Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Adrian VS Valdi


__ADS_3

Kemarahan Adrian semakin menjadi, mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir dokter Valdi. Meskipun sang ayah terus berusaha mencegahnya, namun yang namanya Adrian si manusia angkuh tetaplah Adrian yang emosional dan sangat mudah tersulut amarah. Sementara Valdi semakin senang karena tujuannya membuat Adrian mengamuk terwujud. Lelaki itu memang sengaja memancing emosi Adrian sejak tadi.


"Bagus... teruslah seperti itu, laki-laki sombong dan pemarah. Tunjukkan sifat aslimu kepada dunia, supaya semuanya tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Yang jelas lebih buruk dari apa yang semua orang tau selama ini, " batin Valdi yang tersenyum tipis penuh arti.


"Ayo kita pergi dari sini sekarang juga, Adrian! Jangan sampai polisi akan benar-benar menangkap kamu nantinya. Bisa hancur reputasi keluarga kita. " Ajak papi Wijaya dengan suara berbisik tapi tegas. Tangannya menarik-narik lengan Adrian.


"Enggak, Pi! Mereka yang salah, harusnya mereka yang di tangkap pihak kepolisian, bukannya malah kita!" elak Adrian. Ia tetap kekeh untuk tak mau beranjak dari sana.


"Kamu benar-benar keras kepala! Kalau sampai terjadi apa-apa, Papi nggak akan mau lagi ikut campur, " ancam papi Wijaya.


"Terserah! " Adrian yang sudah gelap mata sebab tertutup emosi, tak perduli lagi dengan apapun yang dikatakan oleh banyak orang, bahkan ayahnya sendiri sekalipun.


"Adrian! Dengerin papi kamu! " mami Shinta ikut marah melihat Adrian yang berkepala batu.


Papa Indrawan tersenyum miris melihat besan dan menantunya yang tampak seperti orang terhormat jika di luar sana, namun nyatanya tak lebih dari seorang pengecut. Apalagi Adrian yang sangat terlihat jika dirinya adalah pecundang br*ngsek, yang hanya mengutamakan emosinya dibandingkan dengan akal sehatnya.


"Ternyata hanya lelaki seperti ini yang selama ini aku bangga-banggakan, benar-benar tak layak untuk menjadi pendamping hidup anak perempuanku yang baik hati dan pengertian. Kavita... maafin Papa, Nak. Karena selama ini Papa hanya dibutakan oleh persahabatan yang Papa kira tulus, ternyata Wijaya memanglah tak sebaik yang Papa kira selama ini, " ratap Papa Indrawan di dalam hati. Tatapan matanya tak lepas dari sang sahabat dan anaknya yang masih tampak bersitegang sejak tadi, tak ada yang mau mengalah pada ego mereka masing-masing.


"Itulah pilihanmu dulu, Pa. Yang kamu kira pria sempurna, ternyata hanyalah sampah yang tak berguna. Bahkan mereka dengan teganya hanya memanfaatkan Kavita saja selama ini, " ucap mama Indri pelan di dekat telinga suaminya.


Papa Indrawan menunduk, "Iya, Ma. Papa menyesal karena hanya menilai orang dari apa yang terlihat di luarnya saja, mulai sekarang Papa akan membebaskan anak-anak Papa untuk menentukan apa yang menjadi pilihan mereka sendiri,"

__ADS_1


"Tapi... maksud Mama dengan mengatakan mereka hanya memanfaatkan Kavita saja itu apa?" tanya papa Indrawan kemudian dengan kening mengernyit heran.


Mama Indri menatap lurus ke depan, "Nanti juga Papa akan tau sendiri, "


Meski ada banyak tanda tanya dan rasa heran yang membayang di benaknya, namun Papa Indrawan urung untuk bertanya lagi sebab di depannya sudah mulai ada keributan yang disebabkan oleh kedua besan dan juga menantunya.


"Papi... jaga Adrian dong. Jangan sampai malu-maluin keluarga kita di depan semua keluarga Kavita ini, bisa habis harga diri kita nan-tinya... " belum lagi mami Shinta selesai berucap, Adrian sudah kembali berteriak histeris, bahkan lelaki itu sekarang sedang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


"Kavita...! Kavita...!! Keluar kamu...!!!" teriak Adrian lagi seraya berontak dari cekalan para anak buahnya yang diperintahkan oleh papi Wijaya.


