
Di pagi hari yang cerah di luar sana, tak seperti suasana di dalam ruangan perawatan Aditya yang nampak wajah mendung di dalamnya. Wajah dari seorang anak manusia yang sedang dilanda kebosanan.
Sudah sehari semalam ia disana, tapi ia hanya bisa berdiam diri dan tak melakukan apapun juga. Ia hanya bisa berbaring dan menatap langit-langit ruangan itu saja sebagai penghiburan.
Karena rasa bosan yang sudah sangat memenuhi dirinya, Aditya pun bangkit dari posisi tidurannya. Ia menurunkan kaki kirinya dari atas ranjang, lalu mengangkat kaki kanannya, dan mencoba untuk menurunkannya juga.
"Shh... " desis nya saat merasakan kakinya masih juga sakit, perih dan juga pegal menjadi satu. Bahkan satu kakinya itu kini nampak membengkak.
"Kayak kaki gajah gini, pantesan aja sakit dan berat banget, " gumam Aditya yang sedang mengamati kakinya tersebut.
"Hish... dalam waktu semalem aja tiba-tiba udah jadi segede ini," Aditya celingukan mencari kursi roda maupun kruk untuk membantu dirinya berjalan. Tetapi ia tak mendapatkan nya di ruangan tersebut.
"Disini gak ada kursi roda, kruk atau tongkat nenek-nenek atau apapun itu. Apa aku harus ngesot kalau mau ke mana-mana?" lelaki itu menggerutu sejak tadi karena kekesalannya sendiri.
"Apa kau mau meminjam tongkat nenek, Cu? "
"Atau, mau ikut mengesot sepertiku, Bang? "
Tiba-tiba terdengar suara-suara yang aneh di telinga Aditya. Lelaki itu celingukan mencari sumber suara tapi tak menemukan apapaun dan siapapun di sekitarnya.
Aditya kembali merasakan bulu kuduk nya berdiri. Ia bergidik dan menggigil, lalu memutuskan untuk kembali bersembunyi di dalam selimutnya saja. Mungkin jika ia keong atau kura-kura, ia akan langsung masuk ke dalam cangkangnya dan bersembunyi di dalam sana.
Hal itu membuat dua orang wanita susah mengendalikan tawa mereka dan segera saja keduanya terbahak-bahak.
Aditya membuka selimutnya dengan cepat, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada apapun dan siapapun lagi. Ia menarik selimutnya lagi sampai menutupi seluruh tubuhnya, hingga ia hanya terlihat seperti setumpuk bantal. Lagi-lagi terdengar suara tawa wanita yang lebih dari satu. Tetapi Aditya tak lagi berani mengintip.
Lelaki itu memang lebih takut kepada hal-hal seperti itu dibanding dengan preman ataupun penjahat sekaligus. Jika segudang preman akan mampu ia hadapai dengan kepintaran ataupun kepandaian nya dalam ilmu bela diri, tapi jika makhluk yak kasat mata ia tak tau caranya bagaimana untuk menghadpai mereka.
Apalagi jika terbayang rupa mereka yang menyeramkan seperti yang sering dilihatnya di dalam film horor itu, ia akan ketakutan tanpa alasan. Sungguh konyol Aditya itu. Tapi apa mau dikata jika sudah menyangkut rasa takut, siapapun tak akan mampu mengelaknya kan.
"Heh! Ngapain lo ngumpet kek kepompong kayak gitu? Mau ber-metamorfosis kek kupu-kupu atau malah hibernasi kek beruang? " seru Nadiva seraya menepuk punggung Aditya yang tubuhnya melingkar di dalam selimutnya.
Lelaki itu terjingkat kaget dan tangannya reflek membuka selimut, "elo? " teriaknya dengan mata melotot
"Jadi daritadi itu elo yang ngetawain gue? "
__ADS_1
"Ngetawain apa sih? Kenapa lo tiba-tiba marah-marah kayak gini coba sama gue? Tau gitu nggak usah jenguk gue tadi, " kesal Nadiva dan akan membalikkan tubuhnya, tapi dengan cepat Aditya menarik tangan gadis itu.
"Jangan...! " teriak Aditya, "gue takut.. " lanjutnya mencicit.
Nadiva mengibaskan tangannya yang dipegang oleh Aditya, tak ingin berlama-lama membiarkan rasa sensasi tersengat itu menjalar di tangannya dan akan merambat sampai ke hatinya.
"Dasar cowok penakut lo! " tandas gadis itu.
"Biarin, " jawab Aditya dengan bibir mematut.
