Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Kondisi Kavita dan Sang Buah Hati


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit yang ada di salah satu kota di Indonesia. Ada seorang perempuan yang sedang duduk termenung di depan kotak kaca inkubator.


Kavita...


Ya, sosok itu adalah Kavita Saputri Indrawan. Wanita yang tengah berusaha menata hati demi kesembuhan dirinya dan sang buah hati yang saat ini juga sedang berjuang di dalam kotak kaca itu. Berjuang antara hidup dan mati setelah kejadian apa yang menimpanya saat masih ada di dalam kandungan sang bunda.


Kavita menatap sesosok makhluk mungil yang masih ada di dalam box inkubator untuk menjalani perawatan. Karena bayi itu terlahir secara prematur dan hanya memiliki berat badan sekitar 1,3 kg saja saat lahir. Sangat kecil. Jadi waktu dua bulan menjalani perawatan belumlah cukup untuk bisa membuat bayi itu memiliki berat badan yang normal. Meski kini bayi berjenis kelamin laki-laki itu sudah berbobot 2,1 kg, tapi dokter masih menunggu hingga bayi itu setidaknya memiliki berat badan sekitar 2,5kg dan kondisi fisiknya sudah tak lemah lagi.


Apalagi kondisi sang bunda yang juga tak bisa langsung menyusuinya setelah bayi itu lahir karena Kavita mengalami koma pasca operasi caesar guna melahirkan sang jabang bayi ke dunia. Maka dari itu, si bayi yang hanya diberi asupan susu formula melalui selang kecil yang langsung terhubung pada tenggorokannya itu sedikit lebih lambat untuk berkembang, tidak seperti jika diberi ASI secara langsung yang akan menunjang pertumbuhannya lebih cepat.


Tangan Kavita meraba kaca berbentuk kotak yang di dalamnya terdapat sosok bayi yang sangat ia kasihi itu. Air matanya mengalir tanpa diminta, meski wajahnya tampak datar tapi sebenarnya hatinya menyimpan banyak luka yang menganga dan siap bernanah kapan saja.


Wanita yang masih duduk diatas kursi roda itu hanya mampu menatap sosok itu setiap hari begitu ia tersadar dari komanya satu minggu yang lalu. Dalam hatinya ia sangat ingin menggendong dan menimang bayi yang ternyata adalah darah daging nya tersebut.


"Anakku... hiks.. " hanya kata itu yang sering terucap dari bibirnya, disertai dengan tangis yang amat pilu.


"Haii.. " sapa seseorang pada Kavita dengan nada ceria.


"Hey! Don't cry my beautifull Queen... " lanjutnya lagi setelah melihat air mata yang mengalir di wajah wanita yang kini tampak kurus tak terurus itu.


Kavita yang masih menangis tak menggubris perkataan sosok yang memang setiap harinya selalu ada dimanapun ia berada tersebut. Ia masih fokus memandangi bayi mungil yang seluruh tubuhnya terpasang selang, bahkan bayi itu belum pernah terdengar tangisnya selama Kavita menungguinya.


"Queen.. Mari kita makan siang, habis itu bocan alias bobo cantik, biar pas bangun nanti tetap fresh untuk menemani our little angle begadang nanti malam, gimana? " tawar orang tersebut merayu.


"Bohong! " tandas Vita seraya mengusap air matanya.


"Loh.. kok bohong sih? "


"Udah satu minggu aku nungguin dia disini, tapi belum pernah sekalipun aku melihatnya membuka mata, apalagi sampai menangis dan begadang seperti apa yang kamu bilang itu, " protes Vita.


Cegluk. Orang itu menelan ludahnya susah payah.


"Yah.. ketahuan dah.. bikin drama apa lagi nih, biar si Queen gak jadi ngambeg, "


"Aku serius, Queen. Our baby ini memang sering begadang kalau malam, ntar coba aku video deh kalau pas dia bangun dan begadang, terus aku bakal kasih video itu ke kamu, gimana? " tawarnya lagi.