Wajah lelaki itu tampak memerah dengan mata melotot dan urat-urat yang menonjol sebab sakingnya mencoba memberontak dengan sekuat tenaga.


Papa Indrawan menggeleng-geleng melihat kelakuan Adrian yang seperti itu, begitu mudah emosi dan sulit mengendalikan diri. Bahkan lelaki itu sekarang terlihat menakutkan, apa yang akan terjadi sampai pria itu terlepas dan mencari keberadaan Kavita di dalam rumah? Sungguh ia tak bisa membayangkannya.


"Dicaci maki sedemikian rupa pun tak membuat dokter muda itu emosi dan membalas semua ucapan yang dilontarkannya oleh Adrian. Sungguh luar biasa dokter Valdi ini, " gumam Papa Indrawan di dalam hati, kemudian disusul dengan senyum tipis yang mulai terbit di wajahnya.


"Kavita...! Kalau sampai kamu nggak mau keluar dari persembunyian kamu, aku akan membuat perhitungan kepada semua orang yang ada disini...! " teriak Adrian lagi.


Di dalam kamarnya sana, tak dapat dipungkiri rasa panik menyerang pada diri Kavita. Bagaimana tidak, kedai orangtuanya yang baru saja ia jumpai sekejap tadi, kini menjadi terancam nyawanya hanya demi dirinya.


"Gimana ini, Div? Gue harus gimana? Adrian itu sakit jiwa emang. Suka nekat dia," ucap Kavita khawatir.

__ADS_1


"Tenang... Vita! Tenang! " Nadiva yang sama khawatirnya dengan Kavita hanya bisa mencoba menenangkan sahabatnya itu.


Tapi tak lama setelah ucapan ancaman dari tadi, terdengar pula suara dokter Valdi menimpali nya.


"Tenang aja, Vita...! Dia nggak akan bisa berbuat apa-apa. Aku akan menanganinya disini, kamu tenang saja disana! " ucap Valdi seolah menimpali ancaman yang dilontarkan oleh Adrian tadi. Tak lupa senyum remeh juga tersinggung di bibirnya, hingga membuat Adrian semakin murka.


"Kurang ajar kamu, Valdi! Pasti kamu kan yang sudah mencuci otak istri saya buat dia membenci saya dan pergi meninggalkan saya? Hah?! Licik kamu! " sembur Adrian hingga memuncratkan air liurnya kemana-mana.


"Iyuh... jijik! " ucap Valdi seraya mundur satu langkah untuk menghindar agar dirinya tidak terkena muncratan lahar air liur dari Adrian.


"Untuk apa saya melakukan hal buruk seperti itu? Saya kan bukan kamu, yang pintar membuat tipu muslihat untuk menjebak seorang gadis belia yang cantik untuk dijadikan boneka, " balas Valdi kemudian dengan santai, tenang dan tetap terlihat berwibawa.


Kedua mata Adrian semakin membelalak mendengar kalimat yang diucapkan oleh Valdi.


"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu? " sentaknya.


"Saya rasa, kamu lebih faham apa yang saya bicarakan barusan, "


"Bilang saja kamu iri sama saya, karena saya bisa menikahi wanita cantik seperti Kavita kan. Dan tentunya anak kami juga tak kalah cantik dari ibunya, " ucap Adrian bermaksud untuk memancing Valdi mengatakan jika anaknya memanglah masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.


Sungguh dirinya merasa penasaran dengan kondisi dari keturunannya itu setelah apa yang terjadi padanya. Dulu, Adrian bukannya tak tau kondisi Kavita yang terjatuh saat mengejarnya yang sedang terburu-buru. Namun ia sudah tak memiliki waktu lagi untuk kembali kala itu. Ada sesuatu yang menurutnya lebih darurat saat itu.

__ADS_1


"Anak kamu yang mana? "


Kedua alis Adrian menukik tajam.


__ADS_2