
AAI 79 - Jatuhnya talak
Keesokan harinya,
Pagi hari ini merupakan awal baru yang akan ia jalani setelah selesai menyelesaikan semuanya. Dengan menggunakan setelan formalnya, Galih bergegas meninggalkan apartemen. Hari ini berencana untuk menemui Melinda yang kini masih berada di rumah kedua orang tuanya. Semenjak ia keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu, ibunya menahan dirinya agar tidak kembali ke rumah yang dibelikan oleh Galih.
Tin
Galih membunyikan klakson mobilnya tepat ketika tiba di depan gerbang rumah mewah milik orang tua Melinda. Tak lama kemudian gerbang besar itu terbuka dan Galih pun memasukkan mobilnya.
"Selamat datang, Tuan." Sapa penjaga rumah kepada Galih yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Terimakasih, Pak." Balas Galih dengan senyuman tipisnya.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Galih bergegas menuju rumah utama. Ia memencet bel rumah dan pembantunya lah yang membukakan pintu untuk Galih.
"Selamat datang, Tuan. Silakan masuk," ucap wanita tua itu.
"Terimakasih, Bi." Galih pun dipersilakan Bibi itu di ruang tamu. Galih menunggu kedatangan pemilik rumah dengan perasaan sedikit tegang. Sebenarnya ia enggan datang kesini karena akan bertemu dengan Agus, tapi apa boleh buat. Meski ia ingin menghajar laki-laki itu, tapi sebisa mungkin ia menahan diri. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah milik mertuanya sendiri.
"Galih?" Suara seorang wanita menginterupsi Galih. Laki-laki itu menoleh, ia langsung berdiri dari duduknya menyambut kedatangan mertua serta Melinda. Galih memperlihatkan senyum keterpaksaannya kepada mereka.
"Selamat pagi, Bu, Pak, Mel." Sapa Galih kepada ketiga orang itu. Meski benci, tapi Galih tetap menyalami tangan Agus tanpa mencium punggung tangannya. Sedangkan Melinda dan Santi menyambut kedatangan Galih dengan senyum merekah mereka.
"Pagi, Nak. Silakan duduk," ucap Santi kepada Galih. Tersenyum manis menyambut keatngan menantunya. Ini pertama kalinya Galih mendatangi rumahnya tanpa undangan darinya.
"Terimakasih,"
Keempat orang itu pun duduk disana. Melinda duduk diantara papa dan mamanya. Sedangkan Galih duduk diseberang mereka. Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan membawa empat buah cangkir untuk keempat orang tersebut. Setelah kepergian pelayan itu, Galih mulai mengutarakan maksud tujuannya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya karena tidak memberitahu kalian lebih dulu jika saya akan datang kemari. Kedatangan saya kemari ingin menyelesaikan urusan saya dengan Melinda," ucap Galih to the point. Ia tidak bisa berbasa-basi kepada orang yang tidak disukainya. Maka dari itu ia mengatakan langsung apa yang ingin ia katakan.
Deg
Melinda merasa dirinya seakan terjun dari atas jurang. Jantungnya berhenti berdetak, tentu ia tahu apa maksud dari perkataan dari Galih saat ini. Wanita itu hanya terdiam seraya menautkan kesepuluh jarinya karena gemetar yang dirasakannya.
"U-urusan? Urusan apa ya, Galih? Kau ingin membawa Melinda pulang ke rumahmu?" Tanya Santi. Ia berusaha untuk tetap tenang meski ia merasa was-was dengan maksud kedatangan Galih saat ini. Masalahnya dengan sang suami saja belum selesai, kini bertambah lagi dengan masalah antara Melinda dan Galih.
"Seperti yang kita tahu, Melinda keguguran beberapa waktu lalu. Karena bayi itulah saya menikahinya dulu. Dan karena bayi itu juga saya diikat secara paksa dalam hubungan ini. Sekarang bayi itu sudah tidak ada, jadi saya memutuskan untuk menceraikan Melinda." Ucap Galih tegas. Tak ada ketakutan atau keraguan dalam diri Galih. Ia mantap dengan keputusan yang telah dibuatnya selama beberapa waktu ini. Pernikahannha dengan Melinda bukan berdasarkan cinta, melainkan keterpaksaan. Dan dia tidak bisa menjalin hubungan yang dipaksa oleh orang lain. Ia tidak bisa mencintai wanita lain selain Indah Permatasari.
