Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Keterpurukan Adrian


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Seorang lelaki terduduk di sebuah mini bar, ditangannya terdapat gelas berisi cairan berwana bening kekuningan. Di hadapannya ada beberapa botol kosong berjejer tak beraturan. Aroma kuat alkohol menyengat indera penciuman siapa saja yang berada di tempat itu.


Beberapa orang berpakaian serba hitam berdiri di belakangnya, orang-orang tersebut selalu berusaha menghentikan setiap kali tuan mereka meminta minuman memabukkan itu lagi dan lagi.


Hari sudah merupakan hari ke lima puluh sembilan lelaki itu bersikap dan bertingkah polah demikian. Semua karena ia merasa sangat frustasi dengan masalah yang ia hadapi selama beberapa bulan ini.


"Aaaaarrgghh... " teriak lelaki itu seraya melempar gelas yang ada di tangannya untuk kesekian kalinya.


Beling kaca bekas gelas dan botol-botol dari minuman yang selalu di tenggak nya itu berserakan dimana-mana. Padahal para bodyguard nya sudah selalu membereskannya tetapi hal itu terus terulang lagi dan lagi.


"Kamu kamana sih, Vit? Kenapa kamu pergi gitu aja dari aku dengan membawa anak kita? " gumam lelaki itu dengan mata memerah.


Mata yang hampir tak pernah kering dari air mata.


Mata yang selalu enggan terpejam dikala kesadaran masih ada pada dirinya.


Mata yang selalu setia menatap layar ponsel dan laptop setiap waktu guna mencari keberadaan seseorang yang baru ia sadari betapa berartinya kehadiran orang tersebut.


"Anak itu anak gue juga! Tapi kenapa lo bawa dia pergi gitu aja...! " teriaknya lagi dengan kembali membanting sebuah botol di depannya.


Para bodyguard nya hanya mampu terdiam memandangi kelakuan bos mereka yang sudah seperti orang gila semenjak kejadian beberapa bulan lalu yang mengakibatkan lelaki itu kehilangan mutiara dalam hidupnya.


Sebuah mutiara yang semula tak ia sadari kehadirannya


Sebuah intan permata yang semula ia sia-siakan kala masih ada bersamanya.


Kini semua keindahan dan pancaran cahaya dari kilauan berlian itu hilang sudah bak ditelan bumi tanpa ia tau keberadaan nya sama sekali. Bahkan lelaki itu sudah berusaha mengerahkan semua anak buah dan masih lebih banyak lagi orang tambahan untuk mencari keberadaan mutiara kehidupannya itu. Tapi seakan semua sia-sia belaka. Setiap kali ia bertanya hasilnya selalu nihil, dan hal itu pasti membuatnya kembali murka hingga mengamuk tak terkendali.


Itulah kehancuran mental dari seorang Adrian Saputra Wijaya, seorang CEO dari Wijaya Group yang berkuasa di jahat raya. Namun kekuasaannya seakan tak berarti apa-apa kini, tanpa adanya sangat bidadari yang dulu selalu setia menemaninya disisi dengan calon penerusnya yang tengah dinanti.


Tetapi semua sirna karena kesalahan dan kebodohan yang ia lakukan sendiri. Ia selalu merutuki kebodohannya yang bisa dengan mudah menyia-nyiakan bidadari itu dulu.


"Vita...! Jangan pergi dariku...! " teriak Adrian sepanjang waktu.


Gumaman, ocehan bahkan teriakan yang keluarkan dari mulut Adrian tak lain selain memanggil nama Vita. Kavita Saputri Indrawan seorang wanita berhati tulus yang selalu mencintai dan menerima Adrian dengan ketulusan cintanya.

__ADS_1


Yang dengan sabar menunggu datangnya sebuah keajaiban yang akan membuat Adrian bisa membalas cintanya.


"Aku tulus cinta sama kamu, Mas. Aku akan menunggu sampai cinta itu datang di dalam hatimu untukku, " ucap Kavita suatu hari yang tak digubris sama sekali oleh Andrian dulu.


