
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa keadaan Vara yang kemarin masih baik-baik saja sekarang tiba-tiba seperti ini? " marah Valdi pada temannya sesama dokter yang menangani Vara.
"Maaf, Do. Aku juga nggak tau kenapa keadaan Vara jadi drop kayak gini. Aku akan kembali memeriksa dan menanganinya segera, " teman Valdo hanya bisa meminta maaf meski ia pun sebenarnya tak merasa melakukan kesalahan.
"Cepet! Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa sama Vara, abis lo sama gue, " Valdo merasa marah dan sedih sebenarnya karena keadaan Vara, ia melampiaskan perasaan nya itu dengan marah-marah pada temannya.
Dokter Doni hanya menghela nafas mencoba bersabar dengan perkataan Valdo yang sejak tadi ketus kepadanya, sebab ia tak mau terjadi keributan di rumah sakit jika ia ikut terauskut emosi juga.
"Iya-iya, "
Vara kembali diperiksa secara menyeluruh oleh tim dokter, mulai dari cek darah, pengecekan sel kangker, hingga rontgen menyeluruh pun turut kemabli dilaksanakan demi menuruti apa kata Valdo yang uring-uringan sejak Vara tiba-tiba saja muntah-muntah darah dan kembali tak sadarkan diri.
Padahal usai menjalani operasi pengangkatan rahim beberapa bukan yang lalu, keadaan Vara mulai membaik. Wanita itu tak lagi sering mengeluh sakit di area perut ataupun organ disekitarnya seperti pada saat sebelum operasi itu dilakukan.
Wanita itu sudah mulai berjalan-jalan dan menghibur sesama pasien di rumah sakit milik keluarga Valdo tersebut. Ia bahkan juga sudah mulai mendekorasi kamar-kamar perawatan anak-anak disana. Seperti yang selalu ia tunjukkan pada Adrian jika lelaki itu meminta video call.
"Nggak apa-apa kalau emang kamu menikmati pekerjaan itu, tapi ingat jangan sampai kelelahan dan juga selalu rutin minum obat kamu, oke? " ucap Adrian saat Vara ber telepon dengannya.
"Dan kalau ada apa-apa, ingat'kan harus apa? Harus langsung kabarin aku secepatnya," pesan Adrian setiap waktu. Dan Vara pun hanya selalu meng-iyakan nya saja.
Bahkan dengan tanpa sepengetahuan suaminya, wanita itu sudah menyembunyikan suatu hal yang sangat besar. Entah apa yang akan Adrian lakukan jika sampai ia tau kebenaran mengenai Vara.
"Maafin aku, Dri. Aku belum bisa kasih tau ke kalau yang sebenarnya. Aku takut kamu bakalan marah sama aku dan menghentikan sandiwara kita begitu aja kalau kamu udah termakan emosi. Aku sangat tau watak kamu, yang nggak akan peduli pada apapun lagi kalau hati kamu sudah tertutup amarah, " sebenarnya Vara merasa sangat bersalah karena sudah membohongi Adrian seperti saat ini, tapi ia bisa apa jika menurutnya itulah yang terbaik bagi mereka.
Vara selalu mantau perkembangan hubungan antara Adrian dan Kavita melalui salah satu orang kepercayaannya yang ia tugaskan di rumah.
Wanita itu merasa senang karena Adrian sudah bisa mulai menerima kehadiran Kavita dalam kehidupannya, apalagi dengan kehamilan Vita yang sudah mulai terlihat, Adrian terlihat sangat antusias dalam memperhatikan kandungan Kavita.
__ADS_1
Meskipun hatinya juga merasakan sakit, tapi Vara mencoba untuk ikhlas demi kebahagiaan laki-laki yang sangat dicintainya tersebut. Karena Vara merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya meskipun ia sudah menjalani operasi pengangkatan rahim seperti yang dokter sarankan padanya.
Dalam layar tablet nya, Vara melihat Adrian yang sedang memijat kaki Kavita yang diletakkan di paha lelaki itu. Disana terlihat jelas raut bahagia dari pasangan yang terlihat sempurna dengan kehadiran calon buah hati mereka di dalam rahim Kavita.
"Aku turut bahagia dengan kebahagiaan kalian, semoga kalian bisa bahagia selalu seperti itu ya sampai tua nanti. Aku sadar, ajal bisa menjemputku kapan saja. Jadi aku akan berusaha menyatukan kalian agar tak ada yang akan merasa kehilangan aku nantinya, " gumam Vara dengan air mata yang luruh membasahi pipi putihnya.
