Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Phobia Aditya


__ADS_3

Di ruangan lain masih pada rumah sakit yang sama dengan yang di tempati oleh Kavita. Seorang pemuda sedang meringis kesakitan saat dokter mengobati lukanya yang menganga, kesadarannya yang tak sepenuhnya hilang justru hanya membuatnya merasakan kesakitan saat dokter akan menjahit luka tersebut.


"Berikan suntikan bius pada pasien, Sus, " titah sang dokter pada suster. Seorang suster mengangguk mengiyakan dan segera mempersiapkan satu dosis obat bius pada suntikan.


"Jangan...! " seru lelaki itu seraya tangannya mengibas-ngibas pada suster yang sudah siap dengan jarum suntik nya dan hampir saja ia suntikkan pada sekitar kaki pemuda itu yang terluka. Padahal matanya saja masih terpejam erat.


"Saya akan menjahit luka, Anda. Jadi suster perlu menyuntikkan obat bius itu di area kaki Anda yang terluka supaya tidak terasa sakit saat saya menjahit nya, " terang dokter tersebut dengan halus memberi pengertian.


"Biar saya berikan suntikan sebentar saja, Mas... " ucap suster turut membantu dokter meyakinkan pasiennya.


"Aditya. Dan ... saya takut jarum suntik, " jawab Aditya seraya memberitahu kelemahannya, lelaki itu memalingkan wajah karena malu.


Dokter dan suster itu tersenyum lembut tanpa bermaksud mengolok, karena setiap orang memang sudah biasa memiliki ketakutannya masing-masing, begitu pula dengan Aditya yang sangat takut dengan jarum suntik. Maka dari itu, setiap sakit dia akan tetap berpura-pura sehat agar tak harus diperiksa kan ke dokter sehingga harus mendapatkan suntikan.


"Kalau Anda tidak bersedia diberi suntikan bius, bagaimana saya bisa menjahit luka Anda? Atau, Anda lebih suka menahan sakit dari banyaknya jarum jahitan daripada satu kalin jarum bius? " tawar dokter Ilham yang saat ini sedang menangani Aditya.


"Apa? Dijahit?" kedua mata Aditya yang semula terpejam kininterbuka lebar karena merasa terkejut dengan perkataan dokter barusak, sepertinya kesadarannya baru saja kembali dengan sempurna.


"Kenapa harus dijahit, Dok? Apa tidak bisa hanya di obati dan perban saja? " ucap Aditya menawar.


Kenapa ia baru bertanya pula, bukankah tadi dokter Ilham sudah memberitahunya, begitu fikir suster Dina.


"Karena luka Anda ini lumayan panjang dan dalam. Jika tidak dijahit terlebih dahulu, proses penyembuhannya akan memakan waktu lebih lama, dan bekas lukanya pun tidak bisa tertutup dengan sempurna. Apa tidak apa-apa? " tanya dokter Ilham.


"Saya sih tidak masalah apapun keputusan Anda. Hanya saja... sebagai dokter saya hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk pasien saya saja. Tetapi jika Anda tidak bersedia, maka saya pun tidak berhak untuk memaksa Anda, " lanjut dokter Ilham lagi.


Aditya terdiam dan berfikir, saking takutnya ia dengan jarum suntik, ia sampai tak merasakan sakit lagi pada kakinya, bahkan ia tak menyadari jika darah masih keluar dari luka tersebut dan suster lainnya masih terus membersihkannya.


"Pasangkan selang infus, Sus. Dan persiapkan kantung darah untuk pasien untuk berjaga-jaga jika pasien sampai kekurangan darah, " suara menginterupsi dokter Ilham kepada para suster membuat kesadarannya kembali.


"Infus itu juga pakai jarum, Dok! " seru Aditya terkejut.