Hanya cinta dan kasih sayang dari suaminya lah yang Kavita harapkan selama menjadi istri Adrian. Tak lebih.


"Kamu anggap apa aku ini, Mas? Aku ini istrimu juga! Istri dah mu! Bukan hanya wanita itu, " masih terbayang jelas diingatan Adrian wajah Kavita yang berderai air mata saat dulu ia lebih mementingkan Vara ketimbang dirinya.


Kavita yang bahkan masih sanggup menahan sakit hati kala mengetahui jika lelaki yang menjadi suaminya itu ternyata sudah memiliki istri lain selain dirinya sebelumnya.


Kavita yang selalu di olok sahabat dan adiknya saat lebih memilih menahan rasa sakit hati karena mencintai seseorang yang bahkan mencintai wanita lain.


Lelaki yang bahkan tak pernah menganggap dirinya ada, walau hanya sekedar menganggapnya sebagai istri pun mungkin tidak.


Lelaki yang dulu hanya menganggap Kavita sebagai alat untuk menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangganya bersama dengan istri pertamanya. Alat untuk memberikannya keturunan dan menyempurnakan kehidupan pernikahannya dengan Vara.


Ya, semula mungkin itu pemikiran Adrian yang hanya terpaku pada Vara, wanita yang pertama membuatnya merasakan indahnya jatuh cinta. Yang selalu Menecrmeriakan hari-harinya semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


Memang sudah begitu lama ia bersama Vara, hingga ia merasa hanya Vara lah satu-satunya wanita yang paling berarti dalam hidupnya selain maminya, ia merasa tak lagi membutuhkan wanita lain yang hanya akan merusak kebahagiaannya bersama Vara.


"Hanya kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku butuhkan, Vara. Aku tidak membutuhkan wanita lain lagi selain kamu, " kata Adrian dahulu saat Vara meminta dirinya menikahi Kavita yang sudah dijodohkan dengan nya oleh kedua orang tuanya.


"Aku bodoh, Vit. Aku memang lelaki bodoh! Aku tak pernah menyadari betapa berartinya kehadiranmu di dalam kehidupanku, " Adrian meletakkan wajahnya di meja. Air matanya mengalir bercampur dengan alkohol yang berceceran disana.


"Kenapa aku baru menyadari arti dirimu setelah ku pergi? Kenapa aku dulu begitu bodoh, yang hanya menganggapmu sebagai pengganggu dalam kehidupanku bersama dengan Vara? " renungkan Adrian tiada akhir.


Tangan Adrian tiba-tiba terangkat demgan satu jarinya menginterupsi bodyguard yang selalu setia di sekelilingnya.


"Ya, Tuan? " wakil ketua dari para bodyguard itu berjalan mendekat dan berdiri di samping Adrian.


"Dimana Vita? Dimana istriku? Dimana anakku? "


Bodyguard itu hanya mempunyai terdiam, karena jawabannya masih akan sama seperti sebelum-seblumnya, yaitu, "kami belum menemukan keberadaan nona Kavita dan anak Anda, Tuan, "


Jika sudah mendapatkan jawaban seperti itu, maka Adrian akan kembali murka. Lelaki itu akan mengamuk dan membuat para bodyguard mau kocar kacir karena tak ingin terkena amukan dari Adrian yang biasanya akan melemparkan apapun yang ada di sekitar nya.


"Bodoh!! Apa saja pekerjaan kalian selama ini, hah? Aku mempekerjakan kalian untuk bekerja! Bukan hanya berdiam diri seperti patung saja! " maki Adrian dengan suara menggelegar meski tubuhnya sudha tak mampu lagi untuk tegak berdiri.