"Mulai lagi 'kan lo! " seru Valdo yang tiba-tiba datang dan merebut tablet yang ada di pangkuan Vara.
"Balikin, Do! Gue mau liat drakor! " balas Vara berseru marah.
Valdo mendengus, "drakor apa, Vara? Ini yang lo sebut dengan drakor? Hah? "
Tunjuk Valdo pada layar yang masih menampilkan adegan Adrian dan Vita, dengan Adrian yang menciumi perut Kavita dan mengelus nya dengan gemas.
"Itu bukan urusan lo, Do. Balikin! " teriak Vara.
"Disini ada gue, Var. Lo anggep apa gue? " ucap Valdo melemah. Ia sebenarnya merasa lelah karena terus mengharapkan sesuatu yang tak pasti dari Vara. Padahal ia sudah sangat tau jika perasaan cinta Vara tidak akan pernah berpaling dari Adrian. Begitupun dengan perasaan nya yang tak pernah berubah terhadap wanita itu.
"Lo itu saudara terbaik gue, Valdo. Gue sangat bersyukur memiliki saudara sepupu sebaik dan seperhatian elo. Bahkan gue nggak tau gimana nasib gue kalau nggak ada lo, Do, " balas Vara yang semakin menangis tersedu.
"Kalau gue boleh minta, sebenarnya gue juga nggak mau terjebak dalam perasaan cinta sesama kerabat gue sendiri, Var. Tapi gue bisa apa kalau perasaan ini hadir begitu aja di hati gue? " Valdo tertunduk, lelaki itu bersimpuh di lantai samping tempat tidur Vara.
"Lo jangan kayak gitu, Do. Gue yakin suatu saat nanti lo pasti bisa lupain perasaan lo ke gue, Do. Dan lo bisa move on untuk mendapatkan wanita yang lebih baik segala-galanya dari gue, "
"Terutama kalau gue udah nggak ada di dunia ini lagi. Lo harus bisa ngelupain gue, Do, " lanjut Vara di dalam hatinya.
"Please, Var. Sampai waktu itu tiba, tolong perlakuin gue selayaknya kekasih lo, meski itu hanya sebuah sandiwara atau bohongan, seenggaknya gue nggak ngerasa terlalu menjadi lelaki paling menyedihkan sedunia karena masih selalu setia pada cinta sepihak, " ucap Valdo memohon dengan menggenggam tangan Vara dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Melihat air mata kesungguhan Valdo, membuat hati Vara tersentuh. Ia baru sadar jika selama ini ia sudah menyia-nyiakan lelaki sebaik dan setulus Valdo. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena rasa cintanya yang sudah untuk lelaki lain. Apalagi mereka berdua masihlah berkerabat yang belum tentu kedua orang tua mereka akan menyetujui hubungan mereka jika pun Valdo dan Vara saling mencintai.
"Baiklah, Do. Anggap saja semuanya seperti yang lo mau, "
Valdo mengangkat kepalanya dan menatap kedua manik mata Vara, "lo serius, Var? "
Vara mengangguk.
"Thank, Var. Gue akan perlakuin lo sebaik mungkin, " Valdo beranjak dari lantai dan dengan cepat memeluk tubuh kurus Vara yang langsung tenggelam dalam dekapannya.
"Sory, Do. Kalau hanya kepura-puraan yang bisa gue kasih ke elo sebagai balasan semua kebaikan dan perasaan tulus lo selama ini ke gue. Karena gue juga nggak bisa memaksakan hati gue untuk tiba-tiba cinta sama lo, "
"Nggak papa, Var, kalau sementara ini lo cuma bisa bersandiwara seakan nerima gue. Tapi gue akan bikin lo benar-benar nerima gue suatu hari nanti, " tekad Valdo.
Lain di rumah sakit lain pula di kediaman tempat tinggal Adrian dan Kavita. Kedua pasutri itu tengah bercanda dan tertawa bersama seakan tak ada beban yang mereka topang. Seakan dunia hanya milik mereka berdua.
🔥🔥🔥
Mampir juga di novel berjudul
🥀Apa Salahku, Ibu Mertua? 🥀
Udah up sampai bab 30.
Selamat membaca..
Semoga suka🥰
__ADS_1