Aku Atau Ibumu

Aku Atau Ibumu
AAI 76 - Saingan Baru


__ADS_3

AAI 76 - Saingan Baru


Semenjak kejadian itu, hubungan Galih dan Hesti semakin renggang. Bahkan sekedar menanyakan kabarnya melalui Gita pun tidak. Galih benar-benar sudah angkat tangan tidak ingin terlibat sedikitpun dengan sang ibu. Namun meski begitu hubungannya dengan sang adik masih tetap saja. Keduanya masih selalu saling berkomunikasi dan bertemu sesekali.


Berbeda halnya dengan Gita, gadis itu justru mulai merasakan ketidaknyamanan saat beberapa orang yang ada di kampusnya mulai membicarakan asal usulnya. Seperti saat ini, kala ia tengah berada di kantin dengan sahabatnya yang bernama Lia. Aprilia Mahadevi.


"Eh, dengar-dengar tuh anak ternyata anak haram. Kalian udah pada tau belum?" Ucap salah seorang dari kumpulan para gadis yang tengah duduk di sebuah meja yang ada di sana. Gadis itu mengatakan hal tersebut saat Gita dan Lia baru datang dan kebetulan duduk di kursi yang tak jauh dari meja mereka.


"Itu beneran ya? Ku kira hanya berita hoax. Lalu siapa ayahnya? Bukannya ibunya itu janda ya, ditinggal mati suaminya?" Tanya salah satu temannya.


"Bener lah. Aku tahu dari ibuku. Dia melihat sendiri saat terjadi perang dunia di rumah gadis itu beberapa waktu yang lalu. Dan berita ini dijamin seratus persen benar. O iya, kau tahu ayahnya dia itu ternyata ayah dari istri muda kakaknya. Bayangkan saja berapa lama ibunya itu selingkuh dengan laki-laki itu? Pasti ayahnya sakit hati jika mengetahuinya." Balas gadis berbaju putih itu. Terlihat jelas jika raut wajahnya tidak menyukai Gita. Apalagi tatapan matanya yang selalu sinis ketika Gita berada di sekitarnya.


"Astaga, ibunya benar-benar tidak tahu diri. Dia tega menghianati suaminya sampai memiliki anak dengan pria lain? Oh my God, kalau aku jadi dia, aku pasti sudah mengakhiri hidupku karena malu dengan kenyataan itu." Sahut temannya berbaju biru. Bahkan terdengar gelak tawa yang seakan menertawakan hidup Gita yang sangat memalukan. Hidup dari hubungan gelap ibu dan laki-laki yang bukan suaminya membuat Gita sulit diterima oleh masyarakat Indonesia. Yang selalu mengedepankan adat ketimuran dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia.


Sedangkan Gita yang tidak bisa mengubah hidupnya hanya bisa menutup kedua telinganya sendiri daripada harus merasakan sakit hati karena ucapan mereka. Anak haram? Sehina itulah dirinya hingga ia menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa yang ada di kampusnya. Ia tahu inilah konsekuensi yang harus diterimanya jika milih melanjutkan hidupnya setelah asal usulnya tersebar luas. Gita mempertebal iman dan mentalnya agar tidak mudah tumbang karena hinaan dan cacian yang diterimanya dari khalayak ramai.


Lia yang duduk disampingnya mengepalkan kedua tangannya, lalu ia langsung beranjak dari duduknya dan ingin menghampiri meja para gadis itu. Namun, belum sempat ia melangkah, Gita lebih dulu menahannya. Gia menggelengkan kepala, memberi kode pada Lia agar tidak melakukan hal bodoh yang nantinya bisa membahayakan pendidikan mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak, lepaskan aku, Gita. Aku akan memberi mereka pelajaran. Sepertinya mereka sudah mulai bosan hidup," bisik Lia seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Gita pada pergelangan tangannya.


"Jangan, Li. Biarkan saja mereka bicara sepuas mereka. Kita tidak bisa membungkam mulut mereka dengan kedua tangan kita kan? Maka dari itu, lebih baik kita hiraukan saja perkataan mereka dengan menutup telinga kita saja, hm?" Ucap Gita dengan seutas senyum. Meski di dalam dirinya terasa seperti disayat pisau mendengar hinaan dari teman-teman sekampusnya, tapi Gita tidak mungkin memperlihatkannya pada sahabatnya itu.


