Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Vara Menghilang


__ADS_3

Satu minggu masa tenang dan membahagiakan Vita karena dikelilingi oleh orang-orang tersayangnya, dituruti segala keinginannya, dan juga diperhatikan oleh suami yang dicintainya.


Dunia serasa bagaikan di syurga meski hanya sementara, Vita sangat mensyukurinya. Kini rombongan Vita mulai berkemas karena masa liburan telah usai. Meski berat rasanya untuk meninggalkan pulau Raja Ampat yang mempesona bak syurga nya dunia itu, tapi mereka semua harus tetap pulang dan kembali ke kehidupan nyata mereka lagi.


Adrian yang sudah selesai mengemasi barang bawaannya dan juga Vita, kini sedang mengamati wanita itu yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk. Masih terbayang di ingatannya pergulatan mereka baru saja setelah sekian lama dirinya berpuasa dari Vara maupun Kavita yang lemah karena awal kehamilannya.


"Kamu cantik banget sih, Vit. Kenapa aku baru nyadar, ternyata senyum kamu sangat manis. Dan rasamu ... legit, " gumam Adrian dan hatinya.


"Gila.. gila.. gila..! Adrian lo udah gila ya! Lo udah nggak waras, bisa-bisanya lo mikirin Kavita kayak gitu. Paling cuma efek karena gue udah lama nggak ketemu Vara, " batin Adrian menyangkal.


"Hubby ... " panggilan Kavita membuyarkan lamunan Adrian.


"Hah.. iya, Sweety. Ada apa? "


"Bisa minta tolong keringkan rambutku? Pegel banget rasanya, masih capek juga gara-gara tadi abis ... " ucap Vita manja dengan nada menggoda.


Adrian menerima handuk yang di ulurkan oleh Vita dengan senyum di bibirnya, " sini.. tapi kamu jangan godain gitu dong. Ntar kita nggak jadi pulang loh, yang ada aku bakal makan kamu lagi, "


"Aw.. mauu.. " Vita terlonjak karena di tarik


Adrian ke dalam pangkuannya.


"Serius mau? Kita perpanjang aja deh liburannya, rasanya aku nggak mau pulang deh, pengen disini terus mesra-mesraan sama kamu, " ucap Adrian seraya menciumi leher bagian belakang Kavita.


"Ah... geli, Hubby.. "


"Kenapa aroma mu menjadi candu bagiku? " Adrian menginginkan Kavita lagi dan lagi.. tapi ia menyangkal dan berdalih pada diri sendiri jika ia hanya merindukan Vara saja.


Memang setelah mama Indri mendengar Adrian menelfon Vara waktu itu, Adrian belum lagi mendapat kabar dari wanita itu. Terkahir kali Vara hanya mengirim pesan jika ia akan sangat sibuk dengan pekerjaan nya, dan di tempat tersebut sudah sinyal. Jadi Vara hanya mengatakan jika ia akan menghubungi Adrian jika ponselnya mendapatkan sinyal.


Dan Vara berpesan dengan sangat pada Adrian jika lelaki itu harus mau menerima Kavita, memperlakukan Kavita sebaik mungkin agar wanita itu bahagia, karena jika Vita merasa bahagia, maka anak yang dikandungnya juga akan sehat dan bahagia.


Adrian pun menurut dan mencoba menikmati apa yang ia hadapi saat itu tanpa terus menerus menggerutu. Dan kini lelaki itu mulai terbiasa dengan kehadiran Vita dalam kesehariannya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Pintu yang diketuk menghentikan aksi Adrian yang mulai menurunkan resleting gaun yang dikenakan Kavita. Kedua orang itupun terkekeh karena merasa malu sendiri.


"Semuanya udah siap, tinggal kalian doang. Masih pada ngapain sih, daritadi nggak kelar-kelar perasaan, " ucap Diva setelah pintu kamar itu dibuka oleh Vita.


"Ada deh.. yang jomblo nggak usah kepo, " jawab Vita.


"Hallah! Palingan juga ehm, ehm doang kalian. Tuh, leher lo aja masih merah merona sama kek pipi dan seluruh wajah lo, " balas Nadiva tak ma kalah.


Kavita reflek memegangi lehernya dengan kedua tangan, tapi Adrian yang baru saja keluar dari dalam kamar, meletakkan dia koper yang semula dibawanya, laluemeluk pinggang Kavita dan mencium pundak Kavita yang terbuka.


"Kyaak! Nggak punya etika kalian ya. Bisa-bisanya kalian berdua bermesraan di depan gue, " teriak Nadiva yang menutup mata tetapi masih mengintip lewat sela-sela jarinya.


