
Ketegangan pun berakhir dengan kepergian papi Wijaya, mami Shinta, juga Adrian beserta semua rombongannya. Papa Indrawan dan mama Indri kini bisa sedikit bernafas lega, kedua orang itu terududuk lemas di sofa ruang tamu rumah dokter Valdi.
Vero dengan sigap menyodorkan dua gelas air putih untuk orangtuanya.
"Makasih, Ver, " ucap mama Indri usai meneguk air putih dari gelas tadi.
"Papa sama Mama nggak papa kan? " Vero berjongkok di depan kedua orangtuanya dan menatap keduanya dengan tatapan khawatir.
Papa Indra dan mama Indri menggeleng, "Mama nggak papa kok, Ver, "
"Papa juga nggak kenapa-kenapa, " sahut papa Indra pula.
"Terus, tadi itu suara tembakan apa? " Itulah yang sejak tadi memenuhi benak Vero dan Valdi yang belum mengetahui duduk permasalahannya apa yang terjadi disaat mereka belum sampai disana.
"Astaga, Ma. Iya... Anak buah Papa! " papa Indrawan segera bangkit lagi dari duduknya dan memanggil nama pemimpin anak buahnya.
"Robi... "
"Ya, Tuan? " seorang pria dewasa berbadan tegap dan memiliki tinggi diatas rata-rata berdiri di depan papa Indrawan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak buah kamu tadi? "
"Diko, Tuan? " jawab pria yang dipanggil Robin tadi.
"Ya, siapalah itu namanya saya tidak hafal semua nama-nama anak buah kamu. Bagaimana kondisinya sekarang? "
"Diko langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat begitu mendapatkan tembakan pada pundaknya tadi, Tuan, "
"Syukurlah... kalian sangat sigap. Lalu keadaannya saat ini bagaimana? " papa Indrawan terlihat sangat khawatir pada salah satu anak buahnya itu.
"Diko masih menjalani operasi untuk mengeluarkan pelurunya, Tuan, "
"Semua itu sudah kehendak takdir, Pah. Tuhan mengirim malaikat seperti Diko untuk menyelamatkannya Papa, " sahut mama Indri berusaha menenangkan suaminya.
"Iya, Pa. Papa jangan menyalahkan diri Papa sendiri dong, " timpal Vero pula, tak ingin sang ayah lagi-lagi diliputi rasa bersalah karena kejadian tak terduga seperti tadi.
Valdi turut bersuara setelah menangkap apa yang sekiranya terjadi, "Iya, Om. Om tenang saja, Valdi bakalan pantau kondisi anak buah Om itu lewat teman Valdi yang sedang menjalankan operasi itu nanti. Yang terpenting sekarang semuanya selamat dan baik-baik saja kan?"
Semua orang mengangguk, termasuk papa Indrawan yang hanya bisa mengangguk lemah.
__ADS_1
"Syukurlah... Sekarang Valdi mau cek kondisi Kavita dan baby Kava dulu. Pasti mereka merasa syok juga mendengar suara tembakan tadi, " ucap Valdi yang pikirannya hanya tertuju pada dua orang istimewa baginya sejak tadi.
"Iya, Kavita! Sampai lupa gara-gara si pecundang itu, " seru papa Indrawan panik, kemudian segera berlalu lebih dahulu menuju ke arah dimana kamar Kavita berada. Dibelakangnya mengekor mama Indri.
"Ho... Pecundang?! " Vero dan Valdi menggumam bersamaan dan saling pandang. Mereka tertawa seraya berjalan menyusul Mama Indri serta papa Indrawan.
Pintu kamar dibuka dari dalam, terlihatlah Kavita yang menunduk dengan baby Kava yang masih setia berada di dalam gendongannya.
"Pah... Mah... kalian nggak kenapa-kenapa kan? " seru Kavita negitu melihat kedua orangtuanya di depan mata.
Wanita itu menghambur ke arah papa dan mamanya, memindai tubuh keduanya dari atas ke bawah secara bergantian. Semuanya tampak baik-baik saja. Lalu apa suara tembakan tadi? Dan apa yang terjadi sebenarnya.
"Syukurlah kalian baik-baik aja, beneran kan kalian nggak terluka apapun? "
"Seperti yang ku lihat, Vita. Kami tidak apa-apa. Tidak ada luka apapun sama sekali, "
"Ap yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku mendengar suara tembakan, dan setelahnya disusul oleh suara lelaki itu, " Kavita enggan menyebutkan nama lelaki yang yelahbuat luka menganga di hatinya.
"Tadi itu, ada Wijaya dan Shinta datang kemari... "
__ADS_1
"Pa-pi, sama Mami? " kedua mata Kavita menggenang mengingat kedua orang tua yang pernah sangat ia hormati tersebut.