Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Ingin Bertemu Cucu


__ADS_3

Tanpa menunggu lama dan persiapan yang ini itu, pasangan yang merupakan kakek serta nenek baru itupun berangkat menuju lokasi dimana anak serta cucunya berada. Dengan diantar supir dan juga beberapa bodyguard yang mengawal di belakang mobil mereka.


Perjalanan macet menyertai mereka, tapi itu sudah merupakan pemandangan yang biasa kan di ibu kota, dan saat masuk ke daerah puncak yang udaranya segar barulah perjalanan bisa lancar.


Mama Indri menghirup nafas dalam, "nah, sampai disini baru bisa bernafas lega. Daritadi sumpek, panas, macet. Kalau disini benar-benar segar udaranya seperti masih alami ya, Pa. Pantas saja anak dan, cucu kita betah tinggal di daerah sini, " ucap mama Indri yang mulai bercerita dengan ceria seperti biasanya.


Papa Indra hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.


Jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok menjadi pemandangan tersendiri bagi sepasang suami istri yang sudah tak sabar dipanggil oma dan opa baru. mereka sudah tak sabar untuk bertemu dengan cucu pertama mereka.


"Ah ... Mama udah nggak sabar banget buat ketemu dan gendong cucu kita, "


"Sabar, Ma. Tinggal dikit lagi ini, " papa Indra berusaha menenangkan istrinya, meski dirinya sendiri pun juga sudah berasa tak sabar.


Tapi disaat sedang asyik membayangkan bisa bermain dan bercanda dengan cucu mereka, mobil yang mereka kendarai berpapasan dengan rombongan Adrian dan juga mami Shinta serta papi Wijaya.


Tentu saja mama dan papa Indra mengetahuinya, apalagi dengan adanya para bodyguard Adrian, hal itu semakin membuatnya merasa penasaran dari mana besannya itu. Eh, lebih tepatnya mantan besan kali ya. Praduga buruk pun mulai memenuhi pikiran mereka. Tetapi papa Indra tetap mencoba untuk tenang agar istrinya tak merasa curiga dan nantinya akan panik sendiri.


"Darimana mereka semua? Kenapa harus ada disini juga sekarang. Semoga saja rombongan itu tidak berbalik dan mengikuti kami, " batin Papa Indra yang mulai waspada.


Namun, untuk berjaga jaga, papa Indra tetap menghubungi anak buahnya yang tersebar di sekitar sana untuk keamanan keluarga besarnya nanti.


Mobil yang dikendarai oleh supir papa Indra itu melaju dengan kecepatan sedang, dibelakang mereka dengan setia para pengawal serta tim pengamanan papa Indra mengekor, sebagiannya lagi sudah langsung menuju tempat dimana anak-anaknya berada.


Saat jalanan menanjak, papa Indra sempat menangkap bayangan melalui spion tengah mobilnya jika mobil milik besannya tadi berada di ujung jalan bawah sana yang memiliki jarak lumayan beberapa meter di belakang mobilnya.


"Sial! Rupanya dia berbalik dan mengikuti di belakang ku, kamu fikir aku bodoh dan tidak akan tau aksimu itu, mantan besan?! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti keluargaku lagi. Cukup satu kali aku tertipu olehmu. Dasar busuk! " geram papa Indra yang kembali mengingat sahabat yang kemudian menjadi besannya itu.

__ADS_1


Betapa kepercayaan seluas samudera ia berikan, tapi justru kebohongan yang ia dapatkan dari sahabatnya itu. Tidak akan pernah ada lagi kesempatan untuk orang tersebut memanfaatkan kebaikannya lagi. Cukup dahulu. Tidak akan pernah lagi untuk sekarang, besok ataupun lusa.


"Baiklah, aku tidak akan bersembunyi lagi yang hanya akan membuat kalian menganggapku sebagai pengecut. Meski aku akui selama ini aku lemah karena berhadapan dengan sahabat yang aku kira memang tulus, tapi ternyata... "


Meski begitu, papa Indra tak mau bermain kucing-kucingan yang hanya akan membuat istrinya semakin banyak bertanya yang akan membuat dirinya sendiri pusing untuk menjawabnya.


