Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Saranghae, Vit...


__ADS_3

Acara selamatan baby Kava dan juga syukuran keluarga Indrawan berlangsung lancar dengan suasana meriah. Para tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada Kavita meski tak sedikit pula yang berbisik-bisik mempertanyakan tentang keberadaan Adrian yang merupakan ayah dari baby Kava.


"Syukurlah... acara hari ini berjalan lancar, meskipun ada juga yang julid, " Nadiva


"Biasa... namanya juga orang iri, pasti selalu ada. Itu menandakan kalau kita lebih baik dari mereka, " sahut Vero.


"Yaudah sih, yang penting kita juga nggak minta mereka buat ngurusin hidup kita kan, kalaupun mereka mau ngurusin, ya baguslah, "


"Loh, kok bagus? "


"Ya berarti kan mereka peduli dan perhatian sama kita, dan itu bagus'kan?" Semua orang terkekeh mendengar penuturan dari Kavita.


Semua orang pun membubarkan diri untuk membersihkan diri masing-masing, tapi Kavita lebih memilih untuk tinggal di taman, sekedar untuk melepas lelah setelah seharian penuh beraktivitas ini dan itu di dalam acara tadi.


"Hey, Vit. Nggak mandi? " sapa Valdi yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Kavita.


Vita menoleh pada dokter muda itu, "bentar lagi," jawabnya, kemudian kembali menatap ke arah depan, dimana ada hamparan bunga berwarna warni tampak indah terawat.


Valdi menatap Kavita dengan tatapan penuh arti, ingin sekali bibirnya mengucapkan suatu kata yang sudah terpendam sejak lumayan lama. Namun masih ada sedikit keraguan di sudut hatinya, bukan ragu tentang apa yang akan disampaikan nya, tapi lebih pada takut akan bagaimana tanggapan Kavita nantinya. Jujur saja ia takut jika Kavita nantinya malah akan menjauh darinya jika ia mengucapkan kata-kata yang menurutnya sensitif.

__ADS_1


"Ngapain lo natap gue kayak gitu?" tanya Kavita dengan wajah masih menatap ke arahdepan, ia hanya melirik Valdi dengan ekor matanya.


Valdi pun salah tingkah, ketahuan jika sejak tadi menatap Kavita.


"Muka gue aneh ya? " secara tiba-tiba Kavita berbalik ke arah Valdi, membuat lelaki itu reflek memutar badan membelakangi nya.


Kavita mengernyitkan kening, "lo kenapa sih, Di? "


Valdi hanya menggeleng, entah kenapa jantungnya mendadak tidak baik-baik saja, rasanya berdetak lebih cepat daripada biasanya.


"Aneh, kenapa tiba-tiba rasanya kayak gini, " gumam Valdi dalam hati.


Bagaimana tidak, bukankah sudah biasanya ia melihat Kavita, dekat dengan wanita itu. Bahkan ia sudah melihat bagian-bagian tubuh Kavita, termasuk rahimnya pula. Haha, ya iyalah, kan Valdi dokter kandungannya.


Valdi menegang di tempat, tubuhnya tarakan membeku, kaku.


"Hey... " Kavita memiringkan tubuh dengan kedua tangan yang masih bertengger di kedua bahu Valdi.


"Ada apa? Cerita sama gue lah kalo ada apa-apa, sok atuh,"

__ADS_1


Valdi menggelengkan kepalanya cepat, ingin dirinya menghilang begitu saja dari sana saat ini. Tapi mana mungkin, dia hanya manusia biasa.


"Yaudah, kalo gue aja yang cerita gimana? " Vita semakin memiringkan tubuhnya bahkan kepalanya juga semakin melongok ke depan agar bisa melihat wajah Valdi. Tapi karena Kavita terlalu miring dan mungkin ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, Kavita pun oleh dan hampir saja terjatuh.


"Vit.. " Valdi reflek menangkap kepala Kavita yang hampir menyentuh tanah berumput lalu menariknya dengan cepat hingga Kavita menabrak tubuhnya.


Kini keduanya lebih seperti orang yang sedang berpelukan mesra, dengan kedua tangan Valdi yang masih memegang kepala Kavita, dan Kavita juga berpegangan erat pada Valdi.


Deg


Deg


Deg


Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan jantung Valdi, ia merasa jantungnya itu akan segera meledak jika berlama-lama berposisi seperti itu.


Kavita menarik kepalanya perlahan, dan melerai pelukannya dengan Valdi. Kedua netranya bertemu pandang dengan kedua bola mata jernih milik lelaki yang merupakan pahlawannya tersebut.


Bak slow motion dalam sebuah film, keduanya larut dengan fikiran mereka sendiri-sendriri. Tak ada yang bersuara, seakan tatapan mata keduanya sudah menyiratkan ungkapan masing-masing.

__ADS_1


"Saranghae, Vit. Eh... "


"Hah? "


__ADS_2