
Cinta memang buta, ia tak memandang status sosial, tak memandang rupa, harta, maupun tahta. Bahkan cinta juga tak bisa dijabarkan dengan logika, mungkin itulah yang membuatku kenapa dulu begitu bodoh selalu mau memaafkan Adrian, serta memberinya kesempatan meski sudah berulang kali ia sakiti.
Apakah dari kalian tidak ada yang pernah berada di posisiku?
Sulit memang menjelaskan kepada orang yang belum pernah merasakan cinta buta seperti yang pernah aku alami. Sebab ini masalah hati.
Dimana kita sangat ingin meninggalkan orang yang sudah menyakiti kita, namun hati kita tak sanggup untuk pergi. Hati kita terus berbisik untuk memaafkan dan selalu mensugesti diri kita jika dirinya akan berubah, jika dirinya akan menjadi lebih baik dan mencintai kita seperti kita mencintai dirinya. Ya, itulah yang aku rasakan saat bersama Adrian dulu.
Setiap kali melihat wajah memelas nya saat meminta maaf, entah kenapa hatiku langsung luluh dan dengan begitu mudahnya memafkan dia. Mungkin jika waktu terakhir aku masih tetap bersamanya kala itu, meskipun Adrian sudah sangat ... sangat keterlaluan, aku masih akan tetap memberinya kesempatan lagi.
Jika kalian pernah merasakannya, pasti kalian akan tau bagaimana rasanya. Karena selain hati kita yang memang begitu sulit untuk pergi, tapi otak kita juga memikirkan orang lain, orang terdekat kita yang pastinya akan kecewa dengan keputusan kita. Sama seperti halnya aku yang takut papa kecewa kala itu.
"Kamu sangat bodoh, Kavita! " kata banyak orang.
"Ya, aku memang sangat bodoh, "
"Kamu begitu naif, menyebalkan! "
"Maaf ... memang beginilah hatiku yang
lemah oleh cinta, "
Namun itu dulu, tidak dengan sekarang.
Untungnya Tuhan sudah memberiku jalan untuk bisa terlepas darinya. Tuhan membuatku tertidur lama agar tak dapat lagi merasakan sakitnya hatiku melihatnya mengacuhkanku. Dan inilah hikmah yang aku dapatkan sekarang, aku bisa dan mampu terlepas darinya. Tentu saja semua itu juga berkat dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarku yang sayang dan perduli padaku. Bukan hanya sekedar ingin memanfaatkan ku saja, dan ingin mengambil keuntungan dariku.
Mulai saat ini, aku akan membatasi diri. Aku akan fokus pada karir dan putraku dulu, untuk masalah asmara, biarlah berjalan seperti aliran air saja. Mengikuti arus, tanpa bisa melawan.
"Semangat Kavita...! " seruku pada diri sendiri.
Aku tak ingin terus terlarut dalam kesedihan. Aku memutuskan untuk melanjutkan impianku yang sempat tertunda, pekerjaan yang sangat aku cintai hingga rela menentang perintah papa.
"Ayo buka lembaran baru, dengan segala sesuatu yang baru! "
Aku melangkah keluar, langsung kudapati wajah tampan putraku yang sudah mulai belajar berceloteh meski belum jelas. Ia juga mulai menegakkan kepala dan tengkurap. Dia begitu pintar, perkembangannya sangat baik. Mungkin karena gen dari kami, serta pelatihan yang setiap hari Valdi berikan padanya.
__ADS_1
Valdi, jika ingat laki-laki itu entah kenapa aku jadi tersenyum dan menggelengkan kepalaku sendiri. Sebenarnya aku sangat heran pada pria itu, kenapa dia seakan seperti orang yang tak punya pekerjaan dengan setiap hari menyempatkan diri untuk berkunjung dan melatih putraku, mengajaknya bermain maksudnya, menggendongnya dan masih banyak lagi yang selalu ia lakukan untuk baby Kava.
