
Tawa Nadiva terdengar menggema di ruangan keluarga villa Valdi. Hanya para wanita dan juga baby Kava yang tinggal disana saat ini, sementara para lelaki kembali ke ibukota untuk melanjutkan tugas masing-masing.
Berbeda dengan Nadiva yang tertawa senang dan mama Indri yang menyeringai puas, Kavita justru berdecih melihat sebuah video yang terputar di ponsel milik Nadiva itu.
Nadiva yang iseng meminta asisten dari papa Indrawan untuk mengabadikan jika ada momen yang dirasa perlu untuk di perlihatkan kepada mereka, dan ternyata memang ada. Jadi ketiga wanita berbeda usia itu saat ini sedang melihat aksi Adrian yang memelas tengah berlutut di hadapan papa Indrawan, tak lupa air mata cap buaya muara yang juga diperlihatkan disana.
Entah itu asli atau palsu, tak ada yang perduli lagi, sebab mereka hanya menganggap itu sebagai hiburan semata. Tepatnya Nadiva yang merasa hal itu sebagai hiburan, karena Kavita malah merasa muak melihat wajah sok teraniaya dari laki-laki yang dibencinya tersebut.
"Cih! Menjijikkan! " gumaman Kavita terdengar di telinga Nadiva dan membuat gadis itu semakin terbahak saja.
"Memang yang katanya kalau antara cinta dan benci itu beda tipis, memang benar adanya ya, " komentar Diva setelah berusaha sekuat tenaga meredam tawanya.
Kavita melirik sahabatnya itu, "Maksud lo? "
"Ya... contohnya aja lo, dulu gimana lo begitu memuja, mendamba dan mengagung-agungkan Si Adrian itu. Lalu sekarang ... lo jijik buat liat tuh orang, bahkan lo sampe nggak sudi cuma buat ngeliat mukanya doang, hahaha, " ucap Nadiva yang diakhiri dengan tawa cemprengnya lagi.
"Hmm... itu karena Tuhan udah ngebuka mata hati gue... dan menyadarkan gue betapa orang itu nggak pantes buat dapetin cinta gue, " Kavita menghela nafasnya sejenak sebelum kembali berucap, "dan, kebahagiaan orang itu nggak bisa hanya diukur dengan ketampanan, kekayaan, serta kepopuleran aja. Malah justru yang kayak gitu yang kebanyakan bermasalah, dan semua itu udah terbukti benar adanya. Buktinya gue udah ngalamin 'kan, "
"Setujuuu, Buk Vita. Tuh baru sahabat gue yang paling pinter, " Nadiva mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Kavita.
"Ye ... dari dulu kali gue pinter, "
"Tapi jadi bodoh gara-gara ketutup cinta buta, haha," Nadiva kembali tertawa.
"Hooh, buta terong, " sahut mama Indri ikut menimpali.
"Apa hubungannya sama terong, Mah?" komentar Vita heran.
"Masak gitu aja mesti Mama jelasin sih, Vit, "
__ADS_1
Vita mengernyit tak mengerti, apalagi Nadiva yang masih polos-polos kepo.
"Auk ah, "
"Nah gitu tuh kalo dah lama nggak liat terong, " mama Indri terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Emang terong apaan sih, Tan? " tanya Nadiva dengan wajah keponya.
"Mau tauuk ajah, "
"Apa mau di masakin terong, Non, Buk? " simbok yang baru saja lewat mendengar percakapan ketiga wanita itu dan ikut menyahut.
"Boleh juga tuh, Mbok, "
"Baik, Buk, "
"Lah, apa hubungannya pula ini sama Valdi? " mama Indri pura-pura tak tau, ia ingin memancing bagaimana reaksi Kavita supaya tau bagaimana perasaan putrinya itu pada si dokter muda.
"Ya... biar Vita nggak terus memberi cap jelek pada smua cowok ganteng dong, Tan, cuma gara-gara satu orang cowok yang udah bikin patah hatinya aja, "
"Bener itu kata Diva, Vit, "
Kavita mengedikkan kedua bahunya, "entahlah, Mah. Aku jadi nggak bisa bedain mana yang tulus dan mana yang modus, hati aku juga masih belum deh kayaknya, "
"Lah ... dia freezer hatinya, udah kek hati ayam aja, Vit. Jangan terlalu menutup diri lah, Vita, "
"Kamu nggak tau gimana rasanya sih, Div. Betapa kacaunya hati aku, " Vita menghembuskan nafas dengan kasar, tandanya ia jenuh dengan pembahasan itu, "udahlah bahas yang lain aja, "
Mama Indri mengedipkan mata, memberikan kode pada Nadiva. Ia mencoba mengerti bagaimana perasaan Kavita yang mungkin belum bisa tertata seperti sedia kala. Apalagi persidangan mereka saja masih harus tertunda gara-gara ulah si Adrian tulalit itu.
__ADS_1
"Oke, sorry, Sayang, " pelukan dan tepukan kecil Nadiva berikan pada sahabatnya yang sepertinya suasana hatinya sedang kurang baik saat ini.
Ponselnya yang masih menampakkan tampang menjengkelkan Adrian itu ia matikan, meski sebenarnya Nadiva masih merasakan penasaran apa yang akan ayah dari sahabatnya itu lakukan kepada menantunya yang jahat tersebut.
Dilain tempat, ada juga sesosok lelaki yang tengah gelisah, ia memikirkan bagaimana hasil dari persidangan pertama Kavita hari ini. Meski raganya berada di kantor rumah sakit, tetapi pikirannya ada di pengadilan agama.
"Apa semuanya berjalan lancar? Bagaimana kalau lelaki itu keberatan, dan sidangnya di tunda?" helaan nafas berat terdengar, "meskipun Kavita nggak hadir disana, tapi kan Adrian bisa aja membuat cerita yang enggak-enggak. Mengingat bagaimana liciknya orang itu, " gumam Valdi dalam hati.
"Hufft... kenapa jadi gue yang galau ya. Yang mau sidang perceraian siapa, yang gelisah siapa, dasar elo, Valdi!" Valdi mengetuk kepalanya, merasa konyol dengan dirinya sendiri, "lagipula, belum tentu juga elo di terima sama Vita, 'kan, "
Namun keningnya mengerut setelah mendapatkan pesan dari Vero, "video apaan nih? " gumamnya.
Senyumnya terbit usai melihat apa yang ditampilkan di dalam video itu, pancaran kelegaan pun tersirat di wajahnya.
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih atas ketegasan Anda, calon papa mertua, " Valdi tersenyum dengan ucapannya sendiri.
"Valdi ... Valdi, lagi-lagi lo sok kepedean. Belum tentu juga papanya Kavita mau nerima elo jadi bakal menantunya, "
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, "acieee ... ada yang lagi jatuh cinta nih kayaknya, " goda seseorang yang baru saja masuk.
"Elo, Fer, gangguin orang lagi senang aja, "
"Senang apa? Ngalamun? Mending lo dengar berita real aja deh daripada cuma hayalan, "
"Apaan? " tanya Valdi dengan nada ketus.
Dokter Ferdi menunjukkan tab di tangannya.
"Whatt?? Valdo? Sama siapa dia? " seru Valdi terganga tak percaya.
__ADS_1