Dokter berusia paruh baya itu menghela nafas, "lalu apa yang harus saya lakukan untuk menolong Anda? Apa saya harus diam saja menyaksikan Anda kehilangan banyak darah yang keluar dari luka Anda? "


"Atau... Anda mau meminum cairan infus itu secara langsung agar tak perlu masuk melalui jarum infus? " tanya dokter Ilham setengah bergurau, agar pasiennya tak terlalu tertekan bahkan harapannya jika pasiennya itu cepat bisa lupa pada rasa takutnya.


Aditya menggeleng samar, ia pun juga merasa heran pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa kuat menahan sakit meski separah itu, sedangkan hanya untuk menahan rasa takutnya terhadap jarum suntik saja ia tidak bisa.


"B-baiklah.. suntik saja, Sus. Saya nggak papa, " ucap Aditya pasrah dengan mata yang ia pejamkan erat dan tubuh yang menegang, hal itu justru membuat lukanya semakin banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


Aditya harus memaksakan diri untuk melawan rasa takutnya hanya karena jarum suntik. Semua itu harus ia lakukan demi wanita yang menjadi pujaannya yang saat ini tengah ia coba untuk perjuangkan.


Dokter Ilham menepuk-nepuk bahu Aditya lembut, ia paham jika tak mudah menghilangkan rasa takut terhadap sesuatu begitu saja, apalagi dalam hitungan menit. Butuh waktu lama untuk melakukannya. Makanya ia berusaha merayu pasiennya dengan perlahan agar lupa dngan jarum suntik.


"Anda datang darimana, Mas Aditya? Atau... Dek Aditya? " dokter Ilham bertanya untuk mengalihkan perhatian Aditya seperti memperlakukan anak kecil yang sedang ketakutan.


"Aditya saja, Dok. Saya dari kota, " jawab Aditya singkat.


Dokter Aditya manggut-manggut, tangannya masih setia mengelus bahu Aditya, "lalu, Anda mau kemana? "


"Mau mencari seseorang, " jawab Aditya tanpa membuka mata.


"Pasti orang itu spesial ya, " goda dokter Ilham sembari tangannya memberi kode pada suster Dina setelah merasa tubuh Aditya sudah kembali rileks. Suster Dina yang paham langsung menyuntikkan obat bius yang sudah ia siapkan tadi.


Terdengar pekikan kecil dari Aditya saat merasakan jarum tersebut menancap di lapisan kulit dan menebus daging kakinya.


"Sudah... tidak apa-apa, " ucap dokter Ilham kembali mengelus pundak Aditya.


"Rencananya, Aditya mau menginap dimana? Apa mau di rumah sakit ini sama saya? "


"Mungkin iya, mau kemana lagi jika keadaan saya malah seperti ini... " balas Aditya yang sudah kembali membuka mata dan menatap langit-langit ruangan IGD tersebut, tapi gilirannya menerawang entah kemana.


Sedangkan suster yang lainnya juga sudah selesai membersihkan luka menganga di kaki Aditya. Dokter Ilham terus mengajak Aditya berbicara bahkan saat ia mulai menjahit luka pada pasiennya itu agar terlupa pada pobhia yang dialaminya.


"Selesai, " gumam dokter Ilham begitu selesai menjahit luka Aditya.


"Selesai, Dok? " Aditya duduk dari posisi tiduranya untuk melihat apa saja yang sudah selesai dokter dan suster kerjakan dan ia dapatkan.


Punggung tangan kirinya sudah tertancap jarum infus. Serta kakinya yang sudah selesai dibalut perban. Membuatnya menyunggingkan senyum.


"Ternyata tak separah itu jarum suntik, semuanya karena membayangkan Kavita, "


Ia teringat kenapa sampai ia bisa terjatuh tergelincir tadi saat dalam perjalanan. Wajah Kavita yang menari-nari di pelupuk matanya dan bayangan ia akan segera bertemu dengan sosok wanita yang diharapkannya itu membuatnya kurang fokus saat berkendara. Makanya tanpa sadar ia terpeleset dan jatuh seperti tadi hingga harus berakhir di rumah sakit sakit tersebut.


