Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Pembelaan Kavita


__ADS_3

Diva yang baru saja kembali dari kantin, memasuki ruangan rawat Kavita dengan wajah yang terlihat sembab dan tak bersahabat. Gadis itu membuka dan menutup pintu dengan kasar, lalu masuk kedalam ruangan tersebut dan menabrak lengan Adrian yang jelas memiliki tubuh yang lebih tinggi dan besar darinya.


Meski tak merasakan sakit sama sekali, tapi Adrian tau jika Diva sengaja melakukan hal tersebut karena masih marah padanya.


"Dasar laki-laki brengsek! " Maki Diva dalam hatinya. Ia melihat Adrian degan tatapan nyalang.


"Mana pesenan gue, Kak? " tanya Vero pada yang mengabaikan keberadaan kakak iparnya.


"Nih, " Diva meletakkan dua bungkusan plastik ke atas meja disamping tempat tidur Vita.


Vero mengerutkan kening, "abis ketemu setan apa sih lo, sewot banget, "


Vero mengambil sekotak es krim yang dibeli Diva, lelaki itu membukanya dan menyuapkan es krim tersebut pada sang kakak yang menerimanya dengan senang hati.


Baru saja sendok yang berisi es krim itu akan masuk ke dalam mulut Kavita, Adrian merampas sendok tersebut dengan kasar dan membuangnya ke lantai. Sontak saja hal tersebut kembali menyulut amarah Kavero, dan membuat air mata Vita kembali berlinang.


"Mau lo itu apa sebenernya, hah? "teriak Varo di depan wajah Adrian seraya mencengkeram kerah lelaki itu dengan kuat. Tangan kanannya sudah siap meluncurkan bogem mentah pada kakak ipar nya tersebut.


" Kakak lo itu lagi hamil, bocah! Dia nggak boleh makan es krim, " jawab Adrian santai, tak nampak sedikitpun di wajahnya raut ketakutan akan ancaman pukulan dari Vero yang siap mendarat di wajahnya.


"Iya gue tau kalau kakak gue itu hamil dan lagi ngidam sekarang, gue nggak goblok kayak lo! Yang bisanya hanya buat Kak Vita nangis, demi ngejar cewek lain, " ucap Vero dengan emosi yang semakin meluap.


Adrian memalingkan wajah. Ingin sekali rasanya pria itu meneriakkan jika Vara bukanlah wanita lain, tetapi istri pertamanya. Cinta pertamanya, juga sumber kebahagiaannya. Tentu saja hal itu hanya bisa ia berteriak dalam hati, karena tk ingin membuat Vara kembali kecewa jika ia lepas kendali.


"Udah, Vero. Udah! Kamu jaman kayak gini, Dek, " seru Vita yang menangis dalam pelukan Diva.


Diva sangat mendukung Vero jika memang pemuda itu mau menghajar Adrian hingga babak belur, karena menurutnya Adrian memang sangatlah pentas mendapatkan hal tersebut.


"Jangan kayak gini, Vero sayang. Mami mohon ya, Nak. Dia itu kakak ipar kamu sendiri, Vero, " Mami Sinta sejak tadi juga sudah menangis, ia memegangi tangan Vero yang mencengkeram di kerah Adrian, namun usahanya itu hanya sia-sia saja karena tenaga Vero yang kuat apalagi di tambah dengan amarah yang menguasai dirinya.

__ADS_1


"Aa argghh... " Vero menghempaskan cengkraman nya disertai dengan dorongan yang kuat di dada Adrian hingga lelaki itu terjatuh.


"Adrian... ! " teriak mami Sinta yang langsung membantu anaknya untuk berdiri.


"Vero...! " Vita semakin histeris melihat adik kesayangannya menggila.


Vero menunjuk wajah Adrian yang bumi sempat berdiri, "lo laki-laki brengsek, ba-ingan! yang maunya hanya enaknya aja, giliran kakak gue hamil, ngidam dan lemah, lo malah dengan santainya ngejar cewek lain! "


"Dan gue cuma mau nurutin kakak gue yang lagi ngidam, lo juga berulah lagi. Mau lo apa an-ging?!" Vero melayangkan kakinya, ingin sekali menendang wajah Adrian yang tampak sangat menyebalkan dan menjijikkan baginya.