"Astaga, apa katamu Git? Biarkan saja? Rasanya aku ingin membungkam mulut mereka dengan tumit kakiku biar tidak bisa lagi berkata buruk tentangmu." Ucap Lia dengan sebuah dengusan di akhir kalimatnya. Gita yang mendengarnya langsung tertawa renyah lalu menarik tangan Lia untuk memintanya duduk kembali. Lia yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya menurut dan duduk lagi di samping Gita.


"Sudah-sudah. Jangan dipikirkan lagi, ayo kita kembali ke kelas. Dari pada disini, lama-lama membuat kepalamu perlahan-lahan muncul asap hitam karena kebakaran yang ada di dalam otak kecilmu itu." Ujar Gita seraya sedikit memberi sentilan di kepala Lia. Lia yang mendapat perlakuan itu hanya bisa mencebik kesal.


"Ih, kau ini. Ya sudah, lagi pula baksoku juga udah tandas. Ayo, kita pergi." Ajak Lia. Akhirnya kedua gadis itu beranjak dan mulai pergi meninggalkan area kantin yang sudah tidak nyaman ditempati.


"Lihatlah mereka. Apalagi si Gita, masih punya muka tuh anak. Tidak goyah sama sekali meski kita menjelek-jelekkan dia," ucap gadis berbaju putih. Ia memiliki dendam tersendiri pada Gita. Pasalnya semenjak kepindahan Gita di kampus itu, posisinya sebagai gadis tercantik di kampus terancam tergeserkan karenanya. Banyak sekali mahasiswa laki-laki yang berusaha menarik perhatian Gita daripada padanya. Padahal sebelum Gita datang, dirinyalah pusat perhatian para laki-laki tampan disana. Oleh karena itu, gadis itu berusaha menghancurkan citra Gita.


Sonia Natalie Holland. Ratu kecantikan di kampus UNS Surabaya. Ia menyandang status itu semenjak kehadirannya di kampus itu. Menjadi ratu dari sekian mahasiswi disana membuat Sonia menjadi besar kepala. Apalagi dirinya merupakan putri seorang rektor kampus, membuat ia merasa dirinyalah gadis nomor satu di sana.


Drrrtt


Ponsel Gita bergetar, dengan cepat gadis itu mengangkat panggilan masuk tersebut. Karena tidak ingin menganggu jalannya proses belajar mengajar di dalam kelas, gadis itu meminta ijin kepada dosen yang tengah mengajar.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum, Mas? Ada apa?" Tanya Gita saat dirinya sudah sampai di dalam bilik toilet wanita. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengunci pintu bilik toilet yang didalamnya ada Gita dengan cara memasukkan gagang sapu pada gagang pintu itu.


'Rasakan ini, Gita. Semenjak kedatanganmu membuat perhatian semua orang tertuju padamu. Dan aku tidak menyukainya,' batin gadis itu. Seringaian nya muncul setelah ia berhasil mengunci Gita di dalam sana. Setelah itu ia cepat-cepat pergi meninggalkan toilet tersebut dan kembali ke kelasnya.


"Baiklah, Mas. Nanti sepulang dari kampus, aku akan ke apartemen. Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, assalamualaikum." Setelah mendengar jawaban dari sang kakak, Gita memutus sambungan telepon tersebut. Ia merasa bahagia mendengar kabar promosi yang diterima Galih di kantornya. Tanpa ia ketahui saat ini dirinyalah yang tengah mengalami kemalangan saat sang kakak tengah bersuka cita.


"Terimakasih, Ya Allah. Dibalik semua kejadian yang menimpa keluarga kami, masih ada kebahagiaan untuk Mas Galih. Aku sangat bangga memiliki kakak seperti Mas Galih. Terimakasih, Ya Allah. Terimakasih," ucap Gita yang berdoa kepada Tuhan. Ia merasa bahagia untuk sang kakak meski dirinya sendiri tidak beruntung seperti dirinya.


Setelah itu, Gita bergegas pergi meninggalkan tempat itu karena urusannya telah selesai. Namun, saat ia ingin membuka pintu, justru pintunya tidak bisa di buka. Ia terkejut, gadis itu mulai merasa ketakutan.


Dok


Dok


Dok


"Tolong! Tolong saya! Tolong!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2