Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Aditya


__ADS_3

Adrian yang pikirannya juga sedang kalut karena masalah yang memenuhi otaknya, menjadi turut tersulut emosi sebab secara tiba-tiba mendapatkan serangan dadakan dari adiknya, ia ingin membalas Aditya. Namun disaat yang bersamaan muncullah papi dan mami Wijaya yang entah baru dari mana saja mereka datangnya.


"Adrian! Apa yang mau kamu lakukan? Dia ini adikmu! " bentak papi Wijaya menghentikan gerakan tangan Adrian.


"Adik kurang aja dia, Pih, " tunjuk Adrian pada Aditya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi rahangnya yang terasa kebas.


"Tapi tetap tidak seperti ini caranya!"


Mami Shinta mendekati Aditya, ia memegangi pundak anak bungsunya yang masih naik turun itu, "Ada apa, Dit?"


"Gara-gara dia, semua orang jadi benci sama Adit, Pi!" teriak Aditya.


"Apa maksud kamu? " tanya papi Wijaya.


Adit tertawa miris, "kenapa harus Bang Adrian yang dulu Papi jodohin sama Kavita, Pih? Kenapa? " teriaknya.


"Kenapa harus Bang Adrian? Laki-laki yang nggak becus menjaga wanita, apalagi wanita itu Kavita. Kavita, Pih... " tanya Aditya lagi, kali ini


Papi Wijaya kaget, ia tak percaya kalau Aditya akan menanyakan hal yang sudah berlalu lumayan lama.


,"It, itu... soalnya kamu kan, "


Plak


Suara tamparan di pipi Adrian terdengar keras, papi Wijaya reflek melakukan hal itu terhadap putranya itu karena hampir saja membocorkan rahasia besar Aditya yang belum waktunya terungkap. Kedua matanya melotot, menatap tajam Adrian yang jengkel karena sudah mendapatkan pukulan dari adiknya, ditambah pula tamparan dari ayahnya, lengkap sudah deritanya.


"Papi apa-apaan sih? " teriak Adrian tak terima atas tamparan yang ia dapatkan dari sang ayah. Tangannya masih setia memegangi pipi kirinya yang terasa panas.


"Hentikan! Kalian berdua benar-benar membuat Papi stress," bentak papi Wijaya kepada kedua putranya yang kekanak-kanakan.


Aditya masih mengatur nafasnya yang memburu, sementara sakit di kakinya seakan tak terasa lagi saking emosi yang menguasai dirinya. Padahal kini perban coklat yang membalut kakinya mulai terlepas dari tempatnya, sebab Adit yang terlalu memaksakan diri untuk menggunakan kakinya yang belum pulih itu untuk berjalan menaiki tangga.


"Adiit... ! Kamu kenapa nekat sih, Nak, kruk nya nggak di pakek, mana langsung naik kesini manual pula nggak pake lift. nanti kalau terjadi apa-apa sama kaki kamu lagi gkmana?" teriak mami Shinta yang berlari menghampiri tiga orang lelakinya itu sembari menyerahkan tongkat kruk milik Aditya.


Aditya mengabaikan teriakan ibunya, dadanya naik turun tanda emosinya belum stabil.


"Aaarrggh... " Aditya mengusap rambutnya kasar, ia merasa marah pada dirinya sendiri dan pada semua keadaan yang tak berpihak kepadanya.


Merasa tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Aditya pun menyeret kakinya meninggalkan ruangan Adrian. Rasa kesal bercampur kecewa masih berkecamuk di dada. Namun apa daya, ia pun tak bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi. Entah bagaimana lagi nanti ia akan menjalani hidup percintaannya ke depannya, apakah akan menyerah terhadap Kavita, ataukah terus membulatkan tekad dan berusaha.


"Dit... " teriak mami Shinta, ia masih berusaha mengejar putra bungsunya.

__ADS_1


Perasaannya sebagai ibu ikut merasa hancur melihat sang putra seperti itu. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, selain mencoba untuk membujuk Aditya dan mengobati lukanya. Paling tidak luka fisiknya, jika luka hati pasti akan sulit untuk menyembuhkannya.


