Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Urgent


__ADS_3

Beno membisikkan suatu informasi kepada Adrian yang membuat lelaki itu tersenyum misterius, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan pertanda mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh anak buahnya tersebut.


"Baiklah, segera kita atur rencana untuk penangkapan. Pasti akan seru melihat ekspresi terkejut dari mereka semua, " ucap Adrian yang turut disambut oleh seringai Beno.


Beno pun segera memberikan kode kepada para anak buahnya untuk melaksanakan perintah dari tuan mereka. Para anak buahnya menangkap kode tersebut da mengangguk, kini satu persatu dari para bodyguard itu mulai berbaris memanjang dengan pergerakan pelan dan tanpa suara agar tak ada yang menyadarinya.


Namun Aditya yang saat ini masih berada di dalam pelukan mami Shinta mulai merasa ada yang aneh, karena ia menangkap kode mata dan jari yang ditunjukkan oleh Beno pada para anak buahnya itu.


"Jangan-jangan tadi tuh kunyuk satu liat lagi, ada Kavita pas di ruangan bayi tadi, dan dia udah kasih tau mengenai infromasi tersebut sama Bang Adrian?" pikirnya.


"Wah... nggak bisa dibiarin nih, gue nggak akan pernah ngebiarin Bang Adrian buat ketemu sama Kavita apalagi anaknya. Karena gue yakin, Kavita pun pasti nggak akan pernah sudi buat ketemu sama dia lagi. Tapi gimana caranya ya buat gue bisa bikin mereka nggak ketemu sama Si Vita, " gumam Aditya dalam hatinya.


Ia terus berfikir bagaimana caranya agar dapat membantu Vita supaya tidak sampai bertemu apalagi dibawa oleh Adrian untuk kembali pada kakaknya tersebut. Karena sungguh dirinya sendiri pun tak akan pernah rela jika sampai hal tersebut terjadi.


Dan jika ia terpaksa memilih hingga harus kembali mengorbankan perasaan nya kembali, ia lebih memilih jika Kavita akan lebih baik bersama dengan dokter Valdi saja yang sudah terlihat dengan jelas jika lelaki itu sangat menyayangi Kavita dan anaknya, bahkan lelaki itu terlihat begitu memuja Kavita seperti dirinya yang hanya mampu mengagumi Kavita dalam diam.

__ADS_1


Bukan seperti kakaknya, Adrian, yang ia nilai hanya ingin mendapatkan Kavita demi kesempurnaan kehidupan rumah tangganya saja tanpa memperdulikan bagaimana perasaan dari Kavita sendiri.


"Ah iya, tadi juga ada Si Vero sama Diva 'kan di ruangan itu? Ya ... berarti gue bisa minta tolong dan ngomong ke si Diva. Semoga aja dia cepet tanggap dan bisa menyelamatkan Vita sama anaknya dengan cepat sebelum anak buah Bang Adrian duluan yang sampai disana, " gumam Aditya merasa mendapatkan jalan yang terbaik.


Lelaki itu mengajak mami Shinta ke dalam ruangan rawat nya, lalu ia pamit ke kamar mandi agar sang bunda tidak merasa curiga. Karena jika ia pamit ingin pergi lagi, ia yakin jika ibunya tidak akan mengizinkannya.


Aditya merogoh ponselnya yang ada di dalam kantung saku celananya dengan kesulitan, karena dirinya yang juga masih harus memegangi kedua kruk yang terselip di antara kedua lengan dan ketiaknya itu untuk menopang tubuhnya.


"Angkat dong, Div! Please ... urgent nih! " gumamnya sendiri yang sudah merasa tak sabar menunggu jawaban dari seberang sana.


"Aduh, si Diva malah ngapain sih ini? Ditelfon nggak nyahut-nyahut. Mana udah makin mepet lagi waktunya, keburu tuh para manusia haus uang bertindak, " cemas Aditya.


"Apa biar dibantu sama papi atau Bang Adrian kalau kamu kesulitan, Nak, " ucap mami Shinta lagi memberikan penawaran pada Aditya karena belum juga mendapatkan jawaban dari anak bungsunya tersebut.


Adrian mendelik mendengar ucapan mami nya yang seakan mengorbankan dirinya untuk membantu sang adik dalam urusan kamar mandi. Karena meskipun mereka sama-sama pria, tetapi ia tetap saja merasa risih jika harus berada dalam satu kamar mandi dengan seorang lelaki.

__ADS_1


Tidak tau ya kalau sama perempuan, apalagi jika perempuan itu adalah Kavita, mungkin itulah imajinasinya yang tersembunyi.


"Kok Adrian sih, Mi? " protesnya kemudian.


Berbeda dengan Adrian yang langsung mendelik dan protes, papi Wijaya justru lebih santai dalam menanggapi nya. Pria paruh baya itu hanya mengangkat kedua alisnya kemudian mengangguk pelan.


"Papi nggak masalah kalau Aditya mau, toh dulu yang gantiin popok kalian juga Papi kok, " ucapnya yang membuat Adrian melengos malu.


Ya begitu lah Adrian yang belum pernah tau rasanya menyeboki bayi yang abis pup, kayak Bang Valdi itu.


"Bentar, Mih... Adit mules banget nih, " jawab Aditya pura-pura mulas.


"Tuh 'kan, Mih... Adit itu cuma mules doang, nggak bakal pingsan juga dia di kamar mandi kok," ucap Adrian yang merasa aman.


"Diem kamu! Bilang aja kamu nggak mau bantuin adik kamu, Mami tuh khawatir banget sama Adit, jangan sampai dia kenapa-napa lagi, "

__ADS_1


Aditya masih terus berusaha menelpon nomor Diva, dengan tangan yang juga mengetik pesan dna mengirimkannya ke nomor gadis itu.


"Diva! Urgent! Ada Bang Adrian di rumah sakit ini. Tolong kamu amankan Kavita dan anaknya juga dari rumah sakit ini, sekarang juga! " isi pesan dari Aditya ke nomor ponsel Diva yang bahkan tak tau ponsel Diva ada dimana, yang jelas saat ini ponsel tersebut sedang tidak ada di tangan tuannya.


__ADS_2