
Aku memejamkan mata, kuhirup udara dalam-dalam, udara yang ada di rumah kedua orang tuaku ini. Rumah yang selalu ku rindukan semenjak tinggal terpisah dengan keluargaku sejak aku menikah dengan Adrian. Rumah yang selalu terbayang kehangatannya kala aku merasa hampa dan menahan luka di rumah lelaki itu.
Udara ini, kehangatan ini, suasana ceria serta pemandangan yang indah di rumah ini dapat kurasakan kembali setelah sekian lama. Aku tak menyangka jika akhir dari pernikahanku dengan lelaki impianku dulu akan berakhir perpisahan di pengadilan seperti ini, hingga aku harus kembali kepada kehidupanku yang dulu lagi. Namun tak masalah, memang pembelajaran hidup itu diperlukan untuk lebih mendewasakan diri kita, bukan?
Aku, yang dulu penuh ambisi dan selalu berfikir untuk mendapatkan apa yang ku inginkan, kini jadi bisa lebih berhati-hati lagi dengan apa yang aku inginkan. Aku harus lebih mengenal, meneliti, serta mengkaji lebih dalam lagi jika ingin melakukan sesuatu. Tidak boleh grusah-grusuh lagi seperti dahulu.
"Home sweet home, " gumamku sambil tersenyum.
"Welcome home my prince... " seruan Vero terdengar nyaring dari dalam rumah.
Aku beranjak dari tempatku berdiri sejak tadi, berjalan ke arah suara adikku itu berada. Begitu sampai di pintu utama, aku terperangah tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Ternyata duo konyol itu kembali membuat rencana spektakuler. Coba saja bayangkan, untuk menyambut kepulanganku dan baby Kava, mereka sampai mendekorasi ruang tamu rumah kami dengan sangat luar biasa.
Balon berwarna warni, lengkap dengan balon-balon gas yang memiliki berbagai macam bentuk berhamburan disetiap tempat.
Di salah satu sisi ada pula tulisan 'welcome home Kak Kavita And Baby Kava'.
"Itu pasti ide Vero, " pikirku.
Belum lagi hiasan yang lain-lainnya yang membuat ruangan ini tampak begitu meriah.
"Selamat datang, Nona Kavita dan tuan kecil Kava, " ucap para asisten rumah tangga lengkap dengan supir, satpam, tukang kebun, beserta para bodyguard yang sudah berbaris rapi dari depan rumah sampai dalam rumah.
"Terimakasih semuanya," balas ku sambil tersenyum penuh haru.
Aku sama sekali tidak menyangka jika kepulanganku akan disambut sedemikian rupa meriahnya.
Papa dan mama mendekat dan memelukku, "selamat datang kembali di rumah kita, Sayang. Kita jalani hari yang baru, dengan kenangan baru, juga cerita baru bersama dengan anggota keluarga baru juga ya, " ucap mama.
Aku mengangguk, tak dapat berkata-kata.
hanya air mata yang mewakili bagaimana perasaan ku saat ini. Bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan. Aku merasa sangat bahagia dan beruntung, mempunyai keluarga yang begitu menyayangiku serta mendukungku. Disaat aku terpuruk karena masalah yang menimpaku, mereka semua memberi semangat padaku dan selalu mensupportku.
"Ayo masuk! Lihat apa yang udah disiapin mereka semua buat kamu sama baby Kava, " mama mengajakku masuk ke ruang keluarga.
Aku tertawa bahagia, disini tak kalah meriahnya, dekorasi mirip pesta ulang tahun, bahkan ada kue ulang tahun juga banyak sekali makanan.
"Selamat bulan ke empat, baby Kava, " kini Valdi yang bersuara.
Putraku sudah kembali berada di gendongannya saat ini. Entah sejak kapan dia mengajaknya.
__ADS_1
Yang lebih mengherankannya lagi, baby Kava pun terlihat begitu bahagia berada di dekapan lelaki berwajah manis yang memiliki lesung pipi itu. Begitu terlihat karena dia juga tertawa melihat wajah Valdi dan memperhatikan sekelilingnya.
