Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Maafin Aku Ya, Istriku...


__ADS_3

Papi Wijaya dan Mami Shinta saat ini tengah bersiap-siap untuk datang je rumah sakit tempat dimana Aditya dirawat. Tadi begitu mereka mendapatkan telpon dari Adrian yang mengabarkan bahwa anak bungsu mereka itu ternyata masih hidup dan saat ini tengah dirawat di rumah sakit yang berada di kawasan puncak, mereka langsung berpelukan mengungkapkan rasa lega dan kebahagiaan yang mereka rasakan.


"Aditya masih hidup, Pih... Anak kita masih hidup," ucap mami Shinta yang merasa bahagia dengan air mata berderai.


"Iya, Mih... Iya. Papi juga lega sekali mendengar berita ini, " balas papi Wijaya pula tak kalah bahagianya.


Ia merasa sangat bahagia dan lega karena anak dari sahabatnya itu masih bisa diselamatkan, itu artinya dia tak lagi harus terlalu merasa khawatir dan kebingungan jika harus berhadapan dengan sahabat nya itu suatu saat nanti.


"Terimakasih, Tuhan ... Engkau masih menyelamatkan dan memberi umur panjang kepada Aditya. Karena anak itu memang harus panjang umur dan selalu sehat agar bisa meneruskan garis keturunan dari ayahnya, serta menjalankan semua bisnis ayahnya kelak, " batin papi Wijaya.


Dan kini keduanya sudah siap untuk berangkat menuju rumah  tempat dirawat nya Aditya. Sepanjang perjalanan mami shinta nampak tak sabar untuk segera bertemu dengan anak bungsu kesayangan nya itu.


Wanita yang sebenarnya sudah menjadi nenek itu tak bisa duduk dengan diam dan nyaman di dalam mobil. Ia terus bergerak begini begitu hingga membuat suaminya berasa terganggu akan tindakannya tersebut.


"Mami kenapa sih? Papi lihat daritadi nggak bisa diem deh," tegur sang suami.


"Mami udah nggak sabar pengen cepet-ceoet ketemu sama Aditya, Pih. Mami cepet pengen tau gimana keadaanya, " jawab Mami Shinta.


Papi Wijaya menghela nafas, ia sangat faham akan apa yang dirasakan oleh istrinya tersebut. Sebenarnya dirinya sendiri pun juga merasakan hal yang sama, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang dan bersabar karena tak mau dinilai lebay juga nantinya.


"Iya, Mih ... sama, Papi juga. Tapi nggak harus sampe duduknya nggak bisa diem mulu kaya cacing kepanasan gitu 'kan? Daripada hanya terus bersikap abstrak seperti itu, lebih baik Mami berdoa saja, semoga luka yang dialami oleh Aditnya itu tidak parah, jadi Adit bisa cepat kita ajak pulang sekalian nanti, " ucap Papi Wijaya menasehati istrinya.


Mami Shinta kini duduk diam dan bersandar pada sandaran kursi penumpang, ia pun mulai berdoa kepada Tuhan, sesuai dengan apa yang suaminya tadi nasehat kan padanya.


"Nah ... kalo kayak gitu'kan lebih adek lihatnya, " gumam Papi Wijaya begitu melihat apa yang istrinya lakukan. Ia pun kembali pada koran yang ada di tangannya lagi.


Lain yang terjadi antara papi Wijaya dan Mami Shinta, lain pula yang saat ini terjad antara ketiga orang yang berada dri rumah sakit. Yaitu Vero, Ferdi dan Nadiva yang tadi dengan meyakinkan nya melakukan sandiwara di depan para anak buah Adrian.


"Gimana? Udah aman? " tanya Vero kepada dokter Ferdi yang kini sedang mengintip lewat celah pintu.


Dokter Ferdi mengangguk, "udah aman, " Ia menganggukkan kepala dan mengangkat tangan lalu menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari memberi tanda jika situasinya sudah aman terkendali.


Vero dan Diva keluar melalui pintu yang sama dengan yang Vita dan Valdi lewati tadi. Itu karena mereka tetap masih harus berjaga-jaga agar tidak ketahuan oleh para anak buah Adrian.