Diluar ruangan yang ditempati oleh Aditya, seseorang masih mencoba untuk sedikit lebih bersabar untuk menunggui lelaki itu. Karena ia merasa bertanggungjawab atas seseorang yang sudah ditolong olehnya.


Diva menggerutu sepanjang menunggui Aditya di tangani boleh dokter, karena ia tak bisa menghubungi Kavero yang sudhs entah kemana rimbanya sejak membawa Aditya tadi, lelaki itu langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan kepadanya.


"Kemana sih ni bocah? Nggak bertanggungjawab banget, nolongin orang malah ditinggal gitu aja. Urusan administrasi belum diurus, belum lagi soal data itu bocah (Aditya). Sebenarnya gue juga males sih ngurusin orang itu, tapi gimana lagi.. 'kan nggak tega juga kalau mau ditinggalin di jalanan gitu aja, " Nadiva masih saja mondar-mandir seraya mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


Meski tidak dapat jawaban sama sekali dari Vero, namun entah kenapa tangannya masih saja mau beroperasi menelfon dan mengirimi pesan kepada nomor lelaki yang merupakan adik dari sahabatnya itu.


Tak berapa lama kemudian ruangan IGD terbuka, menampilkan sosok dokter paruh baya yang tadi menangani Aditya.


"Bagaikan keadaan Aditya, Dok? Emm.. maksud saya pasien yang baru saja dokter tangani itu, " tanya Nadiva dengan kepala mencoba melongok ke dalam ruangan.


"Oh, pasien yang bernama Aditya itu? Dia sudhs selesai saya periksa dan saya obati, sekarang dia bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa. Suster akan memindahkannya, Anda bisa mengurus Administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan ke ruangan yang di kehendaki, " terang dokter Ilham.


"Apa Adityaasoh pingsan, Dok? "


Dokternya Ilham menggeleng, "tidak, dia sudhs sadar sejak tadi, "


"Boleh saya melihatnya terlebih dahulu? "


"Boleh, silahkan! Saya permisi... " dokter Ilham mengangguk dan berlalu.


"Iya, Dok. Makasih banyak, Dokter Ilham, " Nadiva baru saja membaca nametag dokter paruh baya tersebut makanya ia berusia memanggil dengan namanya.


"Hmh, sebelum gue urusin administrasi dan yang lainnya, lebih penting gue harus tau dulu buat apa itu orang kemari. Jangan sampai tujuannya untuk mencari Kavita dan melaporkan nya pada si brengsek Adrian itu, " gumam Nadiva sembari membuka pintu IGD dan masuk ke dalamnya.


Wanita itu tersenyum pada dua suster yang masih membereskan alat-alat yang tadi digunakan untuk mengobati Aditya.


"Permisi, Sus.. saya mau ketemu sama pasien sebentar, " ucapnya dengan sopan.


"Silahkan, Mbak! " jawab suster Dina menghentikan aktifitas nya sebntar dan melanjutkan nya lagi.


Aditya yang semula mencari-cari keberadaan barang-barangnya kemudian menoleh saat mendengar suara Nadiva.


"Lo? " tanyanya saat melihat wajah Diva. Mungkin tadi ia tak faham dengan orang yang sudah menolongnya karena kesadaran nya yang sudah hampir menghilang.


"Bagaimana bisa ada wanita itu disini? Bukannya dia sahabat Vita? Berarti... Vita disekitar sini? Mana hapeku, "


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Waduh! Aditya mulai mencium keberadaan Kavita nih...


Maap ya untuk keterlambatan update nya, kesibukan RL menyita waktu, tapi aku tetap sempetin nulis kok buat kalian...


Jangan bosen tunggu kisah Kavita ya, karena dengan dukungan kalianlah yang membuatku terus bersemangat nulisπŸ™πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2