"Sekarang akan aku tunjukkan siapa Indrawan yang sesungguhnya, Indrawan yang baru saja selamat dari kematian yang di sebabkan oleh kejahatan kalian semua! Dan jelas aku lebih kuat daripada sebelumnya karena sudah pernah terlepas dari kematian, " tekad papa Indrawan.


Mobil itu tetap melaju ke tempat tujuan semula. Lagipula hanya tinggal beberapa meter lagi, tak ada waktu untuk menghindar lagi, dan ia rasa waktu dua bulan ini sudah cukup untuk ia bersembunyi. Kini ia akan menghadapinya dengan penuh keberanian hingga titik darah penghabisan.


Sampailah mereka di tempat yang dituju, sudah berdiri di depan halaman rumah itu Kavero dan Nadiva guna menyambut kedatangan nya dan sang istri.


"Pah ... Mah ... akhirnya kalian sampai juga disini," sapa Kabero dengan cerianya.


Pelukan hangat langsung mereka dapatkan dari putra mereka yang sudah tak sabar ingin memberikan surprise berupa kakak dan keponakannya kepada kedua orangtuanya itu.


"Iya, Ver. Mama udah nggak sabar ketemu sama cucu kesayangan Mama, "


"Papa ... ! Mama ... ! " seru Kavita.


Wanita itu langsung berhambur memeluk kedua orang yang sudah di rindukan nya selama ini. Sudah lama ia tak berjumpa karena keadaan masing-masing yang tidak memungkinkan.


Mereka benar-benar merasa sempurna sebagai kakek dan nenek baru setelah berjumpa dengan cucu mereka yang memiliki wajah tampan rupawan. Tak mereka ingkari jika wajah tampan Adrian dominan disana, tapi papa Indrawan tentu saja tak ingin merusak suasana baru itu dengan menyebut nama mantan menantunya yang kemungkinan akan muncul beberapa saat lagi.


"Cucu Manda ... kamu tampan sekali, Sayang, " mama Indri sudah langsung menggendong cucunya seperti apa yang ia katakan sejak tadi.


"Loh, kok Manda, Mah? " tanya papa Indrawan.

__ADS_1


"Iya, Pah. Kan Oma muda. Papa ini gimana sih? "


"Lhah, terus, kalo Mama jadi Manda, Papa jadi Panda dong? Masak iya Papa ganteng gini jadi Panda sih, "


"Ya kalau nggak mau jadi Kanda aja, Pa. Kakek muda, "


"Malah lebih aneh lagi dong itu. Masak cucu Papa manggil Kanda, "


"Yaudah sih, terserah Papa mau dipanggil apa. Hak asasi Papa itu. Ya, Kava cayang ya... kakek kamu bingung sendiri mau dipanggil apa sama kamu, Nak, "


Kavita dan yang lainnya hanya bisa terkekeh melihat perdebatan kecil yang lucu tersebut. Tanpa mereka semua tau jika ada suatu kejutan yang menunggu mereka di luar sana.


Sementara di luar sana.


"Jadi mereka tinggal disini selama ini? "


"Ayo, Pa. Kita turun! Mama juga mau lihat cucu kita! "


"Tidak, Ma. Mau ditaruh dimana mukaku di hadapan Indrawan? "


"Masa bodoh dengan malu, Pa! Aku sangat ingin melihat cucuku! Cucu yang selama ini kita dambakan dia idam-idamkan, "


Deg


Benar juga kata istrinya, selama ini mereka memang mendambakan seorang cucu, seorang penerus keluarga Wijaya.


Dan sekarang, begitu mereka menemukan tempat keberadaan nya, apakah ia akan menyia-nyiakannya begitu saja? Tentu saja tidak.

__ADS_1


"Untuk apa Mama dan papa kembali kesini? " gumam seseorang di dalam mobilnya.


Ia melihat sekeliling rumah yang tampak asri itu, disana ada beberapa orang berseragam coklat tua yang membuatnya mengernyit heran.


__ADS_2