"Mereka berdua kemana sih? " tanya Diva yang hanya bergumam, mungkin maksudnya adalah hanya untuk dipertanyakan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kita ikutin aja duku jalan yang ada, Kak. Ntar juga ketemu. Kalo nggak ya yang penting kita nggak ketemu sama para anak buah si pengecut itu aja,"


"Pengecut? Adrian maksud lo? " tanya Diva mengoreksi.


Kavero memutar bola matanya malas, "udah tau masih aja diperjelas. Bikin males ajah, " ucap Vero yang kemudian berjalan cepat dan melalui Diva begitu saja.


Di depan sana adalah ruangan bayi, melihat itu membuat Vero jadi teringat kepada keponakannya yang belum ia kunjungi selama dua hari ini.


"Hmm ... ke ruangan si baby aja ah. Udah kangen banget nih ama tuh bayik kecil, " gumam Vero dalam hatinya tanpa menghiraukan seruan dari Nadiva yang manggil-manggil namanya.


"Vero...! Tungguin gue nape? Kenapa sih lo? mendadak aneh cuma gara-gara denger nama tuh orang aja, " ucap Diva yang kini mengimbangi jalannya di samping Vero.


"Nggak papa, lagi pengen aja gue, "


"Pengen? Pengen apa? "


"Pengen sesuai kehendak hati gue, meski dibilang aneh dan nggak sesuai sama karakter gue, "


Nadiva mendengus, "iya ding iya... tau-tau udah mau siang aja sih ini, "


"Laper gue, " sahut Diva.


"Makan sono! " ucap Vero tanpa menoleh kearah Diva yang mengekor dibelakangnya.


"Temenin napa? Ke Kantin yuk! " ajak Diva.


"Gue mau nengokin ponakan gue dulu, "


"Nanti kita nengokin bareng-bareng, Ver. Ayolah kita makan dulu, "


"Gue mau nengokin ponakan gue dulu, Kak, "


"Ayolah, Vero! Gue udah laper banget ini, " Diva yang berada di belakang Vero berjalan terburu-buru guna mengimbangi langkah panjang lelaki itu. Gadis itu pun berusaha menangkap tangan Vero tapi tak sampai juga karena saking cepatnya lelali itu berjalan.


"Mas, istrinya jangan di tinggal-tinggal gitu dong. Kasian... " ucap salah satu ibu-ibu yang mereka lewati.

__ADS_1


"Iya, mana lagi hamil gede kayak gitu lagi, malah ditinggal jalan cepet banget, " sahut wanita yang lainnya lagi.


Vero pun memperlambat jalannya mendengar ucapan seorang ibu-ibu yang menegurnya barusan. Keningnya mengernyit karena merasa bingung.


Begitu pula Diva yang tak kalah bingungnya dengan ucapan para ibu-ibu itu.


"Tega banget sih jadi suami, "


"Hooh, kalo suami saya kayak gitu. Hih! Udah saya tinggalin gitu aja, nggak peduli meski saya lagi hamil gede juga. mending ngidupin anak saya sendiri daripada punya suami yang nggak mau peduli sama istri dan anaknya kayak gitu, " salah satu ibu-ibu itu semakin marah-marah dan mendumel sedemikian rupa.


Tanpa mereka berdua sadari, kedua orang itu sejak tadi menjadi pusat perhatian orang-orang karena Diva rupanya masih menggunakan bantalan pada perutnya hingga ia masih terlihat seperti orang hamil sembilan bulan.


"Hamil? "


"Suami?


" Istri? " gumam Diva dan Vero secara bergantian.


Tatapan keduanya turun pada perut Diva, dan ...


"Oh My God! " seru mereka terkejut.


Kemudian Vero menggandeng tangan Diva dan tersenyum di hadapan para ibu-ibu yang sedang antri di pemeriksaan kehamilan tersebut.


"Iya, Buk-ibuk. Maaf ya... saya tadi lagi keburu-buru banget, kebelet pup, " ucap Vero berbasa-basi.


Diva pun ikut tersenyum nyengir seraya berpura-pura memegangi perut buncit nya.


"Minta maaf tuh sama istrinya, bukan sama kita-kita, "


"Iya, Buk, iya... maafin aku ya, istriku, " ucap Vero dengan senyum yang dipaksa dan tawa yang ditahan.


Begitu keduanya tidak lagi terlihat oleh sekelompok ibu-ibu tadi, Vero dan Diva langsung tertawa terbahak-bahak menertawakan diri mereka sendiri yang begitu ceroboh.


🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2