Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Sudah Kuduga


__ADS_3

Papi Wijaya dan mami Shinta sudah bertekad akan masuk ke dalam rumah Valdi meski apapun resikonya. Sebab mereka merasa sudah terlalu lama menahan diri untuk dapat bertemu dengan menantu dan juga cucu mereka. Dan kini ada kesempatan di depan mata, apa iya mereka akan menyia-nyiakannya begitu saja? Jawabanya tentu saja tidak.


Pintu mobil mewah itu terbuka, diikuti oleh pintu mobil yang ada di belakangnya juga turut terbuka. Yang ada di dalamnya segera turun, dia berlari untuk mengiringi dan menjaga tuan besar mereka.


"Kalian disini saja! Nanti kalau memang keadaan tidak baik baru aku akan menghubungi kalian. Siapkan saja sebaik mungkin alat komunikasi kalian agar aku tak kepayahan nantinya, " perintah papi Wijaya dengan nada tegas.


"Baik, Tuan Besar. Saya akan siap siaga menunggu di luar sini dengan teman-teman yang lain, " mulutnya berkata siap sedia, tapi dia melirik juga ke belakang sana, karena belum ada pergerakan susulan dari teman-temannya yang lain.


"Ayo, Mih! " papi Wijaya menggenggam tangan istrinya, begitupun mami Shinta yang juga membalas genggaman tangan suaminya.


Keduanya saling bertatapan seolah saling memberikan semangat dan dukungan antara satu sama lainnya agar bisa melewati segala kemungkinan yang akan terjadi di dalam sana nantinya.


Mereka berdua menganggukkan kepala setelah sama-sama merasa siap sebab sudah saling mentransfer energi berupa penyemangat dan dukungan.


"Siap 'kan, Mih? Apapun nanti resikonya, kita akan menghadapinya bersama. Semuanya memang salah kita, jadi kita harus mau meminta maaf kepada besan kita sekeluarga, "


"Iya, Pih. Mami tau kita memang sudah salah selama ini, dan kita harus siap menanggung konsekuensi nya apapun itu. Yang terpenting kita berusaha meminta maaf, dan Mami hanya ingin melihat cucu kita, itu saja dulu untuk sementara waktu ini, " balas mami Shinta.


Papi Wijaya turun dari mobilnya dengan perasaan setengah ragu sebenarnya, karena ia sudah sangat hafal dengan sifat serta sikap dari sahabatnya yang ada di dalam sana. Namun demi dapat bertemu dengan cucunya, ia rela mengesampingkan rasa malu dan keangkuhannya itu barang sebentar saja.


Seseorang yang berada di mobil paling ujung mengernyit, ia heran dan bertanya-tanya kenapa kedua orang tuanya turun disana. Begitu fikirnya. Tapi ia masih tetap enggan untuk ikut turun dan membuntuti mereka karena masih merasa kesal atas kejadian tadi yang menimpanya di rumah sakit.


Ia lebih malu lagi saat mengetahui jika ternyata aksinya itu disiarkan secara live di media sosial. Dan meskipun ia bisa menangkap si pelaku live juga berusaha menghapus video tadi, namun tetap saja videonya sudah terlanjur tersebar luas dan menjadi viral. Lagipun sudah sangat banyak juga orang-orang yang melihatnya.


Aditya yang duduk di mobil yang berada di belakang mobil kedua orangtuanya pun merasa ada yang kurang beres yang akan mami dan papinya itu lakukan di dalam rumah yang berdiri di depan mereka.

__ADS_1


"Rumah siapa itu? Kenapa mami dan papi mau kesana? Jangan-jangan... papi sama mami sadar sama mobil yang papasan sama kita tadi kalau mobil itu milik om Indrawan? " gumam Aditya dalam hati. Ia berusaha melongok kan kepalanya keluar, namun sulit untuk melihat ke dalam halamannya karena posisi mobil yang ia tumpangi berada di belakang mobil papi Wijaya yang berada tepat di depan gerbang.


"Gawat dong berarti, " gumamnya lagi dengan suara.


