Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 10 Galih vs Hesti


__ADS_3

AAI 10 - Galih vs Hesti


Sepeninggal sang istri, Galih beralih menatap ibunya dengan tatapan penuh amarah.


"Puas, Bu? Sudah puas, Ibu menyakiti hati istriku?" Tanya Galih dengan nada suaranya yang penuh dengan emosi. Tapi ia masih berusaha untuk tetap tenang, meski kedua tangannya sudah mengepa kuat.


Hesti yang menyadari jika sang anak malah ikut menyudutkannya seketika ikutan marah. Kepada dirinya lah Galih seharusnya menurut, bukannya kepada wanita yang hanya menjadi istrinya. Sedangkan dia adalah ibunya, wanita yang melahirkan dan membawa Galih ke dunia ini. Jika tanpa adanya Hesti, galih tidak akan ada saat ini.


"Puas? Kamu menyalahkan Ibu, iya?" Bentak Hesti dengan kedua tangannya sudah berkacak pinggang. Kedua matanya menatap sang anak dengan amarahnya karena galih justru melawan dirinya.


Galih yang mendapatkan bentakan dari sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka jika ibunya merupakan seseorang yang kejam, bahkan kepada menantunya sendiri.


"Tidakkah ibu sadar, jika perkataan ibu tadi sangat melukai hati Indah, Bu? Indah itu menantu Ibu. Bukankah ibu harus menyayanginya seperti anak ibu sendiri?" Galih melontarkan pertanyaan kepada Hesti. Bahkan ia sampai berkaca-kaca saat ini karena melihat sendiri bagaimana kelakuan buruk Hesti kepada Indah.


Kemudian Galih menjadi kepikiran tentang bagaimana kehidupan sang istri selama ini jika tak ada dirinya di rumah.

__ADS_1


'Apa kamu selalu mendapatkan perlakuan ini selama disini, Ndah? Apa ibuku yang selama ini membuatmu merasa tak bahagia disini? Kenapa kamu tak cerita padaku, Ndah? Kenapa?' batin Galih yang bertanya-tanya tentang apa yang sudah dialami istrinya selama keduanya menikah. Apalagi melihat sendiri bagaimana hati terang-terangan mengatai Indah di depan matanya sendiri. Namun disaat ia tengah melamun kan semua itu, Galih kembali terkejut saat mendengar perkataan dari ibunya.


"Anak sendiri? Dengar, Galih. Dia bukan anakku, bahkan aku tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai menantuku. Apa kau lupa jika aku tidak merestui pernikahanmu dengan wanita itu dulu, hah?" Beber Hesti dengan kedua bola matanya seakan berkobar menatap sang anak yang kini malah membela wanita yang sejak dulu tak ia sukai.


Galih hanya diam, ucapan Hesti memanglah benar. Sejak Galih mengenalkan Indah untuk pertama kalinya kepada Hesti, Hesti sudah tak setuju. Disamping karena dari keluarga yang sederhana, Indah juga tak memiliki karier yang bagus seperti anaknya. Galih yang merupakan seorang manager di sebuah bank swasta yang ada di kota, justru malah menikah dengan wanita yang tak memiliki pekerjaan yang jelas seperti Indah.


Padahal disaat itu banyak sekali wanita yang berusaha mendekati Galih. Namun laki-laki itu tak pernah menanggapi mereka. Tak sekalipun Galih melirik wanita lain selain Indah - istrinya.


"Tapi aku sangat mencintainya, Bu. Kami saling mencintai. Jika ibu memang tidak menyukai Indah, setidaknya jangan menyakitinya Bu. Lakukanlah demi anakmu ini," ucap Galih dengan suaranya yang melembut. Ia sangat tahu bagaimana watak sang ibu. Hesti merupakan seseorang yang keras kepala. Ia tidak bisa diajak berbicara dengan amarah yang masih memburu, ia harus diajak bicara dengan lembut agar tak semakin memancing amarahnya.