Wajah yang smaa sekali tidak merasa bersalah dengan segala yang sudah ia lakukan terhadap Vita, kakak kesayangannya.


"Jangan, Vero. jangan! Mami mohon... " Mami Sinta memeluk Adrian yang hanya terdiam, bermaksud melindungi anaknya dari amukan adik menantunya sendiri.


"Apapun masalahnya, bisa kita bicarakan baik-baik 'kan, Nak? " ucap Mami Sinta dengan tangisnya.


"Bicara baik-baik? Tante bilang bisa dibicarakan baik-baik?" seru Vero mengusap rambutnya kasar.


"Dia nggak mau nungguin Kak Vita yang lagi lemah di rumah sakit karena mengandung anaknya. Dia nggak mau nurutin Kak Vita yang lagi ngidam, " ucap Varo.


"Dan yang lebih parahnya lagi, ternyata dia malah sibuk ngejar wanita lain. Bahkan dia dengan terang-terangan membanding-bandingkan antara Kak Vita dengan wanita itu, " Vero mengusap air matanya yang sudah berderai sejak tadi.


Sekuat-kuatnya ia sebagai lelaki, tapi ia juga tidak akan tega melihat orang yang disayanginya merasa sakit hati karena dikhianati.


Mami Sinta mendongak menatap Varo, ia memggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja Vero ungkapkan.


"Dan apa Tante masih akan bilang semuanya bisa dibicarakan baik-baik kalau yang diposisi Adrian itu adalah Kak Vita?"


"Nggak mungkin, Vero. Adrian nggak mungkin kayak gitu, " Mami Sinta terus menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ia menangkup wajah Adrian dan menatap mata putranya, "bilang sama Mami kalau semua yang dikatakan Vero itu tidak benar, Adrian. Iya 'kan, semua itu tidak benar 'kan? "


Adrian melirik kearah lain, tak berani menatap mata sang bunda yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan harapan agar sang putra menjadi anak yang baik dan berbakti.


"Jadi semua itu benar, Adrian?" Mami Sinta menurunkan tangannya, ia meremas dadanya yang terasa dihantam baru besar.


"Semua yang di katakan Vero itu benar? " ucap lirih Mami Sinta.


"Jawab Mami, Adrian! Jawab! " teriakan Mami Sinta mengejutkan semua orang.


Plak..


Terlebih lagi saat tamparan mendarat di wajah Adrian, semua orang menatap tak percaya pada Mami Sinta. Ya, wanita paruh baya itulah yang menampar Adrian akibat dari rasa kecewa yang menyeruak dan menyesakkan dada.


"Mami... " seru Kavita yang berusaha turun dari ranjangnya, namun Diva memeluk dan memegangi nya dengan kuat.


"Vita, lo harus tetap tenang. Oke? biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka dulu, "


"Nggak, Diva. Mami Sinta nggak boleh nyakitin Mas Adrian, " rengek Vita terus berusaha melepaskan diri dari Diva.


"Kak Vita ngapain masih aja belain laki-laki berengsek kayak Dia? " kesal Vero yang turut memeluk kakaknya agar tak memaksakan diri untuk turun dari ranjang, karena dokter mengatakan jika Vita harus bedrest dulu selama beberapa hari kedepan.


"Kamu dengar, Adrian? Bahkan wanita yang sudah kamu lukai hatinya masih saja membelamu. Dia tidak bisa melihatmu disakiti, bahkan oleh ibu kandungnya sendiri, " ucap Mami Sinta pelan.


"Sedangkan kamu, tega-teganya kamu menyakiti hatinya, apalagi disaat dia sedang berjuang demi kesehatan anak kalian, "


Deg.


Adrian merasa ada yang mencubit hatinya, kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh mendengar Kavita begitu membela dirinya saat orang lain begitu marah dan menyalahkannya.

__ADS_1


"Kenapa ada wanita bodoh sepertimu, Vita. Aku bahkan tak mencintaimu. Apa memang cinta membuat orang jadi sangat bodoh sepertimu? " Adrian menggumam dalam hati.


Bersambung..


__ADS_2