Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Adrian Terpuruk, Aditya Berjuang


__ADS_3

"Aku nggak terima!"


Adrian mengamuk di rumahnya. Ia tetap saja masih belum bisa menerima kenyataan jika Kavita benar-benar telah pergi darinya, melihat dari betapa dulu wanita itu memujanya membuat dirinya merasa terhina jika kini wanita itu menggugat nya dan meninggalkannya dalam keterpurukan.


"Kavita nggak boleh bahagia tanpa aku!" gumamnya geram.


Entah apalagi yang akan dilakukannya kali ini.


Ponselnya berdering pertanda jika ada pesan masuk disana. Matanya melotot kala melihat sebuah foto yang terlihat familiar bagi dirinya.


"Foto kapan ini? " jari telunjuk beserta ibu jarinya memperbesar layar ponsel, di ujung bawah sana terlihat tanggal pengambilan foto jika baru saja tadi foto tersebut diambil.


"Ini nggak mungkin! Bagaimana bisa?!" serunya tak percaya.


Tangannya dengan cepat mencari nomor seseorang, lalu menelpon nomor tersebut.


"Periksa tempat yang aku kirimkan lewat pesan, aku tunggu kabarmu secepatnya! " ucapnya langsung, dan tanpa menunggu orang itu menjawa perkataannya, ia sudah mematikan sambungan teleponnya.


Adrian menggenggam ponselnya erat hingga terlihat tangannya memutih.


"Jika sampai semua ini benar, aku tidak akan pernah memafkan keduanya. Aku akan melakukan hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Berani sekali mereka mempermainkan kan seorang Adrian Saputra Wijaya, " pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke depan.


Rasa sakit hati yang mendominasi akibat baru saja dicampakkan oleh Kavita, kini harus bertambah dengan berita yang menambah gemuruh di dadanya.


"Arrrggghhh... " Adrian menyapu seluruh benda yang ada di mejanya hingga bertebaran ke seluruh ruangan.


"Brengs-k kalian semuaa...! " Teriaknya lagi.


Jika yang mendengar pasti merek akan mengira jika Adrian saat ini tengah depresi atau malah sudah sakit jiwa, karena tak ada yang lain yang keluar dari mulutnya selain teriakan serta umpatan kasar.

__ADS_1


"Aku akan memberi pelajaran kepada kalian!" ucapnya, "dan untuk Kavita, tunggu saja... aku akan segera mendapatkanmu kembali! "


Sementara itu berbeda dengan Adrian yang sejak tadi mengamuk. Di kamar Aditya, tampak lelaki berwajah putih bak idol dari negeri ginseng itu sedang mematut wajahnya di cermin dengan senyum sumringah dan semangat membara. Bahkan ia sampai nekat memaksakan diri untuk berdiri tanpa menggunakan kruk meski kakinya masih terasa sakit.


"Hadeeh... masak iya udah cakep-cakep gini jalannya masih pakek kruk sih. Gimana ntar kalo mau ngegandeng tangan Kavita coba, " gumamnya dengan melihat dirinya sendiri dari atas ke bawah berulang kali.


"Ayo dong kaki.. buruan sembuh dong, biar gue bisa leluasa berjalan sama lari-lari lagi buat mencapai gadis impian gue, " Aditya terduduk, tangannya memijat-mijat pelan kakinya yang masih terbalut kain berwarna pink kecoklatan itu.


"Meskipun masih kayak gini, tapi gue nggak boleh nyerah lah. Gue tetap harus mulai berjuang dari saat ini juga, jangan sampai gue keduluan sama tuh dokter sok kecakepan, "


Aditya teringat pada Valdi yang juga terlihat begitu memuja Kavita, serta tampak menginginkan Kavita seperti dirinya. Menginginkan untuk jDi oendmaoing hidupnya, merajut kasih dalam mahligai rumah tangga yang indah nan bahagia.


Sayangnya saat ini ia hanya bisa menghayal saja.


"Let's Go! Semabgat berjuang, Aditya! " lelaki muda itu mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk memberikan semangat kepada dirinya sendiri.


Aditya keluar dari kamar, saat melirik ke lantai atas, ia mendapati ibunya yang tengah mondar-mandir di depan pintu kamar Adrian.


