Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Semoga Benar, itu Anda, Nona!


__ADS_3

"Bang Adrian? " gumam Aditya yang merasa terkejut akan kedatangan sang kakak beserta seluruh rombongannya yang jika dihitung mungkin ada sekitar tiga puluhan orang lebih.


Adrian tak langsung menjawab ucapan Aditya, ia hanya menghela nafas lega melihat sang adik dalam keadaan baik-baik saja. Lelaki berjalan mendekat dan menarik kedua tangannya yang semula bersembunyi di dalam kantung celananya, lalu ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Aditya. Tangannya bersedekah di dada tanpa berniat melepas kaca mata yang masih bertengger di hidungnya terlebih dahulu.


"Gimana keadaan kamu? " tanyanya seraya menatap wajah Aditya yang masih tampak kebingungan melihat kakaknya tiba-tiba datang bersama dengan pasukannya.


"Ya gini, " jawab Aditya melihat dirinya sendiri, ia berusaha menyembunyikan ponsel yang sejak tadi sedang di ia tak atik olehnya.


Adrian melihat dan mengetahui hal itu, tapi ia mengabaikan nya karena tak ingin Aditya merasa tertekan jika ia malah terkesan mengintimidasi nya dan akan berujung si adik semata wayangnya itu enggan untuk ikut kembali ke rumah.


"Udah lebih baik? " tanya Adrian lagi dan Aditya mengangguk.


"Bagus lah kalau begitu, " ucap Adrian yang tak lagi mendapatkan sahutan dari Aditya.


Baik Adrian maupun Aditya sama-sama tak ada yang memiliki topik pembicaraan karena hubungan mereka merenggang sejak Adrian mau menerima perjodohan antara dirinya dengan Kavita meskipun dirinya sudah mempunyai istri.


Jadi jika salah satu dari mereka mulai membuka mulut, biasanya hanya kata-kata buruk lah yang terlontar. Seperti sindiran, ejekan dan bahkan bully-an. Dan kini mereka dipertemukan dalam keadaan yang seperti itu, membuat keduanya sama-sama merasa canggung.


Kecanggungan iyunyurut dirasakan oleh para bodyguard dan juga beberapa polisi yang mengawal Adrian tadi. Hingga salah satu dari polisi itu mendekat kepada mereka berdua.


"Maaf, Pak. Saya hanya mau mengkonfirmasi, apa benar jika saudara Aditya ini memang benar adik Anda? "


Adrian mengurai lipatan tangannya dan menegakkan punggung, "ya benar, Pak, "


"Baiklah, kalau begitu berarti tugas kami dari ke polisian sudah selesai sampai disini atau masih ada hal lain lagi yang bisa kami bantu? " tanya polisi itu lagi.

__ADS_1


"Sepertinya tidak, Pak. Saya akan mengurus sisanya. Terimakasih banyak atas bantuan dari pihak kepolisian semua, " Adrian sudah berdiri dan menyalami polisi tersebut beserta yang lainnya juga yang ikut bersalaman kepada semua nya.


"Sama-sama, Pak. Kami semua mohon pamit, " polisi itu menundukkan kepalanya diikuti oleh lainnya, dan Adrian pun melakukan hal yang sama.


Sepeninggal para polisi itu, kini tinggallah kedua kakak beradik dan para bodyguard Adrian saja disana. Adrian berjalan ke arah jendela, membukanya dan menghirup udara sejuk disana sebanyak mungkin hingga ia merasa oksigen memenuhi rongga paru-parunya.


"Disini udaranya sangat sejuk, pantas saja kamu betah tinggal disini, " ucap Adrian uang terselip sedikit sindiran di dalamnya.


Aditya mendengus, ia tau jika kakaknya itu tak akan membiarkannya hidup tenang walau hanya sebentar saja. Ia pasti akan mencarinya meski harus sampai ke lubang ular sekalipun.


"Ya begitulah... Lalu untuk apa Bang Adrian harus jemput kesini kalau tau aku betah tinggal disini? " balas Aditya yang balik bertanya.


Adrian membalik tubuhnya dan bersandar pada kusen jendela, tangannya kembali ia lipat ke dada.


"Ck! " Aditya berdecak, "kali cuma karena hal itu 'kan bisa biar mereka aja yang kesini, nggak perlu Abang juga ikut, " kesalnya karena kata-kata Adrian yang dengan entengnya mengatakan jika dirinya sudah mati.


