
Vara melotot mendengar perkataan Adrian yang enteng seakan tak ada beban. Wanita itu khawatir akan ada yang mendengar ucapan Adrian.
"Kita udah bahas ini ya, Dri. Dan udah ada perjanjian tertulis juga diantara kita, jadi kamu gak boleh seenaknya ngomong kayak gitu lagi, " tandas Vara tegas.
Adrian mendengus, "selalu itu ancaman kamu, kapan sih kita bisa bebas. Aku ngerasa kayak lagi selingkuh tau nggak? mesti sembunyi-sembunyi kalau mau ketemu sama kamu, "
"Udahlah, lama-kelamaan kamu makin ngaco, " Vara mengibaskan tangannya lalu pergi dari tempat itu.
Vara turut mencari dimana Vita berada, wanita itu memanggil-manggil nama Vita tapi tak ada jawaban apapun seperti panggilan para ART yang tak mendapat sahutan daeitadi.
"Jangan-jangan semalam itu beneran Vita. Gimana kalau dia lihat aku sama Adrian lagi... " tanya Vara dalam hati.
"Enggak-enggak, " wNita itu menggeleng, menyangkal kenyataan yang sebenarnya ia sudah tau.
"Itu nggak boleh terjadi. Kalau sampai Vita tau, semuanya bisa kacau. Belum lagi, gimana hancurnya perasaan dia? " gumam Vara.
"Pasti akan lebih hancur daripada saat aku tau kalau Adrian harus dijodohkan sama dia waktu itu,"
"Saat Adrian harus menikah lagi dengan wanita lain disaat dia udah punya istri, yaitu aku, "
Vara melamun, ia bermonolog dengan dirinya sendiri. Otaknya berperang dengan hatinya. Dimana otaknya mensyukuri kalau memang Kavita sudah tau mengenai hubungannya dengan Adrian, tapi hatinya merasa tak tega juga kalau harus melihat wanita lain merasa sakit hati karena dirinya.
Tapi disatu sisi egoisnya juga merasa tak rela jika harus berbagi suami. Vara sangat mencintai Adrian, begitu juga dengan lelaki itu. Tapi mereka harus menghadapi kenyataan yang pahit saat dokter menyatakan bahwa Vara..
"Ternyata kamu disini, aku cariin daritadi juga. Aku mau kerja dulu, kamu mau sekalian bareng atau nanti diantar supir? " Lamunan Vara buyar saat mendapat teguran dari Adrian.
Lelaki itu berpamitan seperti layaknya seorang suami kepada istrinya, hanya bahasanya yang dibuat sebiasa mungkin agar tak ada yang curiga.
Lebih tepatnya mereka waspada jika saja ada Kavita disana. Karena semua para asisten serta supir dan security mereka sudah mengetahui hubungan kedua orang itu yang sebenarnya. Dan semuanya sudah diperingatkan untuk tutup mulut seakan tak tau apa-apa jika masih ingin bekerja disana.
Tentu saja mereka semua menurut dengan perintah Adrian dan Vara yang mereka nilai adalah majikan yang baik dan memberikan gaji yang lebih banyak daripada di tempat lain.
__ADS_1
Sedangkan untuk urusan pribadi mereka mengenai majikan baru yang bernama Kavita, mereka tak mau ikut campur. Karena itu adalah masalah kehidupan rumah tangga majikan mereka yang tak perlu mereka ketahui.
"Aku nanti berangkat sendiri aja, kalau sama supir malah Kavita bisa curiga, " jawab Vara datar.
"Enggak!" tolak Adrian tegas.
"Kamu nggak boleh nyetir sendiri, harus ada supir yang mengantar dan satu asisten buat jagain kamu, seperti biasanya. Nggak ada alasan, meski apapun itu, "
"Enggak, Dri. Sampai kapan aku dikawal terus kemana-mana? Aku merasa terkekang, " seru Vara seraya berdiri dari duduknya.
"Sampai kamu bener-bener sembuh, Vara, " jawab Adrian lembut.
"Aku udah sembuh, Dri, "
"Dokter belum menyatakan hal itu, Vara, "
"Terserah, " mata Vara berkaca-kaca. Wanita itu lalu berlari masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya.