__ADS_1


"Kami akan usahakan yang terbaik, Tuan. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan nona Kavita dan juga putra Anda, "


"Itu juga kalau mereka masih hidup, Tuan. Karena jika dilihat menurut CCTV yang memperlihatkan kejadian terkahir kali saat Anda pergi meninggalkan nona Kavita, nona Kavita terjatuh dan terlihat sangat kesakitan, lalu mengalami pendarahan hebat. Untung saja adiknya segera datang waktu itu, kalau tidak saya pun tidak tau apa yang akan terjadi pada istri dan anak Anda, " batin bodyguard bernama Diko itu.


"Usaha.. usaha.. hanya itu yang selalu kau katakan tapi tak pernah ada hasilnya. Nggak berguna kalian semua! pergi kalian dari sini..! " usir Adrian pada para bodyguard nya itu untuk kesekian kalinya pula.


Beberapa bodyguard yang selalu menemani Adrian itu hanya diam ditempat, seakan tak mendengar teriakan berupa usiran dari Adrian, karena pasti nanti setelah sadar dari masuknya, Adrian akan mencari keberadaan mereka lagi seperti yang sudah-sudah.


Bukannya para bodyguard itu tak ingin pergi, tapi perasaan kepedulian mereka terhadap Adrian membuat mereka tak tega jika harus meninggalkan tuan yang sudah memperkerjakan mereka selama bertahun-tahun itu.


Selama ini Adrian selalu memperlakukan mereka semua dengan baik, pekerjaan yang biasa saja dengan gaji dan fasilitas yang luar biasa membuat mereka semua betah dan berjanji setia untuk tetap selalu berada disisi Adrian. Hanya saja tahun-tahun terakhir ini yang merupakan tahun terberat bagi mereka karena adanya masalah yang berat juga yang terjadi pada tuan mereka.


Adrian yang sudah berjalan sempoyongan melewati para pengawalnya itu kembali berbalik dan menatap satu persatu orang yang ada disana. Meski pandangannya sudh menabur dan satu bodyguard menjadi beberapa orang, tapi Adrian berusaha memfokuskan pandangannya meski terasa sulit.


"Cari tau keberadaan anak da istriku secepatnya kalau kalian masih ingin mendapatkan gaji kalian, kalau tidak.. jangan pernah berharap aku akan menggaji kalian lagi. Karena aku tak sudi menggaji pengangguran yang hanya mau memakan gaji buta seperti kalian, " ucap Adrian dengan nada suara yang sudah tak karuan dan kurang jelas, membuat para bodyguard itu hanya saling pandang kebingungan.


Sedetik kemudian beberapa orang itu berlari menangkap tubuh Adrian yang terhuyung dan hampir mencium lantai karena kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang lemah.


"Kalian bawa tuan Adrian ke kamarnya, sisanya kita bersihkan ruangan ini dulu, " sang wakil ketua bodyguard menginterupsi anak buahnya.


"Kasihan tuan Adrian, dia pasti sangat menyesal atas perbuatannya sendiri pada nona Kavita, " batin wakil bodyguard Diko seraya menatap kepergian Adrian yang dibopong oleh dua orang anak buahnya.


"Anakku pasti sudah lahir 'kan? Ya, anakku pasti sudah lahir, " gumam Adrian entah sadar atau tidak.


"Hey, jawab! Anakku pasti sudah lahir 'kan? " kedua bodyguard yang semula hanya terdiam dan saling pandang itu hanya mengangguk mengiyakan agar tak lagi terkena amukan tuan mereka.


"Ya, aku akan bertemu anakku secepatnya, "


"Pasti, "


"Ya, pasti, " cerocos Adrian yang sudah terbaring di kasurnya. Kedua bodyguard nya tadi pun segera melarikan diri dari sana karena tak mau mendengarkan celotehan tak jelas dari Adrian yang sudah mabuk berat.


"Vita... aku mau kamu, "


๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Wah, part ini lumayan panjang juga. Jangan lupa dukungannya buat Vita ya, biar dia cepet move on dari laki macam Adrian.

__ADS_1


Tuh, Adrian udah aku bikin gak berdaya sesuai keinginan kalian๐Ÿ˜„


__ADS_2