"Ada apa, Tuan? Apa ada sesuatu yang Anda rasakan? " suara seorang bodyguard yang duduk di samping supir menyadarkan Aditya jika kini dirinya tak sendirian saja di dalam mobil tersebut.


"Nggak papa, Pak. Saya cuma mau tau aja kenapa mami sama papi berhenti dan turun disini, " jawab Aditya mengelak.


"Itu karena mereka ada sedikit urusan dengan pemilik rumah itu, Tuan, "


"Oh, gitu. Terus... kita cuma mau nungguin disini terus gitu sampai papi sama mami kelar? ! Nggak ikut mauk? "


"Emm... eng-gak, Tuan. Kita menunggu disini saja sampai tuan besar menyelesaikan urusannya di dalam sana, "


"Gimana kalo mereka lama? "


"Hmm... " Aditya kembali mengambil ponselnya dan mengoperasikan nya.


Ia kembali menghubungi nomor ponsel namanya berada di paling atas pertanda jika nomor itu adalah nomor yang terakhir di hubungi.


"Div. Bokap nyokap gue lagi jalan masuk kesana. Sekedar waspada aja, takutnya mereka membuat keributan nanti. Sory, gue belum bisa bantu lebih dari ini, kan lo tau sendiri gimana keadaan gue saat ini, "


Bunyi teks pesan yang ditulis oleh Aditya ke nomor Nadiva.


"Semoga aja Diva langsung baca dan nggak akan terjadi keributan apapun nantinya. Moga aja papi sama mami nggak berbuat macem-macem di dalam sana, "

__ADS_1


"Permisi... " pintu rumah yang sudah terbuka itu di ketuk dari luar.


Suara keriuhan canda tawa dari dalam sana mendadak hening. Sepertinya yang ada di dalamnya mendengar suara ketukan itu.


"Biar Valdi yang buka, bentar ya semuanya, "


Valdo sudah akan beranjak dari duduknya, namun papa Indrawan segera menghentikannya.


"Biar Om saja, Di. Om tau siapa yang datang, "


Semua orang tentu saja heran dengan perkataan dari papa Indrawan, darimana beliau tau siapa tamu itu, sedangkan disana mereka tak mengenal siapa-siapa lagi selain Valdi dan para dokter serta suster di rumah sakit milik Valdi tempat di gawatnya Kavita dulu.


"Siapa, Pah? " tanya Mama Indri sembari memegang tangan suaminya yang sudah berdiri dari duduk, bahkan melangkah.


Mama Indri menggeleng, melarang sang suami menemui tamu yang mungkin saja bisa membahayakan kesehatan nya nanti.


"Tenang aja, Ma. Nggak akan terjadi apa-apa sama Papa. Mam tenang saja ya, "


"Yaudah, kalo gitu Mama ikut deh, "


"Vero juga, " Sambas Vero tak mau terjadi sesuatu yang buruk juga terhadap kedua orang tuanya.


"Kalian tunggu saja disini dulu, nanti kalau mendengar sesuatu yang kurang beres, baru kalian susul keluar ya. Yang paling penting saat ini adalah, kalian harus bekerja sama untuk menjaga Kavita dan Kaca agar tetap aman di dalam sini. Kalian berdua jangan pernah kelaur walau apapun yang terjadi, oke? "


Kavita yang tak tau apa-apa pun hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan dari sang ayah. Ia jadi merasa khawatir juga takut ada yang membahayakan di luar sana. Di dekatnya dengan erat baby Kava yang kini masih tertidur lelap di pangkuannya.

__ADS_1


"Tenang aja ya, Sayang.. apapun yang terjadi, Bunda akan selalu menjaga dan melindungi kamu walau harus nyawa Bunda sekalipun yang jadi taruhannya, " gumam Vita tepat disamping telinga putranya.


"Sudah ku duga, pasti kalian mengikuti kami, " tak ada keramah tamahan lagi di wajah papa Indrawan melihat kedua orang di depannya saat ini.


__ADS_2