
Kavita bersama anaknya aman tinggal di rumah Valdi, karena tak ada satupun orang yang merasa curiga disana. Kedua orangtua Kavita pun merasa tenang juga karena putri serta cucunya itu berada di tangan yang tepat. Hingga mereka bisa fokus menata hati mereka untuk bertemu dengan cucu mereka nantinya, yang mungkin tak akan pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Jangankan bertemu, untuk tau siapa ayah biologisnya saja mungkin tak akan ada yang sudi untuk memberitahukannya.
"Lelaki itu tidak pantas disebut sebagai seorang suami apalagi seorang ayah, " ucap semua orang yang merasa sakit hati atas perlakuan Adrian pada Kavita.
Keadaan fisik Papa Indrawan sudah lebih baik sebenarnya dengan perawatan intensif dan juga ketelatenan mama Indri yang mengurusnya. Tapi hatinya lah yang belum baik-baik saja hingga saat ini. Betapa tidak, ia merasa sangat bersalah kepada putri satu-satunya itu, karena dialah yang telah menjodohkan Adrian dengan Kavita, yang artinya secara tidak langsung dirinya lah yang telah memasukkan putrinya itu ke dalam neraka dunia.
Menyalahkan diri sendiri, itulah yang selalu ia lakukan. Makanya sampai saat ini ia belum sanggup untuk bertemu dengan Kavita, dirinya merasa mungkin jika pun berlutut di depan putrinya saja tidak akan pernah bisa untuk menebus kesalahannya yang telah menjodohkannya dengan lelaki brengsek seperti Adrian itu.
"Maafin Papa, Kavita... " air mata seorang ayah itu kembali luruh kala menatap sebuah bingkai foto yang disana ada potret putri kesayangan nya yang malang.
Foto kebanggaan Kavita saat di wisuda dua tahun lalu itu menjadi saksi betapa penyesalan ayahnya itu seakan tiada akhir. Putrinya yang cintai, putri yang ia banggakan, putri yang cerdas. Ia berharap dengan menjodohkan Kavita dengan Adrian yang merupakan lelaki pandai, juga sudah menjadi CEO sejak usia muda di perusahaan keluarga nya, dan juga merupakan anak dari sahabatnya sendiri, maka Kavita akan bahagia dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah.
Namun apa yang ia dapat? Hanya luka dan air mata yang setiap hari ditorehkan oleh lelaki itu. Hingga Papa Indrawan sebagai ayahnya tak mampu lagi membayangkan bagaimana penderitaan putrinya semasa hidup bersama dengan Adrian.
"Tolong hapuslah air matamu, Pa. Hentikan kesedihanmu, lihatlah! Putri dan cucu kita sehat dan bahagia sekarang, " mama Indri yang sejak tadi melihat suaminya menangis ikut merasakn pilu dalam hatinya. Dirinya menghapus air mata dan tersenyum melihat senyum di wajah putrinya dalam foto di ponselnya.
Sudah dua puluh delapan tahun mereka hidup bersama, namun baru kali ini mama Indri melihat suaminya itu begitu hancur. Hanya karena kesalahan nya sendiri yang telah menjodohkan putri satu-satunya mereka dengan anak sahabatnya yang dirasa sempurna, ternyata busuk tiada tara.
__ADS_1
Mama Indri menunjukkan foto-foto yang di kirimkan oleh Vero ke ponselnya. Disana ada Kavita yang tengah tertawa bahagia bercanda dengan putranya, yang merupakan cucu mereka. Lalu foto berikutnya ada Valdi juga yang seakan melengkapi kekurangan foto tadi.
"Sebuah keluarga kecil yang indah, " gumam Papa Indrawan melihat tiga orang yang menjadi subyek foto tersebut.
"Iyakah? Papa juga merasa seperti itu kan? Valdi pemuda yang sangat baik dan tulus, bahkan ia rela merawat anak dan cucu kita tanpa pamrih, " mama Indri ingat perjuangan seorang Valdi yang merawat Kavita dan baby Kava selama ini.