"Lah, gue baru sadar kalo baby Kava juga punya lesung pipi sama kayak Valdi. Padahal gue dan Adrian sama-sama nggak punya lesung pipi, gimana bisa?" gumamku dalam hati.
Keningku berkerut melihat kesamaan dua laki-laki beda generasi itu.
"Kak Vita sini deh, " Kaveri menarikku, ia menempatkanku di samping Valdi yang masih asyik mengajak anakku berbicara sejak tadi.
"Nah, Kak Vita liat baby Kava juga kayak Bang Valdi, " Kembali Vero meng-intruksi ku.
Aku hanya bisa menurut, bahkan saat Diva meletakkan tanganku di bahu Valdi pun aku seakan terhipnotis dan menjadi orang yang penurut disini.
Karena sebenarnya aku masih merasa heran dengan mereka semua, bisa-bisanya semua orang sekompak ini, dan hanya aku saja yang tidak tau apa-apa.
Cekrek
Nah kan, rupanya Vero memotret kami bertiga dengan posisi tadi, benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang berbahagia.
"Potong kue nya, baby Kava, " Nadiva berucap sambil menyerahkan pisau plastik kepada Valdi.
"Aa... Bunda, " Valdi menyodorkan potongan kecil kue kearahku.
Aku melongo dan mengangkat sebelah alisku.
Kembali aku menurutinya.
Cekrek
Lagi, Vero menangkap gambar kami saat Valdi menyuapkan kue coklat itu ke mulutku.
Baby Kava pun ikut tertawa senang melihatnya. Seperti anak yang sudah tau saja, padahal kan dia masih bayi.
Kompak banget sih mereka.
"Jangan-jangan mereka semua bersekongkol nih di belakangku," batinku curiga.
Semua orang bersenang-senang menyambut kedatangan kami, membuatku merasa begitu dibutuhkan dan di sayangi.
"Non, kangen masakan Simbok, ndak? ucap Mbok kasih, asisten rumah tangga kepercayaan keluarga kami sejak aku masih kecil dulu. Makanya beliau sudah seperti keluarga disini.
__ADS_1
" Kangen banget dong, Mbok, " jawabku sambil memeluknya, melepaskan rasa rinduku.
"Ayo kita semua ke dapur lalu makan bersama, " ajaknya kepada semua orang.
Mbok Kasih juga sudah seperti orang tua bagi mama dan papa. Kami menganggapnya bukan sebagai asisten rumah tangga lagi, melainkan keluarga. Tapi Mbok Kasih sendiri yang tidak mau di istimewakan, beliau tetap bekerja seperti tugasnya sejak dulu. Sudah terbiasa katanya.
"Ayo, Mbok, "
"Let's go...! " dengan semangatnya Vero mendahului kami semua menuju ke dapur.
Berbagai macam hidangan tersedia, dan kebanyakan adalah menu kesukaanku. Dari hidangan utama sampai disert nya. Bahkan buah serta minumannya juga merupakan menu favoritku.
"Terimakasih buat semuanya, makasih, makasih... banyak. Vita nggak tau lagi mesti ngomong gimana, kalian yang terbaik, " aku kembali menangis haru.
"Sudahlah, Sayang. Kami semua kan keluarga kamu, jadi tetaplah semangat ya? Kita rawat dan besarkan baby Kava sama-sama, " ucap mama.
"Iya, Mah, "
Disini aku merasa lebih dibutuhkan, lebih dihargai dan lebih disayangi. Sangat berbeda dengan di tempat Adrian, meski ada senyum dari Adrian dan kedua orang tuanya, entah mengapa aku selalu merasa kurang nyaman. Rupanya karena mereka semua tidak tulus terhadapku.
"Mungkin memang hanya disinilah tempatku. Tempat ternyaman ku, "
Kami makan bersama diselingi dengan canda tawa.
Ku tatap wajah mereka satu persatu, wajah-wajh bahagia penuh ketulusan terlihat disana.
Terimakasih, Tuhan...
Atas semua karunia yang Engkau berikan kepadaku.
"Valdi ... "
"Ya, Om? "
"Apa kamu serius? "
"Serius apa? " batinku bertanya.
"Sangat serius, Om, "
__ADS_1
"Bagus. Buktikan! "
"Apasih, Pa?"