Sepeninggal Aditya dan mani Shinta, papi Wijaya menoleh pada Adrian dengan tatapan nyalang seakan ingin menelan bulat-bulat putra pertamanya tersebut.


"Kamu...! " papi Wijaya mengangkat tangan, telunjuknya tepat di depan wajah Adrian.


Adrian yang ditatap sedemikian rupa pun hanya bisa menelan ludahnya kasar, ia merasa akan kembali mendapatkan amukan dari sang ayah.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya, tidak bisa menjaga rahasia! " suara rendah papi Wijaya dengan dengan penuh penekanan cukup membuat Adrian bungkam.


Karena rasa emosi dan pikirannya yang kalut membuatnya hampir saja membongkar rahasia besar ayahnya.


Papi Wijaya berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan rasa kecewa di dada.


"Ma-maaf, Pi. Ak nggak se-" Adrian ingin melangkah mengikuti ayahnya, namun terhenti karena pakai Wijaya mengibaskan tangan acuh tanpa berhenti apalagi berbalik.


Aditya menutup pintu kamarnya dengan kasar tepat saat mami Shinta sampai di depan kamarnya itu. Lelaki itu mengurung dirinya disana. Sedikit meringis karena rasa ngilu yang mendera kakinya, tapi tak ia hiraukan.


Mami Shinta masih terus mondar-mandir di depan kamar Aditya seraya memegang kruk putra bungsunya itu. Papi Wijaya yang melihatnya pun mendekat.


"Gimana? "


"Adit nggak mau dengerin Mami, Pi, " adu mami Shinta pada suaminya.


"Tapi gimana dengan kakinya, Pi? Mami nggak mau sampai kakinya kenapa-kenapa, Aditya masih muda, masa depannya masih panjang. Impiannya besar, "


"Tenanglah, Mi... Papi akan mencari cara untuk membujuknya, "


"Lagipula benar kata Aditya, selain karena alasan Aditya malah muda, kenapa Papi dulu nggak nikahin Aditya aja sama Kavita. Mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini, kita nggak akan kehilangan berlian seperti Kavita, " protes mami Shinta sebab teringat oleh kemarahan Aditya tadi disebabkan oleh hal itu.


"Mana mungkin Papi bisa seenaknya jodohin anak orang besar, Mi. Bisa-bisa Papi digantungnya nanti, " jawaban itu hanya bisa terucap di dalam hati papi Wijaya.


Melihat suaminya hanya terdiam, mami Shinta kembali berucap, "kalau hanya soal usianya masih muda, Mami rasa nggak masalah, malah menurut Mami pemikiran Aditya lebih dewasa ketimbang Adrian yang tempramental itu, " wanita itu kembali mengeluarkan unek-uneknya.


"Anak Aditya kan sama juga cucu kita, garis keturunan Wijaya. Jadi kita nggak perlu menunggu lama lagi untuk mendapatkan keturunan selanjutnya, " sambung mami Shinta.


"Itu beda, Mih, " ucap papi Wijaya lirih.


Mami Shinta mengerutkan keningnya, "beda gimana maksud Papi? "


"Eh, it-itu... "

__ADS_1


...****************...


Hallo teman-teman semua...


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan-Nya, Amiin.


Disini Othor mau minta masukan nih sama pembaca soal rencana yang insyaallah mau bikin karya baru habis ini.


Kalian suka genre yang rumah tangga seperti ini lagi, romansa komedi, atau horor, atau malah fantasi yang konyol?


Othor ada beberapa judul nih, kalian bisa pilih dan komen di kolom komentar ya, pliss...🙏




Dibawah Ancaman Cintaku Bertahan (RumTang benci jadi cinta)




Korban Kepolosan Suamiku, (misteri, balas dendam)




Makhluk Tak Kasat Mata (Petualangan Horor Gembel&Katrok)




Perjaka Tua & Janda Muda (Romansa)




Mendadak Dinikahi Ustadz Tampan

__ADS_1




__ADS_2