"Nggak mau. Aku mau nungguin sampai dia bangun, " tolak Kavita tegas.


"Tidak bisa begitu, Queen. Soalnya kamu juga masih dalam masa pemulihan pasca koma kamu, jadi kamu belum boleh terlalu lelah, apalgi sampai kurang istirahat. Itu sangat tidak dianjurkan oleh semua dokter, " tuturnya.

__ADS_1


Lalu tanpa menunggu izin Kavita, lelaki itu mengambil tubuh Kavita dan menggendongnya ala bridal.


"Kyaaakk... Valdi...! turunin aku gak!? " seru Kavita berusaha memberontak.


Ya, lelaki itu adalah Valdi, sosok yang selalu ada untuk Kavita selama wanita itu menjalani perawatan di rumah sakit, dari mulai Kavita menjalani operasi Caesar saat melahirkan, bahkan sampai saat ini. Tapi masih ada satu hal yang masih lelaki itu sembunyikan dari Vita tentang anaknya.


"Nggak akan! Kalau aku turunin ntar kamu nggak mau istirahat, ngeyel sih di bilangin, " Valdi menggendong Kavita menuju ruang perawatan wanita itu berada.


Kavita cemberut dengan kedua tangan yang terus memukul-mukul dada Valdi, tapi badan Valdi yang tetap dan berotot tentu saja tidak terpengaruh sama sekali oleh pukulan kecil dari Kavita.


"Kamu jahat Valdi! Kamu mau pisahin aku sma anak aku, " seru Kavita dengan suara lebih keras sehingga beberapa orang yang ada disana menoleh kearah mereka.


"Jangan mulai ngedrama ya, Queen. Ntar dikira aku mau culik kamu dan memang benar-benar mau misahin kamu dari little angle lagi, " ucap Valdi yang mulai terbiasa dengan sikap Kavita yang kadang menjadi drama queen.


Vita mencebik, "emang bener 'kan! Kamu pisahin aku dari anak aku, buktinya sekarang kamu malah mau bawa aku pergi jauh dari dia, "


"Heddeeh... terserah lah Queen mau ngomong apa, kalau sampai aku beneran dikira penculik terus digebukin juga nggak papa, aku rela asal kamu mau makan tersebut istirahat, itu aja udah cukup buat apa kk u untuk saat ini, " perkataan Valdi tersebut mampu membuat Kavita terdiam.


"Sungguh terlalu baik hatimu, Di. Kenapa kamu yang bukan siapa-siapaku sampai rela berkorban demi aku yang bahkan gak diperduliin sama suami aku sendiri, " gumamku Vita dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca menatap wajah Valdi.


Valdi yang berjalan dengan terus menatap ke depan sebenarnya merasa kalau Kavita saat ini sedang memandangi wajahnya, namun ia mencoba tak bertanya agar Kavita tak merasa malu karena terpergok sedang menatapnya.


"Ehm. Aku tau kok kalau aku ini ganteng, tapi apa iya kalau kamu sampe harus ngeces kayak gitu karena terus ngelihatin aku? " tegur Valdi pada Vita yang sebenarnya hanya bergurau.


Kavita merasa gelagapan setelah mendengar perkataan Valdi tersebut. Wanita itu juga langsung mengusap seluruh arwana bibirnya untuk mengusap bekas air liur yang menetes seperti kata Valdi tadi.


Hal tersebut sontak membuat Valdi terbahak, "hahaha... kamu lucu banget sih, Queen. Nggak mungkinlah gadis secantik kamu ileran, ada-ada aja. Gitu aja percaya, "


Kavita melotot, " Valdi...! lo benar-benar ngeselin banget ya. Bisa-bisa nya lo ngerjain gue lagi, " seru Kavita marah.


"Sory.. sory, Queen.. aku cuma bercanda doang kok, " ucap Valdi sembari menurunkan Kavita dari gendongannya lalu berjongkok di depan Kavita yang sudah ia dudukkan di ranjang.