Kemudian satu orang wanita yang datang bersama dengan Nadiva tadi menyerahkan nampan berisi makanan pada Aditya. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul enam sore yang tandanya sudah masuk jam makan malam.
Aditya menerimanya meski masih ada perasaan gemetar dalam dirinya.
"Silahkan dimakan dulu... nanti saya akan memeriksa Anda kalau susah meminum obat. Karena jika sekarang saya memeriksa Anda, takutnya tensi darah Anda naik, karena baru saja Anda merasa ketakutan, " tutur suster yang bersama dengan Diva, yang ternyata adlah suster Dina.
"Siapa yang ketakutan? Orang gue bercanda doang, kok," sangkal Aditya.
Nadiva melipat kedua tangannya, "oh ya? Lo cuma bercanda aja? "
"Yuk, Sus... kita tinggal aja! " ajaknya pada Suster Dina.
"Iya-iya... gue akuin gue takut. Jangan tinggalin gue sendirian. Pas lo?! " aku Aditya.
Nadiva tertawa puas, "iya, puas gue, " ucapnya.
"Udah buruan makan! Keburu basi ntar.. gue juga nggak bisa nungguin lo lama-lama disini, masih bayak kerjaan gue yang lain, " ucap Diva lagi.
Aditya mengernyitkan keningnya, "lo kerja disini? " tanyanya pada Nadiva.
"Hem.. " balas Diva singkat, ia melirik suster Dina yang hanya diam saja melihat interaksinya dengan Aditya.
"Sejak kapan lo kerja disini? Jauh bener... "
"Kepo lo! "
__ADS_1
"Nanya doang kali, Div, " ucap Aditya seraya mengunyah makanannya.
"Nggak usah kebanyakan nanya! Mending banyakin makan aja biar cepet gemuk dan cepet sembuh, " tandas Diva,
"Iye.. bawel kek emak-emak, " ucapan Aditya itu membuat Nadiva mendelik.
"Yuk, Sus. Kita tinggalin aja ni orang penakut, biar dia dimakan nenek gombel sekalian, " Diva menggamit tangan suster Dina dan dengan cepat mengajak gadis itu keluar dari sana.
"Jangan dong, Diva.. Pliss, jangan tinggalin gue.. Div, Diva!! " teriak Aditya memanggil-manggil nama Diva. Tapi gadis itu tak mau mendengarnya, ia terus saja berjalan keluar.
"Diva bener-bener tega sama gue, " Aditya kembali celingukan dan melihat kearah nasinya. Ia seperti melihat nasi tersebut bergerak-gerak, membuatnya melemparkan piring tersebut.
Mendengar suara gaduh dari kamar Aditya, kedua gadis yang bun jauh daie ruangan itu kembali berbalik, keduanya terkejut melihat makanan yang berserakan dengan piring besi yang digunakan sudh tertelungkul di lantai.
"Lo apa-apaan sih, Dit? Baru dua hari disini udah bikin kekacauan aja terus, " seru Diva yang merasa kesal dengan kelakuan lelaki itu.
"Bu-bukan maksud gue kayak gitu, Diva. Tadi itu, nasinya gerak-gerak.. kek bukan nasi, " jawab Aditya dengan nada gagap dan terpustus-putus.
"Hah? Lo pikir tuh nasi idup sampe bisa gerak-gerak? Lo ngayal atau halusinasi? Bener-bener mulai nggak waras lo! " ujar Diva menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis fikir dengan Aditya yang bersikap aneh karena ketakutan.
"Gue serius Diva, gue nggak bohong. Sebenernya lo itu lagi di dunia apa sih, Dit?" Diva melihat suster Dina membereskan kekacauan yang sudah dibuat oleh lelaki itu.
"Mungkin Authornya lagi khilaf, dia bikin gue berada di dunia horor.. jadi kayak gini kan gue, "
π₯π₯π₯
Lhah.. kok jadi Author sih yang disalahin?
Yaudah deh, Author minta maaf kalau emang salah.
Mumpung lagi lebaran, Author mengucapkan :
"πππππ πΈππππ πππ π½ππππ«ππ
ππ€ππ€π£ ππππ πππππ§ πππ£ π½ππ©πππ£"
__ADS_1
π£πͺπΊπΈπ«π«πͺπ΅π΅πΈπ±πΎ πΆπ²π·πͺ π¦π πΆπ²π·π°π΄πΎπΆ π£πͺπΊπΈπ«π«πͺπ΅π΅πΈπ±πΎ ππͺ π΄πͺπ»π²πΆ... π
0 : 0 ya... π₯°