
AAI 65 - Hesti siuman
Di dalam kamar inap Hesti.
Galih, Gita, dan Melinda terlihat saling diam. Tak ada dari mereka yang ingin memulai percakapan.
'Apa yang harus aku lakukan? Jika aku keluar dari sini, aku akan dicap sebagai menantu yang tak tahu diri karena pergi disaat mertuanya jatuh sakit. Tapi kalau aku tetap di sini? Bagaimana jika Ibu bangun dan langsung meneriaki ku? Oh, Tuhan. Tolong aku,' ujar Melinda dalam hati. Ia duduk di sebelah kiri Gita sedangkan Galih berada di sisi kanannya.
'Kenapa aku merasa di sini sangat tidak nyaman?' batin Gita yang merasa nyaman dengan posisinya. Ia melirik kanan dan kirinya yang sama-sama saling diam.
Sedangkan Galih? Ia memilih sibuk dengan pekerjaannya. Ia sengaja membawa laptopnya karena ingin menyelesaikan pekerjaannya sambil menunggui Ibunya.
Wajah Melinda terlihat sangat gelisah. Berkali-kali ia melirik jam dinding melihat sudah berapa lama ia di ruangan luas yang terasa sangat sempit itu. Kedua telapak tangannya berkeringat, meski suhu ruangan terasa dingin.
"Em, Mas? Aku pulang dulu, ya. A-aku merasa sedikit lelah," ucap Melinda memecah keheningan. Gita menoleh, ia baru ingat kalau kakak iparnya itu tengah hamil.
"Apa Mbak baik-baik saja? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Tanya Gita. Meski ia tak suka dengan Melinda, tapi ia peduli dengan janin yang ada di dalam kandungannya. Sedangkan Galih? Laki-laki itu tampak acuh dan tetap fokus pada layar laptopnya.
"Tidak, tidak perlu Git. Aku hanya ingin istirahat saja." Dalih Melinda. Ia hanya ingin tidak mau sampai Hesti melihat dirinya. Namun sayang, angan-angannya yang ingin pergi dari sana tidak terealisasi karena Hesti menunjukkan kesadarannya.
__ADS_1
Eugh
Suara lenguhan wanita tua itu menginterupsi ketiga orang yang ada di sana. Galih, Gita, dan Melinda menunjukkan reaksi wajah yang berbeda-beda. Galih menunjukkan wajah datarnya, Gita dengan wajah khawatirnya, sedangkan Melinda menunjukkan wajah ketakutannya.
'Aduh, mati aku.'
Pandangan mata Hesti terlihat kabur. Berkali-kali ia mengedipkan mata berusaha melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya. Hingga saat pandangannya terhenti di sosok Melinda, wanita itu langsung naik pitam.
"HEY, KAU. DASAR PEREMPUAN LAKNAT, UNTUK APA KAU ADA DI DINI, HAH? pekik Hesti dengan kedua matanya yang terbuka lebar, seakan ingin keluar dari tempatnya. Ia sangat geram melihat keberadaan Melinda yang sangat dibencinya. Mengingat bagaimana penghianatan yang dilakukan oleh Melinda membuat darah Hesti mendidih.
Gita dan Melinda sampai terlonjak mendengar teriakan dari Hesti. Apalagi Melina, jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat wajah murka sang ibu mertua saat ini. Nyalinya menciut, rasanya bagai diambang Kematian mendapatkan perlakuan itu dari ibu Galih. Sedangkan Galih? Laki-laki mengeryitkan dahi, ia merasa penasaran dengan situasi yang saat ini terjadi di depan matanya sendiri.
"Wanita itu, Gita. Wanita yang dinikahi oleh kakakmu itu ternyata bukanlah wanita yang baik-baik. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia bermain gila dengan kakak sepupuku." Bentak Hesti yang seketika membuat Gita menutup mulutnya karena terkejut. Ia tidak menyangka jika Melinda bisa melakukan itu kepada keluarganya. Gita mengalihkan pandangannya, ia menatap wajah Melinda seakan meminta penjelasan darinya.
"Kakak sepupu? Mas Dimas? A-apa itu benar, Mbak?" Tanya Gita beralih pada Melinda. Sedangkan Galih yang berada di belakangnya terlihat tersenyum tipis meski hanya sekilas saja.
