternyata beneran ya, " batinnya.

__ADS_1


Kedua tangannya yang semula bertautan memeluk pinggang Kavita mulai terurai. Kavita langsung saja beranjak, merapikan bajunya sebentar dan segera berlalu dari sana dengan berlari. Menghindari pertanyaan yang tidak-tidak terhadapnya nanti.


__ADS_2