
Plak...
Amarah yang memuncak tak dapat lagi di bendung oleh Adrian hingga lelaki itu mampu berbuat kasar pada wanita yang dulu pernah menjadi ratu di hatinya tersebut. Ini adalah kali pertamanya Adrian melayangkan tangan pada Vara. Tamparannya pun tak main-main sebab saking marahnya, hingga menimbulkan bekas merah di pipi putih wanita itu, serta setetes darah di sudut bibir Vara karena bibirnya terluka.
Wajah Vara hingga tertoleh ke arah lain saking kerasnya tamparan Adrian. Tangannya meraba pipinya terasa perih dan juga panas. Air mata yang sejak tadi ia coba untuk tak tahan kini luruh begitu saja. Bibirnya tergetar, Vara sungguh tak menyangka jika Adrian bisa berbuat seperti itu padanya. Karena selama ini sekalipun tak pernah Adrian membentak nya sekalipun lelaki itu merasa marah padanya.
Bahkan pada saat ia mendesak Adrian untuk menyetujui ide kedua orang tuanya yang meminta ia menikahi Kavita waktu dulu. Dan dialah yang membujuk serta merayunya untuk mau menuruti ide gila itu meskipun dia sendiri juga yang harus mengorbankan perasaannya sendiri. Adrian kalau itu memang marah padanya, tapi tak sampai menyakiti fisiknya seperti saat ini. Jadi tak bisa di bayangkan bagaimana rasa sakit hatinya sekarang.
"Kamu jangan pernah sekali-kali menguji kesabaranku, Vara!" ucap Adrian geram dengan gigi nergemerutuk. Tak lagi ada rasa simpati meski melihat air mata wanita itu.
__ADS_1
"Aku kurang sabar apa sama kamu? Bahkan sampai aku mengetahui semua kebohonganmu pun aku masih memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan dan meminta maaf, " fada Adrian naik turun pertanda jika emosi lelaki itu belumlah reda. "Tapi apa? Bukannya kata maaf yang aku dengar, melainkan kata-kata kesombonganmu, Kata-kata keangkuhan mu, dan juga pengakuan perselingkuhan mu yang kamu banggakan! " teriak Adrian.
Adrian meraih wajah Vara, mencengkeram rahang wanita yang masih berstatus istrinya itu, "Dan apa tadi? Kamu minta cerai? Iya? "
"Supaya apa? " mata Adrian mendelik, tatapannya begitu tajam menelisik wajah Vara, "supaya kamu bisa lebih besar untuk bersama lelaki itu? Supaya kamu bisa menikah dengannya, begitu?"
"Le-pass in, Adrian. Sak-kit... " cicit Vara seraya tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Adrian pada wajahnya.
"Kamu pun menduakanku, Adrian. Lalu apa salahnya aku mendua? "
__ADS_1
"Sekarang kamu mau nyalahin aku atas apa yang kamu inginkan sendiri? Siapa yang dulu memaksaku untuk menikahi Kavita? Kamu, Vara. Kamu!" sentak Adrian seraya mengehmlaskan wajah Vara sampai wanita itu terjengkang dan terduduk di kursinya tadi.
"Jadi kalau sekarang mau nyalahin orang, yaitu kamu sendiri. Jangan malah melemparnya pada orang lain demi membenarkan kesalahan kamu, " telunjuk Adrian menempel pada kening Vara.
"Kalau dulu kamu nggak pernah memaksa aku, aku nggak pernah ada pikiran untuk menikah lagi meski bagaimana pun keamanan kamu. Aku udah bahagia hanya dengan kamu. Nggak pernah sedikitpun terbesit ddam pikiran aku untuk mendua, apalagi untuk menikah lagi! "
Lelaki itu sama sekali tak menyangka jika Vara yang dulu adalah haid baik-baik, mempunyai sifat lemah lembut, kini bisa menjadi wanita yang kasar dan bisa berbuat kesalahan seperti berbohong serta berselingkuh. Anehnya lagi, Vara yang berbuat kesalahan, namun Vara juga yang malah marah dan meminta perceraian.
Adrian bimbang, ia memang ingin menghempaskan wanita itu. Namun keangkuhan pada dirinya menolak hal itu, apalagi saat ini ia sudah berpisah dengan Kavita. Artinya Vara adalah satu-satunya istrinya, seperti dulu lagi. Hanya saja Vara belum mengetahui hal itu. Jika Vara mengetahuinya, entah apa dan bagaimana tanggapannya. Apa dia masih mau bercerai dengan Adrian atau tidak. Tapi kan Vara sudah ada Valdi saat ini.
__ADS_1
Vara kehabisan kata-kata, karena apa yang diucapkan oleh Adrian memanglah benar adanya. Tapi ia merasa tetap harus bisa mengalahkan perdebatan itu engga Adrian. Supaya ia bisa bebas hidup tanpa jerat Adrian.