"Ya, sekarang mereka sedang dalam perjalanan kesini sama para pengawal. Kalau tadi langsung mereka yang ngecek kemari, dan takutnya kalo kamu udah benar-benar mati, 'kan kasian juga mereka kesini cuma buat nangisin jenazah lo aja," jawab Adrian yang sejujurnya bukanlah kalimat itu yang ingin ia ucapkan, tapi entah kenapa jika mulutnya berbicara hanyalah kata-kata buruk saja yang terucap.


"Kampret lu, Bang! " gumam Aditya yang sudah merasa sangat jengkel. Andai saja kakinya bisa ia gunakan untuk berjalan, ia pasti sudah pergi dari sana dan meninggalkan sang kakak yang menyebalkan itu.


Bukannya marah ataupun jengkel, Adrian justru terkekeh mendengar gumaman sang adik.


"Kenapa kamu ngedumel kayak gitu? Nggak suka? "


"Nggak! " balas Aditya sewot.

__ADS_1


"Udah lah, Dit. Buat apa sih kamu jengkel sama Abang? Toh, sekarang Abang udah nggak ngeduain Kavita lagi 'kan? Dan kalau sampai Kavita berhasil Abang temuin, dia bakalan jadi wanita satu-satunya yang ada di hidup Abang, " ucap Adrian yang tau jika adiknya itu merasa marah karena dirinya yang menduakan Kavita, wanita yang menurut adiknya itu adalah seorang perempuan yang cantik dan baik luar biasa.


Aditya menoleh ke arah lain, enggan melihat wajah kakaknya yang seakan tak memiliki rasa bersalah pada istrinya itu sama sekali dan malah dengan entengnya berucap seperti itu.


"Sayangnya gue nggak bakalan ngebiarin hal itu terjadi, Bang. Gue nggak akan ngebiarin Kavita sampe ketemu sama lo apalagi sampai kembali lagi sama cowok plin-plan dan nggak tegas kek lo! " ucap Aditya dalam hatinya yang merasa tak rela jika sampai Kavita harus kembali lagi kepada kakaknya.


"Kenapa? Kamu nggak rela? " tanya Adrian yang seakan bisa mendengar kata hati Aditya.


"Udahlah.. nggak usah dibahas, mendingan kalian ngopi sana di kantin! Aku mau istirahat, " Aditya membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi keseluruhan wajahnya.


Adrian hanya mengedikkan kedua bahunya, ia berjalan ke arah kursi dan duduk disana. Lalu memberi komando pada bodyguard nya jika mereka ingin beristirahat ataupun sekedar minum kopi seperti apa yang tadi disarankan oleh adiknya. Ia masih menunggu sampai kedua orang tuanya untuk sampai disana, barulah ia bisa kembali ke kota atau kemanapun yang ia mau.


Beno mengajak anak buahnya untuk beristirahat, ada yang ke toilet, ada yang tidur, dan ada juga yang ke kantin, makan ataupun hanya menyeruput minuman hitam yang menjadi favorit para kaum laki-laki tersebut.


Saat berjalan menuju ke kantin, Beno menyipitkan matanya melihat seseorang wanita yang mirip seperti nona mudanya sedang duduk di kursi roda dan di dorong oleh sorang berpakaian putih seperti seorang dokter. Tetapi yang menjadi keheranannnya, wanita itu tampak lebih kurus dan rambutnya juga lebih pendek. Serta perutnya juga sudah mengempes.


"Apa itu nona Kavita? Istri muda Tuan Adrian yang sedang dicarinya selama ini? Tapi sprtinya beda, apa hanya mirip saja? " gumam Beno dalam hatinya. Ia takut jika belum memastikannya dan langsung berkoar-koar, kalau sampai hal itu salah, bisa-bisa ia di gantung oleh tuan nya itu.


"Tapi kalau benar ... mampus juga gue! " gumamnya lagi yang segera beranjak dari duduknya, bahkan kopi yang ia pesan baru saja datang, namun lelaki itu sudah lebih dulu berlari seraya memberi komando pada pasukannya yang bersama dirinya.


"Cari wanita yang duduk di kursi roda dan didorong oleh dokter tadi. Tanyai siapa namanya dan darimana asalnya, kita harus memastikan jika wanita itu nona muda kita atau bukan, " titahnya kepada pasukannya yang sudah siap berdiri di hadapannya.


Mereka semua kemudian berpencar untuk mencari keberadaan dari wanita yang ciri-cirinya di sebutkan oleh pemimpin mereka tadi.


"Semoga saja benar, itu anda, Nona, "

__ADS_1


__ADS_2