Padahal dari yang aku tau, jadwalnya tak pernah senggang di rumah sakit. Apalagi setelah dia mulai mengurus rumah sakit yang ada di kawasan puncak itu, aku merasa dia semakin sibuk saja. Tapi kenapa anehnya dia selalu bisa, selalu sempat untuk menyapa putraku, yang dia bilang putranya juga. Sedangkan yang ayah aslinya saja tak pernah kudengar memanggil baby Kava. Namun itu justru baik untukku, aku tak perlu bersusah payah menyembunyikan anakku darinya.
"Selamat pagi, Princess and Prince ... "
Aku menoleh dengan senyum di wajah saat mendengar suara seseorang menyapa kami.
Keningku mengernyit, semula kukira itu adalah Valdi seperti biasanya, rupanya tamu tak di undang.
"Ngapain lo kesini? Bukannya ngurusin abang lo aja yang aneh bi tempramental kayak gitu," Ucapmu yang tak suka dengan kedatangannya.
"Sewot banget, Buk. Ada tamu bukannya disambut kek, di persilahkan masuk terus di suruh duduk, eh... malah ngomel-ngomel, " balasnya.
"Ih, males banget nyambut lo!"
"Ada apa sih, Vit, pagi-pagi udah ribut aja? " mama keluar dan bertanya padaku, mungkin ia mendengar suaraku yang sedikit kasar dalam menegur seseorang.
Aku hanya menjawab dengan menunjuk seorang lelaki yang cengengesan di tempatnya itu menggunakan daguku.
"Ada perlu apa ya kamu kesini? Bukannya surat dari pengadilan akan diantar oleh pengacara? "
Aku terkekeh saat mendengar mama malah membahas perkara surat cerai ku dengan Adrian.
"Ah, bukan itu, Tan ... Saya mau-,"
"Ngapain lo pagi-pagi udah kesini? Bikin ganggu pemandangan aja! "
Nah kan, Valdi yang baru datang saja langsung sewot dibuatnya.
"Lo juga ngapain jam segini udah sampe disini? "
"Gue udah rutinitas ya... mau liat anak gue, "
"Anak, anak. Kapan lo brojolin dia?! "
__ADS_1
Valdi menghela nafas, ia terlihat melirik jam tangannya sekilas, "tepat empat bulan lebih dua hari dua belas jam plus empat puluh menit yang lalu, dan emang gue yang ngelahirin dia. Kenapa? Nggak terima lo?!"
Deg
Aku mundur beberapa langkah, entah kenapa mendengar penuturan Valdi baru saja rasanya ada yang menghujam hatiku. Bukan karena kata-kata yang menyebutkan bahwa Valdi yang melahirkan putraku. Tapi...,
Apakah itu waktunya saat bayiku itu terlahir ke dunia ini?
Jujur aku tidak tau dan tak ingat sama sekali, aku hanya mengetahuinya lewat data keterangannya saja. Aku pun tak tau bagaimana rasanya, bagaimana wajahnya, bagaimana tangisannya saat pertama kali baru saja melihat dunia.
"Woah, hebat lo, Bro! " lelaki itu terperangah dan menepuk pundak Valdi beberapa kali.
"Kamu kenapa, Vit? " tanya mama sambil memegang bahuku.
Aku menggeleng lemah, "nggak papa, Ma, "
Kedua lelaki itu turut memperhatikanku yang mematung di tempat.
Valdi mendekat ke arahku, "Bun ... are you okay? "
"Valdi... " lirihku.
Mataku menggenang saat tatapan mata kami bertemu, raut wajah Valdi kebingungan, tersirat kekhawatiran di dalam matanya. Tanpa terasa air mataku mengalir di pipi.
"Hey... ada apa? "
Valdi mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
Aku menghambur memeluknya, kusembunyikan wajahku di dadanya dan terisak disana. Entahlah, perasaan ku tak karuan jika mengingat kejadian-kejadian menyakitkan beberapa bulan lalu. Untung saja ada Valdi sebagai malaikat penyelamatku juga baby Kava, kalau tidak aku tak tau lagi apa yang akan terjadi kepada kami.
Mungkin belum tentu jika kami masih bisa menghirup udara segar saat ini.
"Makasih, Di... makasih banyak, " bisikku padanya.
"Tenang hey... buat apa? " meskipun bingung, Valdi tetap mengelus punggungku dengan lembut.
__ADS_1
Sejenak kurasakan kenyamanan disana.