
Senyum mengiringi sepanjang perjalanan pulang Valdi ke rumahnya. Sebab satu babak telah ia lewati, yakni izin dari ayah Kavita untuk dapat mendekati putrinya. Sekarang PR-nya hanyalah tinggal mendekati Kavita dan meyakinkannya wanita itu jika kegagalan berumah tangga bukanlah akhir dari kisah cinta seseorang. Namun, kegagalan ialah hal yang membuat seseorang akan lebih berhati-hati untuk menentukan masa depannya yang selanjutnya. Setidaknya seperti itulah yang ada di dalam pikirannya. Entah itu sejalan dengan pemikiran Kavita atau tidak.
Semangat Valdi semakin membara, sejalan dengan tekadnya untuk memperjuangkan cintanya yang sempat tertunda karena Kavita bersuami. Sekaranglah saat yang tepat bagi dirinya untuk menarik simpati dan memenagkan hati Kavita untuk bisa menempati tahta dalam istana hatinya yang selama ini kosong.
"Kavita... ku harap kamu mau memberikan kesempatan padaku. Setidaknya kita jalani dulu bersama sebelum kamu memutuskannya nanti, " gumamnya seraya memandang foto Kavita yang ada di figura dalam kamarnya. Entahlah jika Kavita mengetahui hal itu akan menganggap Valdi lancang karena mengambil dan memajang fotonya sesuka hati Valdi sendiri tanpa izinnya.
Di sebelah ada foto yang dulu sempat di ambil oleh Vero. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya, Kavita dan juga baby Kava yang seperti sebuah keluarga bahagia. Keluarga yang sempurna dengan adanya kehadiran malaikat kecil diantara mereka.
"Andai aja itu bukan hanya sekedar foto, Vit, " ia terkekeh seorang diri membayangkan jika dirinya benar-benar menjadi suami Kavita dan ayah sambung untuk baby Kava. Maka akan ada banyak cinta dan kebahagiaan yang ia taburkan untuk kedua orang yang sudah mencuri perhatian serta kasih sayangnya tersebut.
__ADS_1
Lama kelamaan Valdi tertidur degan memeluk pigura berisi foto tiga orang itu.
Hari pun berganti, suasana hati Valdi yang sedang gembira membuatnya terus tersenyum sepanjang waktu. Bahkan saat di rumah sakit pun ia menyapa semua orang yang ia temui. Sampai dibuat terheran-heran orang-orang itu akan tingkah polah Valdi yang berlebihan ke-ramah tamah-hannya.
Bagitu pun dengan Kavita yang merasakan bersemangat menjalani hari barunya di butik yang sudah lama ia tinggalkan. Makanya ia sangat merindukan suasana dan tempat itu. Kedatangannya disana disambut dengan air mata keharuan oleh para karyawannya.
"Bu Vita... " seru salah satu karyawannya yang membuat teman-temannya yang lain jadi menoleh ke arah sumber suara dan mencari keberadaan bos mereka.
"Bu Vita... kangen, "
__ADS_1
"Sama... "
Segerombolan orang itu pun berpelukan teletubbies lumayan lama, hingga terdengar suara bel dari luar yang menandakan jika ada pengunjung karena memang sudah jam buka. Hanya saja sepertinya tulisan tanda buka terlupa belum dibalik jadi pelanggan itu baru ingin memastikan apakah toko tersebut sudah buka atau belum, jika sudah dibalik biasanya para pelanggan akan langsung masuk begitu saja.
Nadiva keluar untuk menyambut pelanggan pertama mereka di pagi yang cerah itu. Tak lupa ia memberi kode pada Kavita dan semuanya supaya bersiap di posisi masing-masing. Para karyawan pun menurut, mereka melepaskan diri dari Kavita satu persatu kemudian mengangguk pada atasannya tersebut.
Baru saja Kavita hendak melangkahkan kakinya di tangga yang menuju ke lantai atas, tiba-tiba saja ada sebuah suara yang memanggilnya dari belakang.
"Vit... " Kavita menoleh, kaget melihat siapa tamu yang muncul secara tiba-tiba tersebut.
__ADS_1
menuju ke rumah sakit