"Tapi wanita yang kau cintai itu mandul, Galih. Dia tidak bisa memberikan mu anak. Apa kau mau hidup bersama wanita seperti itu? Lalu bagaimana dengan ibu, hah? Ibu sangat mengidamkan memiliki seorang cucu," sahut Hesti yang berusaha menyadarkan sang anak betapa tak berguna nya wanita yang menjadi istrinya saat ini. Hesti ingin membuka kedua mata Galih agar tidak buta karena cinta nya itu.


Namun salah, Hesti bukannya lega mendengar hal itu, ia justru semakin dibuat emosi. Hesti yang ingin menyingkirkan Indah dari Galih, justru Galih membawa nama Gita yang saat ini keberadaan nya masih berada di kota Malang demi menempuh pendidikan nya.


"Kalau memang tidak mandul, kenapa sampai sekarang belum memiliki anak, hah? Dia pasti membohongimu, Galih. Lagi, jangan bawa-bawa Gita dalam masalah ini, Galih. Saat ini ibu ingin bicara tentang dirimu dan juga istrimu. Jika kau tak mau menceraikan Indah, kau bisa menjadikan Melinda sebagai istri keduamu." Ujar Hesti menawarkan alternatif lain.

__ADS_1


Jder


Laksana tersambar petir, tubuh Galih seketika membeku. Perkataannya yang lembut barusan nyatanya tak mampu menyadarkan sang ibu. Malah Hesti mengatakan hal omong kosong yang mampu membuat Galih meradang. Kepala galih perlahan menggeleng, ia tak menyangka memiliki ibu sekejam Hesti.


Hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun ini nyatanya tak membuatnya mengenal baik sosok sang ibu. Nyatanya ia tak tahu jika sang ibu mampu mengatakan hal yang menyakitkan itu kepada Indah, bahkan di depan kedua matanya sekalipun.


"Bahkan sampai matipun aku tidak akan mengkhianati istriku, ibu. Apalagi menikah dengan wanita itu. Aku lebih memilih tidak memiliki seorang anak daripada harus memilikinya dari rahim wanita lain." desis Galih dengan kedua tangannya yang sudah mengepal kuat di samping tubuhnya. Kedua matanya menatap tajam kedua mata sang ibu.


"Kau sudah gila, Galih. Semenjak hari kau mengenal wanita itu, kau menjadi gila. Bahkan kau berani melawan ibumu sendiri, hah? Iya? Demi membela wanita itu, kau mau menjadi anak durhaka, Galih?" Bentak Hesti dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk ke arah lantai atas tempat dimana kamar milik Galih dan Indah berada.


"CUKUP, BU. CUKUP," bentak Galih untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Hesti. Meski begitu, Hesti tak goyah sedikitpun. Ia justru semakin membenci wanita menjadi istri dari putranya.


"Sudah cukup, Ibu mengatakan hal itu. Jika memang Ibu tidak bisa menerima Indah, aku akan membawa Indah keluar dari rumah ini. Aku tidak akan membiarkan istriku menderita lebih dalam karena perkataan Ibu," putus Galih pada sang ibu. Ia sudah tak sanggup lagi jika harus hidup satu atap dengan ibunya yang tidak bisa menerima Indah yang telah menjadi istrinya. Galih berbalik, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Hesti yang masih berdiri di tempatnya berdiri.


"Jika kau berani melawan dan keluar dari rumah ini, detik itu juga kau tak lagi menjadi anakku, Galih. Ibu tidak akan mengakui mu lagi sebagai anakku," meski Hesti berteriak, nyatanya tak membuat Galih menoleh ataupun berhenti. Ia terus melangkahkan kakinya menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


'Kurang a jar. Aku harus menghentikan Galih dan wanita itu keluar dari rumah ini. Jika mereka benar-benar keluar dari sini, itu akan lebih menyulitkan ku untuk menekan wanita itu. Aku harus mencari cara lain untuk bisa membuat Galih mau menikahi Melinda,' dengan mengepalkan kedua tangannya, Hesti bergegas pergi menuju kamarnya untuk kembali memikirkan bagaimana ia bertindak kedepannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2