"Aaaarggh..." Adrian berteriak, ia mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa hidupku harus seprti ini? Kenapa Tuhan?"
"Aku nggak pernah menginginkan istri lebih dari satu, tapi kenapa Kau memberikannya? "
"Aku nggak pernah ingin menjadi penghianat cinta, tapi kenapa mereka semua memaksaku untuk mendua? "
"Apa aku nggak bisa bahagia dengan satu wanita saja, Vara. Hanya Vara seorang yang aku cinta, nggak ada yang lain lagi, "
"Tidak masalah meski aku tak memiliki keturunan, yang penting aku bahagia dengan Vara. Aku bahagia hidup berdua dengannya. Kenapa mereka semua harus mengusik kehidupanku, kenapa? "
Adrian mengamuk, ia merobohkan pot-pot tanaman yang tersusun rapi. Hingga manik matanya menangkap pecahan pot bunga yang terukir nama Vara disana, pot yang kemarin sempat dilihat oleh Vita.
__ADS_1
"Maaf, Vara sayang.. aku gak bermaksud nyakitin kamu, " Adrian meraup pecahan pot itu dan meratapi nya.
"Kenapa kamu harus memaksaku menikahinya, Vara? kenapa kamu harus mengancamku? bukannya kamu tau, kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, "
Lelaki itu menangis meratap memandangi pot bunga yang disana terdapat ukiran nama Vara, yang diukur sendiri olehnya dulu saat baru saja tinggal di rumah itu.
Vara adalah cinta pertama Adrian, mereka sudah saling mengenal sejak masuk ke bangku sekolah menengah atas. Keduanya yang merupakan sesama anggota OSIS, mengharuskan untuk sering bertemu dan berdiskusi tentang ini dan itu, hingga lama kelamaan cinta bersemi diantara keduanya.
"Kamu mau nggak, jadi pacarku? " ucap Adrian kala itu, waktu menyatakan cintanya pada Vara.
Cinta yang sebagian orang menganggapnya hanya cinta semu atau cinta monyet karena usia mereka yang masih belia. Tapi siapa sangka jika cinta mereka mampu bertahan lama.
Kisah percintaan mereka berdua terus berlanjut hingga ke bangku kuliah, mereka kuliah di universitas yang sama, dan mengambil jurusan yang sama, yaitu management bisnis.
Hubungan keduanya yang semakin serius dan dengan seiring dewasanya usia mereka. Adrian dan Vara saling mengenalkan diri mereka dengan orangtua masing-masing.
Tidak ada hambatan sama sekali, semuanya berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan impikan. Kedua orang tua Adrian menyetujui hubungan mereka, begitu pula dengan kedua orang tua Vara yang hanya merupakan karyawan biasa.
"Mami setuju, kalau memang kamu mencintainya. Yang penting dia benar-benar perempuan baik-baik, " ucap Mami Sinta dengan menatap kedua bola mata Adrian yang berbinar bahagia.
Kedua orangtua Adrian tak memandang status sosial, mereka hanya perduli dengan kebahagian anak mereka. Jika Adrian suka, mereka juga akan ikut menyukainya.
Pernikahan sederhana terjadi diantara keduanya begitu lulus kuliah karena orangtua Vara yang tengah sakit. Ibunya menderita penyakit kangker seviks, dan harus mendapatkan perawatan intensif terus menerus. Hingga keluarga Vara yang dulunya berkecukupan kini menjadi serba pas-pasan.
Vara sendiri bisa terus melanjutkan pendidikannya karena mendapatkan beasiswa, sedangkan untuk uang sakunya sudah ditanggung oleh Adrian yang memujanya. Bukan karena Vara yang memoroti Adrian, tapi memang lelaki itu tak mau melihat sang kekasih kesusahan.
Meskipun pernikahan mereka sederhana dan hanya dilakukan oleh penghulu saja, belum terdaftar di negara. Tapi Adrian dan Vara tetap bahagia dan tak pernah mempermasalahkan pernikahan diri mereka.
Tapi Tuhan mengambil orangtua Vara satu persatu hingga membuat wanita itu menjadi yatim piatu.
Bersambung...
__ADS_1