Adrian dan Kavita tertawa melihat kepanikan Nadiva yang merasa matanya ternoda.


Ya meskipun Vero belum percaya pada Adrian sepenuhnya, tapi melihat sang kakak yang bahagia dan kali sehat membuat hatinya sedikit luluh dan mulai mencoba memaafkan Adrian, kakak iparnya.


"Vero lepasin gue, bocah! " Nadiva meronta dan merengek tapi tenaganya kalah jauh dengan Vero yang memiliki tinggi bak jerapah.


"Kalian berdua tuh ngapain sih, ribut mulu gue rasa, " komentar Valdi yang melihat kedua orang itu kembali ribut.


"Ini nih, si kecil yang udah tua tapi masih jomblo sepanjang masa. Gue tadi nemuin dia lagi melongo ngliatin Bang Adrian ma Kak Vita mesra-mesraan sampe ilernya netes, " lapor Vero pada Valdi.


Valdi mengerutkan keninganya mendengar cerita Vero barusan, "Adrian sama Vita, mesra-mesraan?"


"Iya, kenapa? lo mau kepo juga? " tuduh Vero membuat Valdi menepuk pundaknya.


"Enak aja lo, ngapain gue kepo ma orang begituan, "

__ADS_1


"Begituan apaan? "


"Ya seperti yang lo bilang tadi, mesra-mesraan 'kan? "


Vero terbahak, "dasar lo! Mentang-mentang dokter kandungan aja pikiran lo kesana mulu jadinya, "


"Omongan lo aja yang gak jelas, bikin gue jadi kayak orang yang nggak jelas juga! Hedeuh... hancur deh image gue sebagai dokter kandungan paling berwibawa, "


Semakin pecahlah tawa Vero dan Nadiva mendengar penuturan dari dokter yang masih memiliki usia yang terbilang sangat muda tersebut.


"Ayo anak-anak! Udah siap belom? " seru papa indrawan memanggil lara anak muda.


"Udah, Pa. Tinggal Kak Vita sama Bang Adrian aja, mereka masih nunu ninu', "


Papa Indrawan yang sudah hendak berjalan menjauh, kembali terhenti karena mendengar perkataan karena Vero yang dinilainya sebagai kata-kata abstrak.


"Kamu ngomong apa tadi, Ver? "


Vero nyengir kuda, "hehe.. nggak ada apa-apa kok, Pa. Yok kita semua bersiap, "


Setelah semua orang siap, rombongan itu pun benar-benar kembali dan meninggalkan pulau yang indah tersebut.


Sampai di kediaman Adrian yang terakhir kali ditinggalkan Kavita dengan hati yang sakit, kini wanita itu kembali dengan harapan baru, harapan semoga kehidupan rumah tanganya dengan sang suami dilimpahi kebahagiaan tanpa adanya gangguan dari pihak ketiga lagi.


"Aku harap, hari ini adalah awal dari kebahagiaanku bersama keluarga kecilku. Jangan ada gangguan dari orang lain lagi, Tuhan.. " doa Kavita.


Semua itu menjadi kenyataan karena Vara entah kemana kabarnya, wanita itu menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Tapi Kavita merasa bahagia karena Adrian tak lagi membahas ataupun menyebut nama Vara, apalagi membanding-bandingkan dirinya dengan wanita itu.


Berbeda dengan Kavita yang merasa tenang dan bahagia menjalani hari-hari barunya di rumah mereka tanpa adanya gangguan dari orang lain. Adrian justru merasa stress dan kebingungan mencari informasi tentang Vara, ia mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan wanita yang sudah lama mengisi hatinya tersebut.


Tapi bedanya, Adrian sudah bisa menyembunyikan semua hal itu dari Vita, bahwa ia masih juga mencari Vara karena walau bagaimanapun Vara merupakan cinta pertama dan istri pertama Adrian. Lelaki itu tak lagi terang-terangan menolak Kavita, dan tak pula memperlihatkan perhatiannya pada Vara di hadapan Vita.


"Vara.. Vara.. Vara.. kamu kemana sih, Sayang? Kamu bener-bener bikin aku khawatir. Sudah berapa bulan kamu nggak ada kabar. Aku sudah melakukan semua yang kamu katakan, dan semua yang kamu inginkan demi masa depan kita, tapi kamu malah menghilang seperti ini, " Adrian selalu mondar-mandir seorang diri diruang kerjanya saat tengah malam dikala Kavita tengah terlelap.

__ADS_1


Semua itu Adrian lakukan demi menjaga perasaan Vita, yang usia kandungannya mulai membesar seiring berjalannya waktu.


Sedangkan di tempat Vara berada, wanita itu tengah masih terbaring di atas ranjang dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.


__ADS_2