"Sejak Kavita masuk rumah sakit dan melahirkan dengan tak sadarkan diri, disaat semua orang hanya bisa menangis serta menyalahkan diri kita sendiri. Valdi lah orang yang paling tegar, meski tak dapat dipungkiri, lelaki itu juga pasti merasa hancur. Mama bisa melihat dari sorot matanya saat itu, Pa, " mama Indri menoleh pada luar jendela.
"Mama juga sempat melihat pemuda itu menghapus air matanya beberapa kali melihat Kavita tak berdaya. Saat anak kita mengalami pendarahan hebat dan harus segera ditangani, hanya dia yang masih bisa berfikir jernih diantara kepanikan kita yang tak mampu berbuat apa-apa," wanita paruh baya itu menghela nafas nya terasa sesak mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Valdi sudah banyak berjasa bagi kehidupan baru Kavita. Semenjak Kavita kona, kita seperti tak punya harapan lagi karena keadaanya begitu kritis sepanjang hari. Apalagi cucu kita yang terlahir prematur, keadaannya benar-benar memprihatinkan, seakan tak punya harapan hidup sama sekali, " air mata kembali luruh membasahi pipi mama Indri.
Papa Indra membawa istrinya bersandar pada bahunya mengelus punggungnya pelan, mencoba memberikan kekuatan dan kesabaran.
"Hanya Valdi satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan. Dia yang terus meyakinkan semua orang jika Kavita dan anaknya pasti selamat. Dia yang memiliki keyakinan paling besar akan hal itu. Dan bukan cuma omong kosong saja, dia pun berusaha keras untuk mewujudkannya, "
"Dia merawat Kavita dan cucu kita dengan sangat baik, memberikan obat yang terbaik, bahkan Mama tau dari Vero jika Valdi juga menangani cucu kita secara langsung sendiri. Mulai dari memeriksa, merawat, memberikan susu, bahkan sampai mengganti pokoknya juga, " jelas mama Indri panjang lebar kepada suaminya yang memang tak tau apa-apa karena lelaki itu juga baru sadar dari koma sehari sebelum Kavita tersadar.
__ADS_1
"Bukannya itu tugas suster, Ma? "
"Iya, tapi Valdi ingin khusus untuk anak Kavita dia sendiri yang akan menangani semuanya, "
"Sungguh mulia anak itu, tapi... "
"Tapi apa, Pa? "
"Bukankah status Kavita saat ini masih sebagai istri dari lelaki itu? " Papa Indrawan pun enggan menyebut nama menantu itu sekarang, padahal dulu Adrian sangatlah dibanggakan olehnya sebagai menantu kesayangannya.
"Tidak akan lagi, Pa. Karena Mama sudha menyuruh pengacara kita untuk mengurus perceraian Kavita dan lelaki itu secara terpisah. Karena Mama tak ingin hal ini mengganggu kebahagiaan Kavita yang baru dimulai lagi, " ungkap mama Indri.
"Anggap saja, Kavita yang dulu, yang menjadi istri dari lelaki itu sudah tak ada lagi. Jadi Kavita yang sekarang adalah Kavita yang baru. Kavita yang merupakan ibu dari seorang putra, namun bukan seorang istri," papa Indra menatap istrinya yang masih menatap lurus ke depan.
"Tak masalah, karena kita akan selalu bersamanya sebagai pelengkap kehidupan mereka sehingga Kavita maupun anaknya tidak akan pernah merasakan kesepian ataupun kekurangan kasih sayang. Jika memang butuh suami, Mama akan meminta dokter Valdi menikahinya, " ucap seorang ibu yang hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa atas perbuatan menantunya terhadap sang putri.
"Hati Mama sudah terlalu sakit sejak tau pertama kali penghianatan yang dilakukan oleh mantan menantu kesayanganmu itu! "
__ADS_1
"Uhuk, " papa Indrawan jadi tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan istrinya barusan.