'Akhirnya ibu tahu sendiri bagaimana murahnya wanita itu. Bahkan harga dirinya lebih murah dari harga sepasang sandal mely yang ada di pasaran. Dulu aja saat aku memperlihatkan foto-foto dirinya bersama laki-laki lain ibu selalu menyangkalnya. Itulah yang sebenarnya, Bu. Wanita yang ibu agung-agungkan selama ini tidak lebih berharga dari seonggok sampah yang ada di bantaran sungai brantas.' ucap Galih dalam hati. Ia merasa sedikit lega karena akhirnya kebusukan Melinda terkuak tanpa dirinya bertindak. Meski kebenaran terungkap belakangan, setidaknya ibunya itu kini bisa membuat matanya lebar-lebar melihat apa yang ada di balik wajah cantik Melinda.
"Ti-tidak, Ibu. Itu tidak benar, Mas jangan percaya sama ibu. Aku sempat menolak, Dimas lah yang memaksaku untuk melayani naf su be jatnya. Percayalah padaku, Mas." Pinta Melinda dengan berderai air mata. Ia mengiba bahkan sampai berlutut di depan ranjang Hesti, melupakan harga diri yang selama ini ia junjung dan agungkan.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Melinda seketika membuat Hesti makin naik pitam. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan diri agar tidak turun dari ranjang dan menghajar Melinda. Lagi pula wanita itu tengah hamil.
"Dasar, wanita murahan. Mulutmu berkata tidak, tapi kedua mataku melihat jelas bagaimana kau menikmati permainan kalian. Kau percaya pada ibumu kan, Galih? Demi Tuhan, ibu tidak membohongimu," dengan mengangkat kedua jarinya ke atas, Hesti bicara supaya ia bisa membuat percaya putranya. Ia semakin dibuat geram kala Galih tak kunjung memberikan jawabannya. laki-laki itu diam seribu bahasa, ia sudah tidak peduli lagi dengan semuanya semenjak perpisahannya dengan sang istri.
"Kalau Ibu sudah tidak apa-apa, aku akan pergi dulu. Pekerjaanku banyak di kantor," ujar Galih seraya menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Ketiga wanita yang ada di sana terheran-heran dengan sikap Galih.
Laki-laki itu kini menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Galih menjadi dingin dan tak tersentuh oleh wanita lain. Tak ada senyuman atau kehangatan yang ditunjukkan olehnya kepada orang lain kecuali kepada sang adik. Jika bersama dengan Gita, Galih masih bisa bersikap baik dan hangat meski masih terkesan sedikit dingin.
"Galih? Apa maksud mu? Kau sudah tidak peduli dengan ibumu, iya?'' tanya Hesti tak terima diabaikan oleh putranya sendiri. Langkah Galih berhenti, ia menoleh ke arah ibunya lagi.
"Apa ibu tidak sadar, siapa yang membuat Galih menjadi seperti ini hm? Inilah akibat dari semua perbuatan ibu padaku dan Indah." jawab Galih. Hesti terdiam, ada sedikit kekecewaan di diri Hesti karena telah memilih wanita yang salah untuk menjadi istri Galih. Ia menoleh ke arah Melinda, melihat perutnya yang kini sudah besar membuat Hesti berpikir sesuatu.
''Cukup, Galih. Jangan bawa-bawa nama wanita itu di sini. Dan untuk kau, Melinda. Aku jadi yakin jika anak yang di dalam kandunganmu itu bukanlah anak Galih," tuduh Hesti. Mengingat perilaku tak bermoral Melinda membuat Hesti curiga. Pasti tidak hanya satu orang yang tidur dengan Melinda.
deg
Sedangkan Melinda dibuat tak berkutik. tubuhnya gemetar ketakutan karena Hesti yang mulai mencurigainya. Ia kebingungan mencari sebuah alasan agar bisa membuat Hesti bisa kembali percaya padanya.
"Tidak, Bu. Ini anak Mas Galih. Aku berani bersumpah, ini anak Mas Galih.'' teriak Melinda meminta kepercayaan semua orang. Ia tidak ingin sampai diceraikan oleh Galih karena ia sangat mencintainya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...