Kavita mendengus, dan memalingkan wajahnya tanpa menjawab, "huh! "


Lelaki itu berdiri, dan langsung kembali memasangkan jarum infus pada tangan kanan Kavita, meski wanita itu menolaknya tapi Valdi selalu punya cara untuk membujuknya.


"Kenapa sih jarum infusnya harus dilepas kalau cuma mau ke ruang intensif bayi aja? " tanya Valdi sedikit kesal, karena Kavita mulai sering tak menuruti perkataan nya. Terutama jika masalah infus, makan, istirahat, dan kurangi menangis. Karena hal itu akan membuat dirinya lebih lama lagi untuk pulih.


"Aku nggak nyaman, lagian aku juga udah sembuh kok, nggak perlu di infus lagi, "

__ADS_1


"Oh ya? Apa kamu bersedia memakan sepiring nasi merah, setengah ekor ayam kampung, dua butir telur ayam kampung, tiga potong daging merah, semangkuk kacang-kacangan, beberapa potong buah-buahan dan banyak sayuran dalam sekali makan? " tanya Valdi dalam satu kali tarikan nafas.


Kavita melipat bibirnya kedalam, membayangkan makanan sebanyak itu saja sudah membuatnya kenyang dan bahkan ingin muntah, bagaimana bisa ia memakannya dalam satu kali makan? fikirnya.


Kavita menggeleng membuat Valdi menghela nafas, "nah, itulah asupan gizi dan makanan yang tubuh kamu butuh kan saat ini untuk pemulihan. Apalagi kamu sendiri bilang kalau ingin menyusui bayimu, 'kan? " Valdi tak lagi menyebut anak Vita dengan sebutan little angle, itu adalah bukti jika lelaki itu sedang dalam mode serius yang setengah marah dan tak bisa dibantah.


Kali ini Kavita mengangguk, tapi masih tak bersuara. Agak takut juga dia kalau Valdi sedang marah seperti itu.


"Makanya, nurut! " ucap Valdi tegas, dokter muda itupun langsung menghubungi suster untuk membawakan makanan untuk Kavita.


"Iya.. iya.. gitu aja harus pakek acara marah segala sih, aku kan takut, " jawab Vita dalam hatinya, pada kenyataannya, ibu muda itu hanya mengangguk mengiyakan perkataan Valdi.


"Lucu juga kamu kalau nurut kayak gitu, jadi gemes 'kan akunya. Tapi kenapa musti aku harus pura-pura marah dulu sih, biar kamu mau nurut sama omongan aku, " gumamku Valdi dalam hati, bibirnya tersenyum sangat tipis melihat bibir Vita yang mengerucut.


"Nggak usah cemberut! Ntar aku cium, baru tau rasa! " ujar Valdi.


Kavita mendongak dan melihat wajah Valdi yang sudah menampilkan senyum jahil lagi padanya, ia pun tersenyum dan menepuk pelan tangan Valdi yang tengah memasang alat pengukur tensi darah di lengannya.


"Kamu ngerjain aku ya, " cicitnya takut-takut kalau salah bicara lagi.


"Enggak. Nih, tekanan darah kamu aja rendah banget, tapi kamu ngeyel nya minta ampun, " Valdi menatap jarum pada alat tensi itu yang menunjukkan angka 90/70.


"Permisi, Dok. Ini makan siang yang dokter minta untuk pasien bernama Ibu Kavita, " seorang suster masuk dengan mendorong troli makanan untuk Vita.


Vita mengerutkan keningnya mendengar panggilan suster tersebut.


"Ibu Kavita? "


"Memang mau dipanggil apa kalau udah jadi ibu-ibu? Adek? " tanya Valdi yang sudah mengambil piring dan bersiap menyuapi wanita di depannya itu.


"Ehm.. " suara deheman orang membuat kedua orang itu menoleh.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Semangat move on, KavitaπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Dukung Kavita terus yuk buat sembuhin hatinya dari luka yang ditorehkan sama Adrian.


Biar dia cepat move on dan memilih salah satu dari beberapa cogan yang datang menghampiri nya 😍

__ADS_1


__ADS_2