"Kakakmu loh, dari kemarin mengurung diri terus di dalam kamar nggak keluar-keluar. Terus tadi Mami juga dengar suara benda-benda jatuh dari ruang kerjanya. Tapi entah kenapa perasaan Mami nggak enak. Apa kakak kamu sakit , atau gimana, " balas mami Shinta.


"Mami nggak usah khawatir deh! Bang Adrian pasti baik-baik aja di dalam sana. Dia kan bukan anak kecil lagi," ucap Aditya cuek.


"Tapi, Dit... "


"Adit pamit mau pergi dulu, Mi, " Aditya mengulurkan tangan untuk menyalami mami Shinta sebelum pergi.


Mami Shinta mengernyit heran melihat penampilan rapi putra bungsu nya tersebut, ditambah dengan bau parfum Aditya yang berlebihan wanginya menurutnya.


"Memangnya kamu mau kemana, kok rapi banget gitu?" tanyanya.

__ADS_1


"Sepertinya sekarang juga bukan jadwal kontrol deh, " lanjutnya lagi setelah mengingat-ingat.


Aditya menyembunyikan kegugupan nya di hadapan sang bunda, "ada deh, Mi, urusan anak muda," jawabnya tak mau berbohong, tak juga ingin bercerita jujur.


Mami Shinta menghela nafas, "yaudah, tapi diantar supir sama bawa bodyguard loh. Mami nggak mau kamu sampe kenapa-napa lagi. Baru juga mau pulih, udah mau kluyuran lagi aja kamu, " omel mami Shinta, namun tetap tak bisa melarang Aditya.


Sebab jika lelaki itu sudah berkeinginan, ia tak akan bisa mencegahnya. Ia malah takut kalau nantinya Aditya akan nekat pergi sendiri diam-diam kalo dirinya tak mengizinkan anaknya itu.


"Iya-iya, Mami nggak usah khawatir.. Adit bisa jaga diri kok, "


"Bisa jaga diri apa? Buktinya aja kaki kamu patah begitu, dan kamu juga hampir bikin Mami mati jantungan karena kabar kecelakaan kamu yang diduga udah tewas di jurang. Kayak gitu kamu bilang bisa jaga diri?! " nada bicara mami Shinta sudah naik tiga oktaf dari sebelumnya mendengar ucapan sepele Aditya.


Aditya sampai menutup telinganya saking kencangnya omelan mami Shinta.


"Yaudah iya-iya, Aditya di anterin supir sama bawa bodyguard, meskipun nggak kuat bawanya, " jawab Aditya terpaksa. Daripada berlama-lama malah hanya akan membuat mami nya tak akan berhenti mengomel sampai nanti.


"Adit ... !" seru Mami Shinta dengan mata mendelik, merasa geram dengan bocah itu.


"Adit pamit, Mih. Bye Mamiku tersayang, Mamiku tercinta... " Adit melayangkan beberapa ciuman di wajah Mami Shinta, sebelum memaksakan diri berlari dengan kedua tongkat kruk yang menyangga tubuhnya.


Mami Shinta hanya bisa menghela nafas berulang kali sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Aditya. Heran juga dia, kenapa kedua putranya sama-sama ngeyel. Jika sudah berkeingin maka tidak bisa dilarang ataupun di halang-halangi.


"Kenapa lagi, Mi?" Papi Wijaya lewat dengan koran di tangannya, ia berhenti saat melihat istrinya terdiam mematung di ujung tangga.


"Auk ah, Pi. Pusing kepala Mami ngerasain anak-anak Papi yang ngeyelan semua itu, " Mami Shinta memijat pelipisnya seraya berjalan ke arah sofa.


Dahi papi Wijaya mengerut, "Kenapa lagi mereka? " lelaki bertubuh agak gempal itu mengikuti istrinya di belakang.


"Adrian kembali ngamuk di ruang kerjanya. Aditya pamit pergi entah kemana nggak mah ngaku dia, "

__ADS_1


"Kalau Adrian biarkan saja dia merenungi nasibnya dan segala kelakuannya yang tak tau diri itu. Tetapi Aditya, dia seharusnya masih banyak beristirahat supaya kakinya cepat pulih sepenuhnya seperti sedia kala, " komentar papi Wijaya.


"Sebab aku tak mau mengecewakan ayahnya yang sudah begitu mempercayaiku. Jangan sampai Adit menjadi cacat gara-gara ceroboh dan aku terlalu sibuk mengurus lain-lainnya," lanjutnya bergumam dalam hati.


__ADS_2