"Ce-cerai?" Tanya Santi terkejut. Ia tidak menyangka jika anaknya akan berubah status menjadi janda secepat ini.
"Iya, Bu. Jujur saja saya sejak awal tidak pernah menyetujui pernikahan ini. Namun karena desakan dari ibu saya dan juga kehamilan Melinda membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saya juga tahu tentang penjebakan yang dilakukan oleh ibu dan Melinda agar bisa mengikat saya." Jelas Galih. Ia sudah tidak ingin terikat lagi dengan pernikahan bodoh ini. Ia ingin bebas, menata hidupnya kembali yang telah hancur.
Melinda beserta kedua orang tuanya terkejut mendengar ucapan Galih. Meski awalnya pernikahan mereka memang sebuah keterpaksaan, tapi kedua orang tua Melinda menginginkan pernikahan mereka tetap berlanjut.
"Ta-tapi kenapa, Nak? Kalau urusan cinta, cinta akan datang seiring berjalannya waktu." Ucap Agus. Meski ia tidak dianggap keberadaannya di dalam rumahnya sendiri, tapi ia ingin membantu sang putri. Ia juga tak ingin anaknya menjadi janda diusia mudanya.
Galih menggelengkan kepala. Ia tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Agus dan juga Melinda.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya dan anda tidak jauh beda, sama-sama tidak bisa melupakan cinta pertama. Bedanya saya memperjuangkan cinta saya hingga kami menikah, sedangkan anda tidak." Ucap Galih yang seketika membuat Agus terdiam. Ia merasa seperti dipukul tepat di mulutnya sehingga ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ya, memang semua kesalahan berawal darinya. Ia yang tidak mampu memperjuangkan cinta pertamanya hingga membuatnya berselingkuh disaat ia telah menikah dengan Santi.
"Tapi, Mas.."
"Tidak, Mel. Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah bisa mencintaimu. Karena cintaku hanya untuk Indah sampai kapanpun. Percayalah, kau akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Sayangnya, orang itu bukan aku." Ucap Galih.
Melinda menitikkan air mata. Pengorbanannya selama ini tidak membuahkan hasil. Bahkan ia sampai melewati batasan untuk bisa mendapatkan Galih. Nyatanya cinta laki-laki itu tidak bisa ia miliki. Santi yang melihat sang anak menangis hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu bahwa ini adalah karma yang harus diterima oleh Melinda atas apa yang dilakukannya selama ini.
"Apa tidak bisa diperbaiki lagi, Nak?" Tanya Santi.
__ADS_1
"Maaf, tidak bisa Bu. Saya sudah yakin akan keputusan saya." Sahut Galih.
"Baiklah kalau begitu, lakukanlah. Kalian hanya menikah secara agama, kamu cukup jatuhkan talak pada Melinda. Namun sebelum itu semua, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Galih." Ujar Santi. Inilah saatnya ia mengatakan semua apa yang ia pikirkan selama ini. Ia tidak ingin menutupinya lagi agar semuanya selesai.
"Silakan, Bu." Ujar Galih. Untuk terakhir kalinya, ia akan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ibu mertuanya.
"Sebagai seorang Ibu, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang diperbuat Melinda padamu dan juga istrimu. Ibu merasa gagal karena tidak bisa menjaga perilaku Melinda karena telah memisahkan kau dengan cintamu. Maafkan aku, Nak." Ucap Santi dengan setitik air matanya yang mengalir di pipinya. Ia menangkupkan kedua tangannya kepada Galih memohon ampun kepada Galih. Ia sangat malu dengan semua permasalahan yang tengah menimpa keluarganya.
"Tidak, Bu. Jangan seperti ini," ucap Galih. Meski kesal ia juga tidak bisa menyalahkan ibu mertuanya atas perbuatan yang dilakukan oleh Melinda.
"Dan sebagai seorang istri, aku juga ingin meminta maaf kepadamu atas apa yang dilakukan oleh suamiku. Sejak awal aku sebenarnya tahu jika suamiku pernah mempunyai hubungan dengan ibumu. Tapi aku tidak menyangka jika mereka melanjutkan kisah mereka hingga sejauh ini. Maaf, Nak. karena kesalahannya membuat kau harus kehilangan ayahmu. Aku tahu kalau kau sangat ingin memenjarakannya, tapi percayalah aku yang akan memberinya hukuman setimpal selain di dalam penjara." Ucap Santi. Mengingat kesalahan Agus, Santi tidak bisa memaafkannya dengan mudah. Sudah sekian kali Agus menyakiti dirinya baik lahir atau batin. Oleh karena itu, Santi harus mengambil keputusan berat. Selain itu keputusan ini sudah ia pertimbangkan selama beberapa hari terakhir ini dengan matang. Galih, Agus, dan Melinda menatap ke arah Santi. Ketiganya terkejut mendengar ucapan dari Santi. Melihat pandangan Galih, membuat Santi mengangguk kecil.
"Aku akan menggugat cerai Agus. Ia akan keluar dari rumah ini tanpa membawa uang sepeserpun. Apalagi mengingat semua yang kami miliki ini merupakan peninggalan dari kedua orang tuaku dulu. Dan saat ini prosesnya sudah dimulai," tambah Santi. Agus terkejut,.ia tidak menyangka jika istrinya benar-benar akan menggugat cerai dirinya. Padahal ia sudah bersujud dikaki Santi, tapi wanita itu tetap teguh pada pendiriannya. Tidak ada kata maaf untuk dirinya.
Seketika hening, tidak ada satupun dari mereka yang mengemukakan pendapat. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sudah, Galih. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Sekarang, terserahmu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukungmu." Ucap Santi. Meski Melinda adalah putrinya, tapi ia tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh Melinda. Ia memihak pada Galih karena laki-laki itu yang menjadi korbannya selama ini.
"Terimakasih, Bu." Ucap Galih tulus. Ia salut, Santi tidak memihak kepada Melinda. Galih cukup terkesan dengan Santi yang memihak pada kebenaran. Andai saja ia memiliki ibu seperti Santi, ia pasti akan bahagia. Tidak seperti Hesti yang dibutakan oleh cinta palsunya.
Galih beranjak, ia berdiri dari duduknya. Ia menghela napas sebelum ia benar-benar menjatuhkan talak kepada Melinda.
"Bismillahirrahmanirrahim. Melinda Dewanto, saya menjatuhkan talak kepadamu. Mulai detik ini kamu bukan lagi istriku, dan pernikahan kita telah selesai." Suara tegas Galih menggema di dalam rumah megah itu. Setitik air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Kini ia bisa bernapas lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari Bubungan paksa yang tidak pernah ia inginkan itu. Sedangkan Melinda? Wanita itu terdengar menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.
'Alhamdulillah, meski ini perbuatan yang kau benci, tapi hamba tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ya Allah. Hamba tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak hamba cintai. Hamba mohon maaf jika perpisahan ini harus terjadi,' batin Galih. Suasana kembali hening, meratapi semua masalah yang dihadapi oleh masing-masing.
"Untuk rumah yang ditinggali oleh Melinda, saya memberikannya sebagai bentuk tanggung jawab saya saat Melinda menjadi istri saya." ucap Galih.
"Jangan, Nak. Jangan begitu, saya sebagai orang tua tidak bisa menerima rumah itu. Berikan saja rumah itu kepada orang yang kau anggap pantas menerimanya, karena Melinda tidak pantas menerima semua itu. Bukan karena kami sudah memiliki semuanya, tapi apa yang dilakukan oleh Agus dan Melinda tidak bisa dimaafkan begitu saja. Tolong, jangan Nak." sahut Santi. Ia sudah tidak punya muka lagi un6menatap laki-laki sebaik Galih. Betapa malangnya ia tidak bisa memiliki menantu seperti Galih. Laki-laki itu sangat baik, sampai Santi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menunduk malu.
__ADS_1
Galih pun tidak bisa memaksa lagi, karena pihak keluarga menolak maka ia tidak akan memaksa. Ia akan memikirkan tentang rumah itu lain kali saja. Ia akan menata hidupnya kembali setelah semua ini selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...